Dilema Siaran Langsung Persidangan

(Dimuat di Koran Tempo, 27 September 2016)

Siaran langsung proses sidang pembunuhan menggunakan kopi bersianida dengan terdakwa Jessica Kumolo Wongso menarik dicermati. Hampir setiap sidang yang sudah berlangsung 24 kali (sampai artikel ini ditulis) disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Ini masih ditambah dengan berbagai program siaran lain, seperti berita, talk show, dan infotainment. Kadar peliputan yang sedemikian masif ini belum pernah ada dalam sejarah siaran langsung persidangan di televisi Indonesia.

Di satu sisi, siaran langsung semacam ini bisa membuat persidangan berjalan lebih akuntabel dan transparan. Sebaliknya, peliputan yang sedemikian masif membawa sejumlah persoalan yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh.
Continue reading

Konflik Sosial dan Literasi Media

(Dimuat di Koran Tempo, 11 Agustus 2016)

Ibarat api dalam sekam, konflik kembali muncul di Indonesia. Kali ini peristiwa menyedihkan terjadi Tanjung Balai di mana vihara dan klenteng dirusak dan dibakar. Peristiwa ini diduga dilatarbelakangi protes terhadap alat pengeras masjid yang kemudian dibumbui oleh provokasi dimedia sosial.

Jika melihat sejarah di Indonesia, konflik atau aksi kekerasan semacam ini memiliki akar struktural baik alasan ekonomi, politik, maupun intoleransi umat beragama. Dengan kondisi semacam itu, hanya butuh sedikit pemantik untuk memicu kerusuhan. Dan seiring perkembangan teknologi komunikasi, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh dalam meningkatkan eskalasi konflik. Kemampuannya yang cepat dalam menyebarkan informasi bisa menjadi medium provokasi dengan daya destruktif yang luar biasa.
Continue reading