Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading

Berita Donald Trump di Media Hary Tanoe

Ary Tanoe

Salah satu yang saya ingat dari karya lawas Johan Galtung dan Mari Holmboe Ruge berjudul The Structure of Foreign News (1965) adalah relasi antara berbagai peristiwa di dunia, aktor-aktor di dalamnya, dan citra yang muncul di masyarakat satu negara mengenai aktor dan peristiwa tersebut. Dalam relasi tersebut media memiliki peran penting dalam membentuk citra positif maupun negatif terhadap aktor ataupun peristiwa tertentu yang terjadi di belahan dunia lain.

Pada tahap selanjutnya, citra tersebut bisa menentukan respon seperti apa yang mungkin muncul apabila peristiwa-peristiwa di negara lain tersebut berhubungan langsung dengan negara tersebut. Sentimen positif maupun negatif bisa menjadi faktor penting dalam kebijakan yang akan diambil. Itu kesimpulan yang diambil Galtung dan Ruge setelah meneliti berita-berita rubrik luar negeri yang ada di empat koran Norwegia.
Continue reading