5 Jam 12 Kilometer di Yorkshire Dales

WhatsApp Image 2018-02-04 at 13.50.35

Perpaduan rumput-rumput di kawasan taman nasional Yorkshire Dales yang nyaris seluruhnya memutih karena salju dengan sungai Malham Beck yang terlihat jernih dan bersih menghasilkan suasana yang magis. Di rerumputan, domba-domba berkeliaran bebas. Salju turun pelan. Ditambah hawa dingin, dua-tiga derajat celcius, pemandangan itu cukup untuk membuat kita merasakan kedamaian dengan sederhana. Alam membawa kedamaian dengan caranya sendiri.

Suasana semacam itu membuka berbagai ingatan yang menyenangkan, dan menenangkan. Semarang. Jogja dan segala sudut jalannya. Angkringan. Sop ayam pak Min. Pantai-pantai di Gunung Kidul. Popo dan Billy, dua kucing yang susah akur. Lapangan futsal. Suasana dan ingatan-ingatan yang membuat kita sejenak berjarak dengan tetek-bengek masalah yang tiap hari datang silih-berganti.

***

Kami, mahasiswa Indonesia di Leeds, tiba di parkiran taman nasional Yorkshire Dales pukul 10.30 setelah kurang lebih menempuh satu setengah jam perjalanan dari Leeds. Tidak begitu lama setelah turun dari bis, kami langsung memasuki area taman untuk memulai perjalanan sepanjang dua belas kilometer. Gaby yang sebelumnya pernah menyusuri jalur ini menjadi pemimpin rombongan. Perjalanan kali ini akan menantang karena salju menutup jalanan dan masih turun pelan. Di mana-mana putih.

Yorkshire Dales adalah satu dari lima belas taman nasional yang ada di Inggris. Ia terletak di North Yorkshire, tidak terlalu jauh dari kota Leeds, Bradford, dan Manchester. Di taman ini ada jalur pendakian yang memang populer bagi para turis. Saya hampir yakin kalaupun banyak turis, tidak akan datang saat bersalju di musim dingin seperti yang kami lakukan ini.

Dari parkiran taman nasional, rute perjalanan biasa saja. Datar dan indah karena ada sungai Malham Beck yang dengan melihatnya saja rasanya bikin pengen nyemplung. Di musim panas, mungkin ini ide yang menarik. Tapi di musim dingin seperti saat ini tentu nyemplung ke sungai hanya mungkin dilakukan jika kamu yakin badanmu cukup untuk menahan air yang dinginnya seperti es beku di dalam kulkas, nyess.

Sekitar 15-20 menit berjalan kaki, kami berjumpa dengan air terjun Janet’s Foss yang cantik. Orang-orang berhenti sejenak, sekadar membasuh tangan di air atau mengambil gambar. Nama Janet’s Foss sendiri berasal dari Janet dan Foss. Konon, dari beberapa tulisan yang saya baca, Janet adalah ratu peri yang dipercaya penduduk lokal dan berumah di gua kecil yang ada di belakang air terjun ini. Sementara Foss berasal dari bahasa Nordic yang berarti air terjun.

Tantangan sebenarnya baru muncul di tebing air terjun Gordale Scar. Untuk melanjutkan perjalanan, kami harus menaiki tebing yang sebenarnya tidak terlalu tinggi tersebut, namun batuan yang licin ditambah salju yang turun membuat upaya naik menjadi usaha yang menantang. Sebagai pemimpin rombongan, Gaby sebelumnya sudah memberikan briefing kepada rombongan. Ia kemudian naik pertama kali disusul beberapa teman.

Beberapa teman naik dengan lancar. Giliran Lily yang naik. Ia kesulitan dan sempat memutuskan berhenti di ceruk yang ada di tengah air terjun sebelum Gaby dan beberapa teman yang sudah naik memandunya pelan-pelan. Salju semakin deras. Kami yang naik terakhir melihat teman-teman yang naik dengan was-was. Tapi semua akhirnya bisa naik dengan aman. Pengalaman yang cukup menegangkan.

WhatsApp Image 2018-02-04 at 13.50.36 (1)

Suasana magis lainnya muncul setelah kami berhasil menaklukan tebing Gordole Scar. Setelah itu, sejauh mata memandang cuma putih salju. Di kejauhan sulit memandang batas langit dan salju. Salju juga masih turun. Kadang deras, kadang pelan. Anehnya, saya tidak begitu merasa dingin. Beberapa teman juga merasakan hal yang sama.

Sambil berjalan kami lempar-lemparan salju. Ambil salju sekenanya dan lempar ke orang yang paling dekat. Tomi jadi target yang paling empuk dan paling sering kena lemparan. Saat sedang mengincar dan hendak melempar Tomi, Laura sempat memasukkan salju ke hoodie saya, rasanya dingin sekali. Saya teringat air hangat di kamar mandi. Saya akan membalas dendam rasa dingin ini dengan air hangat nanti begitu sampai di Leeds.

Ini salju kelima atau enam selama saya di Inggris. Karena cukup tebal tentu kami memanfaatkannya dengan baik. Perjalanan memang jadi menantang tapi melihat salju di mana-mana itu bikin nyaman. Tahun ini sebenarnya lumayan sering turun salju di Leeds, tapi biasanya hanya tipis-tipis dan cuma sebentar. Salju paling tebal di Leeds turun waktu dua hari sebelum tahun 2017 berakhir.

Capek lempar-lemparan salju, kami terus berjalan. Di kanan-kiri banyak domba. Saya minta tolong ke Laura untuk memotret saya di dekat domba-domba tersebut. Domba-domba ini mestinya berwarna putih tapi karena kotor bulunya jadi agak kecoklatan dan ada cat berwarna hijau di badannya. Mungkin digunakan oleh para pemiliknya untuk menandai domba milik mereka.

Sesudah berjalan kaki selama hampir tiga jam, kami sampai di danau Malham Tarn. Saatnya makan siang. Kami duduk melingkar, lesehan, di pinggir danau. Tentu saja basah karena salju. Tapi dalam situasi yang melelahkan dan kelaparan, siapa yang peduli. Orang-orang mengeluarkan bekalnya. Ada yang makan sandwich, biskuit, mi goreng dan telur, ada juga yang makan nasi babi. Saya sendiri makan roti yang beberapa hari sebelumnya saya beli di Morrisons.

Pemandangan yang indah untuk sebuah makan siang. Di seberang danau, ada rumah yang dikelilingi pepohonan. Itu adalah Malham Tarn Field Studies Centre. Ia sering digunakan mahasiswa-mahasiswa geografi dan biologi untuk penelitian. Meski kalau saya lihat-lihat lebih lama, ia seperti rumah yang ada di film horror The Woman in Black. Kalau teringat film horror begini, dingin dan salju bikin suasana mencekam.

Tidak terlalu lama kami berhenti makan. Perjalanan baru separuhnya, sementara di bawah supir bis kami menunggu. Kami melanjutkan berjalan kaki dan pemandangannya semakin indah. Jika sebelumnya nyaris seluruh rumput tertutup salju, pemandangan di depan kami, salju bercampur dengan bebatuan dan bukit-bukit yang masih terlihat rumput dan bebatuannya.

Dari danau tadi, rute mulai menurun. Kami berjalan mengikuti jalan setapak dengan bukit di samping kanan dan tebing di samping kiri. Tidak terlalu curam tapi salju mulai mencair sehingga cukup licin dan berbahaya jika tidak berhati-hati. Kaki-kaki mulai kelelahan dan salju sudah tidak memberikan rasa antusias yang sama sebagaimana di awal perjalanan tadi.

Namun perjalanan belum selesai. Hampir sejam dari danau kami sampai di bebatuan gamping di atas Malham Cove. Batu-batu gamping berwarna yang dari atas terlihat berbentuk kotak-kotak ini pernah muncul dalam film Harry Potter. Kalau tidak salah ada di film episode pertama. Di situs resmi taman nasional Yorkshire Dale, lokasi ini menjadi salah satu yang dipromosikan. Tentu untuk menarik minat para pecinta Harry Potter.

Teman-teman yang menyukai Harry Potter antusias ketika sampai di bebatuan ini. Mengambil foto, beberapa jatuh terpeleset. Mengingat-ingat adegan apa di Harry Potter yang dimainkan di tempat ini. Saya bukan penonton Harry Potter, jadi rasanya ya biasa saja kecuali bahwa tempat ini memang indah.

Melihat batu-batu gamping ini, Tomi bertanya tentang bagaimana ya orang-orang dulu bisa hidup dalam kondisi semacam ini. Apalagi kalau musim dingin. Dinginnya pasti bakal berlipat. Saya teringat pernah menyaksikan film dokumenter berjudul Too Long A Winter. Ini adalah film yang berkisah tentang Hannah Hauxwell, seorang perempuan petani di desa kecil North Riding of Yorkshire yang selama puluhan tahun tinggal sendirian setelah keluarganya meninggal ketika ia berusia 35 tahun. Hannah hidup tanpa listrik, air ledeng, dan pemanas ruangan di rumahnya.

Seorang produses televisi yang punya teman di Yorkshire Dales tahu tentang Hannah dan kemudian memfilmkannya. Sangat berat tinggal tanpa keistimewaan-keistimewaan sederhana semacam pemanas ruangan. Dan kondisi semakin memburuk di musim dingin di mana Hannah tetap harus menggembala ternaknya dan mencari bahan makanan untuk dirinya sendiri. Namun ia bisa hidup sampai usia 91 tahun. Hannah meninggal 30 Januari 2018 lalu. Ini adalah kisah yang menarik. Kalau berminat menyimak lebih jauh bisa nonton film dokumenter tersebut di Youtube. Media-media seperti The Guardian dan BBC juga menulis obituari Hannah.

Setelah puas di atas batu gamping Malham Cove, kami cepat-cepat turun. Salju sudah sepenuhnya mencair di jalanan turun. Saya menyempatkan diri mengambil foto Malham Cove dari bawah, di dekat sungai yang airnya jernih. Ketika saya unggah foto tersebut di Facebook, beberapa kawan memberikan komentar bahwa tempat tersebut seperti air terjung Semirang di Ungaran, seperti Kali Code, dan ada yang bilang seperti Lembang.

Tepat pukul 16.00 kami tiba di parkiran dan segera naik bus. Wajah pak sopir sudah kelihatan cemberut karena kami terlambat sekitar 30 menit dari jadwal. Bus segera melaju ke Leeds meninggalkan ingatan yang menyenangkan di Yorkshire Dales.

WhatsApp Image 2018-02-04 at 13.50.36

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>