Imperialisme Budaya di Televisi

buku bang ade

  • Judul              : Televisi Indonesia di Bawah Kapitalisme Global
  • Penulis           : Ade Armando
  • Penerbit          : Penerbit Buku Kompas
  • Terbit              : 2016
  • Tebal               : xvi + 288 halaman

Buku yang diangkat dari disertasi Ade Armando ini menjadi sumbangan penting dalam khazanah kajian ekonomi politik media di Indonesia. Melacak akar ruwetnya sistem penyiaran dan membanjirnya tayangan impor di televisi.

Menurut Ade Armando, dosen Universitas Indonesia dan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia periode pertama, televisi telah membantu Indonesia menjadi “pasar yang ramah” bagi produk-produk transnasional sebagai konsekuensi globalisasi ekonomi. “Pasar yang ramah” ini tidak hanya melalui iklan dan tayangan-tayangan impor yang pelan-pelan mendominasi wajah televisi, tetapi juga infrastruktur televisi.

Maka Anda tak perlu heran jika belakangan ini demam tayangan Turki mewarnai televisi, belum lama sebelumnya pernah muncul demam tayangan-tayangan Asia Timur, India, atau jauh sebelumnya Amerika Serikat. Apa yang ironis dari kondisi ini bukan ihwal sentimen nasionalisme atau anti asing. Problem yang kemudian muncul lebih karena dalam lanskap industri televisi (dan media secara umum) Indonesia kemudian hanya menjadi konsumen dalam pasar global bagi industri hiburan, alih-alih produsen, di negeri sendiri.
Continue reading

Terorisme, Media Sosial, dan Kita

Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda (2008), Manuel Soriano dengan mengutip Marshall McLuhan bilang bahwa “without communication terrorism would not exist”. Inti argumennya sederhana: perkembangan teknologi media telah membuat para kerja para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif.

Soriano mula-mula melakukan analisis atas serangan teroris di Amerika Serikat 11 September 2001. Dari sana ia melakukan analisis bahwa pelaku teror sudah memperhitungkan dengan cermat bahwa lokasi yang akan disasar merupakan tempat strategis bagi liputan media. Tidak hanya bagi media-media besar, tetapi juga bagi orang-orang biasa baik turis maupun penduduk lokal yang bisa mendokumentasikan aksi-aksi tersebut. Tentu saja dengan gambar-gambar dan video yang sensasional, dramatis, dan terutama: penuh cerita personal.

Ihwal personalisasi ini menjadi penting karena dalam kondisi di mana lokasi sangat strategis untuk pemberitaan, media-media akan berusaha tidak melihat dari sudut pandang yang sama seperti jumlah korban, pelaku teror, dan sebagainya. Setelah fakta-fakta keras itu didapatkan, media akan fokus untuk menggali cerita-cerita personal dan membuat cerita menjadi lebih terasa “dekat” bagi publik.
Continue reading

Beberapa hal yang saya saksikan di jalanan Jakarta 2015

Perempatan di Jakarta yang paling sering saya tahun 2015.
Perempatan jalan di Jakarta yang paling sering saya lihat tahun 2015.

Kira-kira sudah satu setengah tahun saya di Jakarta. Ada banyak peristiwa yang saya saksikan di jalanan kota ini. Sebagian di antaranya mengonfirmasi pandangan saya tentang Jakarta, kota yang tidak dikehendaki oleh banyak orang, namun pada akhirnya harus didatangi. Sejak membaca bukunya Seno, Affair dan Tiada Ojek di Paris, saya jadi tertarik untuk melihat hal-hal kecil yang saya alami atau lihat. Dalam beberapa tulisannya, Seno memperhatikan hal-hal seperti bajing yang meloncat di kabel listrik, kembalian ongkos tol 2.500,  sampai tukang ojek.

Konon dari hal-hal kecil kita bisa melihat sistem sosial budaya semacam apa yang sedang berjalan. Salah satu kebiasaan saya, ketika melihat atau menyaksikan sesuatu yang aneh (atau malah kadang biasa saja tapi menurut saya menarik), saya menuliskan sekenanya di akun media sosial. Kadang di Facebook, Twitter, juga Path. Sebagian di antaranya saya tampilkan lagi di blog ini:
Continue reading

Buku-Buku yang Saya Baca Tahun 2015

Buku Yang Kubacaa

Seperti tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, buku yang saya beli tahun ini lebih banyak dari buku yang saya baca. Ada banyak buku yang sampai sekarang masih bersih karena belum saya baca sampai selesai. Beberapa masih terbungkus plastik. Bahkan sering saya lupa apakah sudah membeli sebuah buku atau belum ketika jalan-jalan ke toko buku. Yang pasti, tahun ini saya lebih banyak membeli buku-buku lawas di toko buku daring yang begitu banyak di Facebook.

Ada sekitar 80-90 buku yang saya baca tahun 2015. Lebih dari setengah dari jumlah tersebut adalah buku-buku tentang kajian media dan komunikasi. Tentu saja tema yang saya minati, selain karena tuntutan pekerjaan. Tema-tema lain jelas sastra, sepakbola, politik, sejarah, agama, juga biografi. Tapi dari jumlah tersebut tidak saya baca sampai tuntas, ada yang saya baca sampai habis, ada yang saya baca hanya sampai separuh halaman, ada juga yang saya baca secara sekilas karena merasa kecele dengan isi buku. Jadi kalau diperas, ada sekitar 50 buku yang saya baca tuntas. Berarti rata-rata 2 buku per bulan.
Continue reading

Pers Mahasiswa, Nasibmu Kini

Pemberedelan pers mahasiswa Lentera di Salatiga menyisakan banyak hal yang menarik untuk didiskusikan. Pertama tentang isu 1965 yang diangkat oleh Lentera. Kedua, tentang eksistensi pers mahasiswa itu sendiri. Ada banyak pemberedelan dan aksi kekerasan terhadap pers mahasiswa, terutama pasca 1998. Namun baru kali ini pemberedelan memicu respon yang demikian masif– setidaknya di media sosial.Terasa ironis memang jika melihat pers mahasiswa diperhatikan justru ketika ia diberedel. Sementara di hari-hari “normal”, kehadirannya hidup segan mati tak mau.

3 tahun lalu, saya menulis buku tentang pers mahasiswa. Buku ini diangkat dari skripsi saya di Jurusan Komunikasi UGM. Spesifiknya, buku ini adalah riset analisis isi berita-berita pers mahasiswa mengenai wacana komersialisasi pendidikan pasca-1998. Namun di bab 1-2, saya menulis konteks besar kondisi pers mahasiswa dan beberapa problem yang mengitarinya sampai saat ini. Masih relevan untuk meletakkan dimana sebenarnya posisi pers mahasiswa.

Dalam rangka -menjelang- ulang tahun Balairung ke-30 dan diskusi ihwal pers mahasiswa yang sedang ramai belakangan ini, buku tersebut saya unggah di blog, teman-teman bebas mengunduh dan membagikannya. Salam pers mahasiswa!

Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan