Matinya Kepakaran dan Kita yang Tersesat di Mesin Pencari

Matinya Kepakaran Foto

Mengapa hoaks mudah menyebar dan dipercaya orang?

Butuh penjelasan yang panjang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebabnya, memahami hoaks tidak hanya berkaitan dengan benar tidaknya sebuah informasi. Di dalamnya juga melibatkan kelindan faktor sejarah, ekonomi, sosial, juga politik. Melihat hoaks dari satu faktor dan mengabaikan faktor lainnya akan membuat kita kesulitan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini.

Tom Nichols, dalam buku Matinya Kepakaran (2018) ini memberikan salah satu penjelasan yang berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, kita sudah sampai di era matinya kepakaran, era di mana omongan para pakar tidak lagi menjadi rujukan.

Continue reading

Hoax dan Jurnalisme

Ada banyak momen yang saya ingat ketika diskusi dengan dosen-dosen saya. Salah satunya adalah ketika saya konsultasi mengenai esai saya dengan Matthias Revers, dosen kelas Reporting of Politics. Setelah membahas ide esai saya tentang sejarah dan perkembangan jurnalisme populis di Inggris, Ia bilang bahwa “saya akan mengkategorikan Breitbart, Infowars di Amerika Serikat dan media-media yang penuh konspirasi lainnya ke dalam jurnalisme.” (Ini mungkin kalau di Indonesia seperti pks piyungan dan sebagainya yang penuh hoax dan teori konspirasi). Lho kenapa pak? Kan mereka tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik dan apalagi menulis tentang fakta?

Jawaban dari Matthias kira-kira sebagai berikut, dan sebelum menjawab ia bilang bahwa tentu saja akan banyak orang yang tidak sepakat dengan pandangannya:

Continue reading

Tentang Sepakbola

Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia. Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton.

Kenapa Inter Milan atau Manchester United? Tentu saja karena keduanya adalah tim favorit saya. Ingatan-ingatan awal saya menonton sepakbola di televisi adalah ketika menyaksikan pertandingan Serie A tahun 1998: Inter Milan vs Juventus. Salah satu laga yang kerap disebut-sebut menunjukkan calciopoli ketika wasit menguntungkan Juventus. Karena melihat Inter dicurangi dan Juventus diuntungkan, saat itu saya langsung memutuskan mendukung Inter dan sekaligus membenci Juventus.

Continue reading