Menutup Catatan dari Leeds

WhatsApp Image 2018-11-24 at 00.38.50

Dua hari terakhir saya di Leeds dan London merangkum dengan baik perjalanan selama setahun lebih di Inggris: sedikit kacau di kepala dan kelelahan secara fisik.

Kekacauan dimulai dengan pembatalan kereta Leeds – London yang mestinya berangkat pukul 10.15. Ketika saya ke bagian informasi, saya hanya diberi solusi: saya harus ke York dulu dengan kereta tercepat dan dari sana baru pindah kereta ke London yang dijadwalkan berangkat pukul 11.20.

Continue reading

Balairung dan Berita Pemerkosaan

Screen Shot 2018-11-08 at 03.26.56

*Untuk teman-teman yang mengecam berita BPPM Balairung UGM tentang kasus pemerkosaan*

Admin twitter AJI Surabaya menyebut berita Balairung sebagai “koplak”, dan, sambil mengutip kode etik jurnalistik, “tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi”. Sementara beberapa komentar lain menyebut bahwa berita Balairung mirip cerita porno stensilan yang “menjadikan duka korban sebagai sumber jualan klik”, “pembaca tidak mau tahu soal cerita bagaimana korban diperkosa”. Balairung juga disebut sebagai “media berotak dangkal” dan “aktivis yang sok heroik”.

Balairung sudah memberikan tanggapan berbagai tuduhan itu dengan sangat baik. Tanggapan itu memperkuat berita tentang pemerkosaan yang merupakan salah satu karya jurnalistik terbaik (tidak hanya pers mahasiswa tetapi juga di media arus utama) yang saya baca tahun ini. Bravo buat Balairung.

Continue reading

Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading