Balairung dan Berita Pemerkosaan

Screen Shot 2018-11-08 at 03.26.56

*Untuk teman-teman yang mengecam berita BPPM Balairung UGM tentang kasus pemerkosaan*

Admin twitter AJI Surabaya menyebut berita Balairung sebagai “koplak”, dan, sambil mengutip kode etik jurnalistik, “tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi”. Sementara beberapa komentar lain menyebut bahwa berita Balairung mirip cerita porno stensilan yang “menjadikan duka korban sebagai sumber jualan klik”, “pembaca tidak mau tahu soal cerita bagaimana korban diperkosa”. Balairung juga disebut sebagai “media berotak dangkal” dan “aktivis yang sok heroik”.

Balairung sudah memberikan tanggapan berbagai tuduhan itu dengan sangat baik. Tanggapan itu memperkuat berita tentang pemerkosaan yang merupakan salah satu karya jurnalistik terbaik (tidak hanya pers mahasiswa tetapi juga di media arus utama) yang saya baca tahun ini. Bravo buat Balairung.

Continue reading

Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading

La la la la la Leeds

WhatsApp Image 2018-06-25 at 02.50.48

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. ‘Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…”

Jus jeruk, coklat, susu, air putih, dan sepatu melayang di udara lapangan Millenium Square, Leeds. Menit 62, Inggris sudah unggul 6-0 dari Panama, suporter Inggris yang berada di sebelah kiri layar sudah tidak fokus menonton. Mereka berdiri, bernyanyi dan menari. Suar berwarna biru sudah dinyalakan. Polisi mulai mendekat dan bikin barikade, satu polisi merekam kerumunan dengan kamera. Tidak ada kerusuhan, hanya ratusan suporter yang merayakan kemenangan Inggris.

Dari kerumunan yang menari dan bernyanyi, sebagian besar wajah anak-anak muda. Mungkin seusia anak-anak SMP atau SMA. Inggris beruntung, tim nasionalnya hampir selalu tampil mengecewakan di turnamen-turnamen besar tapi mereka punya fans fanatik. Sama seperti timnas Indonesia. Kalaupun mereka masih lama tampil mengecewakan, setidaknya anak-anak muda ini sudah mulai menunjukkan fanatismenya. Dimulai dari keyakinan bahwa Inggris adalah negeri penemu sepakbola modern. Continue reading