Berita Donald Trump di Media Hary Tanoe

Ary Tanoe

Salah satu yang saya ingat dari karya lawas Johan Galtung dan Mari Holmboe Ruge berjudul The Structure of Foreign News (1965) adalah relasi antara berbagai peristiwa di dunia, aktor-aktor di dalamnya, dan citra yang muncul di masyarakat satu negara mengenai aktor dan peristiwa tersebut. Dalam relasi tersebut media memiliki peran penting dalam membentuk citra positif maupun negatif terhadap aktor ataupun peristiwa tertentu yang terjadi di belahan dunia lain.

Pada tahap selanjutnya, citra tersebut bisa menentukan respon seperti apa yang mungkin muncul apabila peristiwa-peristiwa di negara lain tersebut berhubungan langsung dengan negara tersebut. Sentimen positif maupun negatif bisa menjadi faktor penting dalam kebijakan yang akan diambil. Itu kesimpulan yang diambil Galtung dan Ruge setelah meneliti berita-berita rubrik luar negeri yang ada di empat koran Norwegia.

Karya Galtung dan Ruge ini yang klasik ini selalu menarik untuk didiskusikan kembali khususnya dalam relasi antara media dan hubungan internasional. Ia membantu kita untuk memahami bagaimana ekonomi politik media bekerja dalam kerangka global. Selain itu juga membantu kita menelusuri jarak yang terentang antara peristiwa yang terjadi nun jauh “di sana” dengan framing yang dimunculkan media “di sini”.

Untuk memahami hal itu, kita bisa mempelajari bagaimana cara media-media di Indonesia menulis berita-berita luar negerinya. Karena sebagian besar tidak melakukan liputan secara langsung dan biasanya berlangganan kantor berita internasional, semakin menarik untuk melihat bagaimana framing atas framing (dari berbagai kantor berita internasional) itu dilakukan. Dua lapis framing yang pasti akan mendistorsi informasi lebih jauh akan ditentukan sejauh apa relasi ekonomi politik atau kesamaan ideologis antara media dengan apa yang diberitakannya.

Hal tersebut yang akan coba saya tunjukkan dalam artikel pendek ini. Lebih spesifik lagi, artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan: bagaimana Okezone.com – media yang dimiliki oleh mogul media sekaligus ketua partai politik Hary Tanoe –  membingkai berita-berita mengenai presiden baru Amerika Serikat Donald Trump?

Saya menganalisis berita-berita tentang Donald Trump di Okezone.com karena menurut saya ada fenomena menarik (aneh?) yang saya temukan. Sejak Donald Trump dilantik sampai artikel ini ditulis, setidaknya ada 103 berita Okezone.com di bawah topik “100 Hari Donald Trump”. Intensitas berita tentang Donald Trump dengan nada positif sebanyak itu tidak saya temukan di media-media lain di Indonesia. Dan, oh ya ini hanya menghitung berita-berita di bawah topik tersebut. Di Okezone.com masih banyak lagi berita soal Trump dan Amerika Serikat di bawah topik lainnya.

Apa menariknya berita-berita tentang Donald Trump tersebut? Ada beberapa kesimpulan yang bisa saya ajukan.

Hampir semua berita-berita tentang Trump di Okezone.com bernada positif terhadap Trump. Tidak ada berita yang negatif atau menunjukkan kritik terhadap Trump atau kebijakan-kebijakannya. Istilah bernada positif ini barangkali akan berbeda-beda bagi pembaca. Tapi saya akan coba tunjukkan apa yang saya maksud positif terhadap Trump. Banyak berita di bawah topik “100 Hari Donald Trump” yang menjelaskan tentang relasi antara Donald Trump dengan pimpinan negara-negara lain.

Cermati misalnya berita “Trump dan Perdana Menteri India Berdialog Hangat lewat Telepeon”, “Pertama Bertemu Trump, Segala Keraguan Shinzo Abe Hilang”, Gemuruh Tepuk Tangan dan Standing Ovation Warnai Pidato Perdana Trump di Kongres”, “Bertatap Muka, Presiden Donald Trump dan Xi Jinping Saling Lempar Senyum”, “Donald Trump Nikmati Permainan Golfnya dengan Shinzo Abe”, “Presiden Trump Bahagia Hakim MA Pilihannya Dilantik”, dan sebagainya.

Berita-berita tersebut tidak banyak membahas tentang substansi pertemuan Donad Trump dengan pimpinan negara-negara lain. Ia lebih banyak mengupas hal-hal remeh perkara berdialog hangat, lempar senyum, tepuk tangan, dan seterusnya yang saya kira tidak relevan untuk dibaca pembaca Indonesia. Tapi ini dilakukan oleh Okezone.com. Hampir tidak ada berita-berita dengan nada negatif ke Trump.

Hal tersebut kemudian membawa saya kepada kesimpulan selanjutnya: Okezone.com sedang berusaha menormalisasi Donald Trump. Bukan rahasia jika Donald Trump terpilih sebagai presiden setelah melalui kampanye pemilu yang brutal dalam sejarah di Amerika Serikat. Sebagai seorang kandidat presiden, ia berulang kali menyampaikan kebenciannya terhadap imigran, bahkan mengajukan proposal untuk melarang muslim masuk ke Amerika Serikat.

Proses normalisasi ini saya simpulkan karena Okezone.com hampir tidak memberitakan berbagai sisi negatif Donald Trump atau setidaknya berbagai kritikan terhadap dia. Beberapa berita misalnya menunjukkan proses normalisasi ini. Berita “Warga AS: Saya Suka Donald Trump, Dia Memegang Kata-Katanya” atau “Saat Janda Prajurit AS Meneteskan Air Mata dalam Pidato Trump” mencoba menggambarkan Trump sebagai sosok yang dicintai oleh penduduk Amerika Serikat.

Bahkan, dalam kebijakannya yang paling kontroversial ketika Donald Trump menandatangi surat eksekutif yang melarang muslim masuk ke Amerika Serikat, berita di Okezone.com pun bernada positif. Padahal di berbagai media lain di Indonesia, sebagian besar nada beritanya mengkritik kebijakan tersebut. Dalam isu tersebut, Okezone.com mengeluarkan berita berjudul “Menlu Arab Saudi Percaya Trump Lakukan yang Terbaik untuk AS”.

Berita tersebut mengambil kutipan dari menteri luar negeri Arab Saudi. Saya kutip penutup beritanya: “Menanggapi kebijakan imigran yang diindikasikan anti-Muslim tersebut, al Jubeir menegaskan, “Saya tidak punya landasan untuk mempertanyakan motifnya.” Sebaliknya, dia menilai sikap Trump yang protektif pada keamanan nasionalnya sebagai tindakan yang wajar.” Dari sekian banyak kemungkinan kritik ke kebijakan Trump yang bisa ditampilkan, mengapa kutipan tersebut yang diangkat Okezone?

Proses normalisasi lainnya juga muncul misalnya dalam berita “Untuk Pertama Kalinya Robert Mugabe Dukung Presiden AS”. Berita itu berisi dukungan presiden Zimbabwe kepada Donald Trump yang diembel-embeli “pertama kali dalam sejarah”. Mengapa dukungan yang diberikan oleh diktator yang sudah puluhan tahun berkuasa dengan menindas warganya sendiri bisa menjadi berita yang positif?

Untuk melihat betapa anehnya berita-berita di Okezone.com ini anda bisa membandingkan dengan berita-berita di media lain di Indonesia. Atau kalau anda menyimak politik di Amerika Serikat baik di media-media liberal maupun konservatif, anda bisa melihat bahwa kondisi politik di sana, khususnya di era 100 hari pemerintahan Donald Trump tidak baik-baik saja. Setidaknya tidak sebaik berita-berita di Okezone.com.

Melihat beberapa hal di atas, untuk menjawab pertanyaan mengapa berita-berita di Okezone.com sangat positif ke Donald Trump mau tidak mau kita mesti mengaitkannya dengan relasi antara Hary Tanoe dan Donald Trump yang begitu dekat sehingga “ia dapat menjembatani hubungan Indonesia dengan AS ‘jika dibutuhkan’”.

Ihwal kedekatan ini dibanggakan oleh HT, setidaknya dari wawancaranya dengan berbagai media. Saya membaca wawancaranya di Breitbart (media alt-right!) di mana HT menyinggung relasinya dengan Trump. Apalagi seperti terlihat dalam wawancara dengan Tempo, HT menyebut bahwa saat ini ia sedang mengerjakan mega-proyek bekerja sama dengan Trump Organization  di Bali yang angka proyeknya mencapai 7 trilyun dan di Lido Jawa Barat yang mencapai 33 trilyun.

Dalam wawancara dengan Tempo juga, HT menceritakan bagaimana ia yang mengatur pertemuan Trump dengan Setya Novanto dan Fadli Zon yang menghebohkan itu dan menyebut bahwa “Kalau orang lain susah mendapat akses ke dia (Trump), saya bisa dengan mudah”. Kedekatan ini yang saya kira menjadi kata kunci mengapa berita-berita soal Donald Trump begitu positif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>