Beberapa hal yang saya saksikan di jalanan Jakarta 2015

Perempatan di Jakarta yang paling sering saya tahun 2015.
Perempatan jalan di Jakarta yang paling sering saya lihat tahun 2015.

Kira-kira sudah satu setengah tahun saya di Jakarta. Ada banyak peristiwa yang saya saksikan di jalanan kota ini. Sebagian di antaranya mengonfirmasi pandangan saya tentang Jakarta, kota yang tidak dikehendaki oleh banyak orang, namun pada akhirnya harus didatangi. Sejak membaca bukunya Seno, Affair dan Tiada Ojek di Paris, saya jadi tertarik untuk melihat hal-hal kecil yang saya alami atau lihat. Dalam beberapa tulisannya, Seno memperhatikan hal-hal seperti bajing yang meloncat di kabel listrik, kembalian ongkos tol 2.500,  sampai tukang ojek.

Konon dari hal-hal kecil kita bisa melihat sistem sosial budaya semacam apa yang sedang berjalan. Salah satu kebiasaan saya, ketika melihat atau menyaksikan sesuatu yang aneh (atau malah kadang biasa saja tapi menurut saya menarik), saya menuliskan sekenanya di akun media sosial. Kadang di Facebook, Twitter, juga Path. Sebagian di antaranya saya tampilkan lagi di blog ini:

***

Bapak dan Ibu

Warung makan bebek goreng, dekat stasiun Tebet, beberapa saat setelah buka puasa. Seorang laki-laki sebaya saya bersama teman perempuannya membuka pintu kaca dan masuk ke dalam warung. Laki-laki yang tangannya kerepotan membawa tas tersebut tidak melihat ada anak kecil (saya kira usianya 4-5 tahun) dari dalam sedang lari keluar. Pintu kaca tertutup dan anak tersebut terbentur. Pecahlah teriakannya, dan menangis meraung-raung. Si laki-laki kebingungan.

Ibunya yang ada di belakang kaget. Ia tidak melihat peristiwa tersebut tapi langsung marah-marah ke si laki-laki yang tampangnya masih kebingungan. Selesai. Si laki-laki dan temannya duduk di dalam. Ibu dan anak yang menangis tersebut keluar dan lapor ke ayahnya. Adegan dramatis kemudian terjadi. Si ayah menggandeng anaknya, masuk ke dalam dan mendekati si laki-laki. “Udah sekarang kamu pukul wajahnya dan maki yang kenceng.” Kata si ayah. Si laki-laki menundukkan wajah dan siap dipukul, ia masih bingung tapi lantas meminta maaf.

Dan meluncurlah kata-kata itu: “bajingaaaannn, setaaaaannnnn, gobloooookkk, setaaaaannn, goblooookk” si anak memuntahkan makiannya sambil menangis kencang. Beberapa saat kemudian si bapak bilang, “setan lu, besok liat-liat kalau jalan. Gua colok juga mata lu.” Si ibu lantas ikut-ikutan, “lu belum pernah punya anak sih, gak tahu gimana rasanya kalo anak nangis.”

Sudah selesai. Ayah ibu dan anak itu keluar. Si laki-laki dan perempuan semakin kebingungan sebelum akhirnya memutuskan keluar dan tidak jadi makan. Saya dan beberapa orang di meja sebelah melongo menyaksikan adegan yang tidak sampai 15 menit itu.

Saya lantas teringat sebuah adegan sinetron di televisi, makian-makiannya serupa peristiwa tadi. Tapi entah apa judulnya. Lupa…

***

Perempatan Wahid Hasyim, dekat jalan Jaksa. Macet, saling mengunci. Pengendara sepeda motor depanku nendang bemper belakang mobil Avanza hitam yang nekat maju meski sudah lampu merah. Habis nendang, si motor kabur, tapi gak bisa jauh karena macet. Sopir Avanza hitam turun, lari ngejar si motor. Kena. Dia langsung mukul kepala si pengendara motor yang lantas turun dari motor. Tapi gak sampai klimaks. Orang-orang berteriak. Salah satunya ibu-ibu: “Woy macet bego!” Si sopir mobil balik lagi ke mobilnya. Saya senyum-senyum saja dengan pak gojek. Jangan-jangan udah ikutan gila.

***

Di perempatan Arion, Rawamangun. Sedang lampu merah. Mobil hitam berplat BK tiba-tiba membuka pintu depan sebelah kiri. Sepeda motor yang di samping mobil kaget, hampir kena pintu yang dibuka. Si penumpang tahu-tahu meletakkan bungkusan ke jalan. Dan menurtup pintu lagi. Satu pengendara motor ndodok jendela ngingatin penumpang mobil buat ngambil. Tapi tak ada respon. Akhirnya oleh pengendara motor barang tersebut dipindah ke trotoar. Lampu hijau, Dari atas gojek saya sekilas melihat itu botol kaca, bentuknya seperti galon aqua, cuma lebih keci. Entah air apa. Mungkin bir? Mbuh ding. Jalanan emang penuh orang-orang aneh.

***

Melihat seorang ibu memandikan anaknya di pinggir jalan, dekat pasar Pulogadung. Kasih ibu sepanjang masa.

***

Barusan mengalami apa yang disebut kunduran angkot. Untung gak sampai jatuh, cuma kebentur di tangan kiri. Ngomong-ngomong kunduran itu bahasa Indonesianya apa ya?

***

*Angkot 02, Pulogadung-Kampung Melayu*

Ibu: “Dek ayo turun.” (tangannya memegang bahu si anak).

Anak: “Iya bentar. Sabar. Anjing emang lu”

(Si anak usia sekitar 3-4 tahun)

***

*Di sebuah taksi berwarna biru*

“Saya ini dulu pemilik restoran di Ancol dek. Memang tempatnya bukan milik saya, saya nyewa. Dan mestinya tahun ini diperpanjang kontrak sewanya. Tapi gara-gara gubernur itu, restoran saya gak diperpanjang. Dia lebih milih kasih tempat-tempat strategis ke keluarga atau temen-temennya. Jadi ya terpaksa saya jadi supir taksi, ini belum ada seminggu. Mau gimana lagi. Suami saya udah kerja tapi gak cukup juga biayain 5 anak saya yang kuliah.Jadi saya bantu nyopir. Terus rumah pindah ke Depok.”

***

*Masih di sebuah taksi berwarna biru*

“Adek sudah lama di Jakarta?” | “Baru setahun lebih dikit pak.” | “Nih ya, saya ceritain. Dulu di rawamangun, perempatan depan itu, itu kebon pisang semua. Tahun 70-an tuh. Kalau di sebelah kanan kita nih, yang ada mushola tuh, itu dulu lokalisasi. Itu perempuan-perempuannya yang gak kepake di Kramat Tunggak. Saya udah jadi supir dari tahun segitu. Kalau lagi nganterin penumpang ke daerah sini ya, biasanya saya ditawarin tuh mau make perempuan yang mana tinggal pilih. Tapi saya selalu nolak dek. Males aja.”

***

*Trotoar di jalan masuk menuju pintu utama TMII*

Jalanan padat, macet panjang. Orang-orang yang ada di mobil sebagian turun dan jalan di trotoar. Seorang ibu menggandeng anak. Mungkin usia si anak sekitar 3-4 tahun. Anak kecil ini melihat jajanan yang digelar pedang kaki lima. Si ibu kelihatan jalan terburu-buru. Ketika dia melihat anaknya menengok kanan-kiri, ia memarahi anaknya. “Eh goblok! Bukannya lihat jalan malah tengak-tengok.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>