Beberapa Catatan Mengenai Jurnalisme Data

Buku Jurnalise Data. Sumber: https://datajournalism.com/read/handbook/one
Buku Jurnalisme Data. Sumber: https://datajournalism.com/read/handbook/one

Beberapa waktu belakangan, jurnalisme data telah menjadi keyword yang pelan-pelan masuk ke dalam kajian jurnalisme di Indonesia. Beberapa media di Indonesia sudah bereksperimen mempraktikkannya. Komunitas-komunitas jurnalis data juga tumbuh. Sementara di lingkungan akademik, tema ini mulai mendapatkan perhatian untuk diteliti lebih jauh. Sebagaimana banyak hal baru, kehadirannya diterima dengan penuh harapan dan juga kegelisahan: sebenarnya ini “barang” apa dan bagaimana harus menyikapinya.

Kegelisahan itu tidak melulu berkaitan dengan praktik jurnalisme data sendiri. Sejak awal kehadirannya, secara keilmuan ia pun digugat. Dari sisi praktik, selain perkara visualiasi, tidak ada yang baru dari jurnalisme data. Lalu dari sisi istilah, mengapa jurnalisme data? Bukankah jurnalisme pasti menggunakan data? Lantas apa bedanya “data” di sini dengan data sebagaimana ada dalam jurnalisme?

Continue reading

Ketika Jurnalis Menyadap

Hack AttackBeberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang wartawan Financial Times yang masuk tanpa izin ke dalam rapat online private The Independent dan Evening Standard. Rapat tersebut membahas tentang rencana pemotongan gaji sebagai konsekuensi pandemi Covid-19. Persis setelah rapat selesai Mark Di Stefano, wartawan yang dimaksud, memposting isi rapatnya di Twitter. Ia lantas diinvestigasi oleh redaksinya terkait hal tersebut dan beberapa hari kemudian mengundurkan dari Financial Times. Mark spesialis meliput tentang isu media dan teknologi.

Kejadian ini menarik, meski kalau dilihat dalam iklim media di Inggris yang demikian partisan dan kompetitif, praktik semacam ini hal yang biasa dilakukan antar media. Dalam referensi budaya populer gambaran tentang upaya untuk mengetahui dapur media lain dengan berbagai cara ini, misalnya, bisa dilihat di series Press. Series ini bercerita tentang kondisi media-media di Inggris, persaingan bisnis dan terutama akan melakukan berbagai upaya termasuk “membunuh” kompetitornya.

Continue reading

Balairung dan Berita Pemerkosaan

*Untuk teman-teman yang mengecam berita BPPM Balairung UGM tentang kasus pemerkosaan*

Admin twitter AJI Surabaya menyebut berita Balairung sebagai “koplak”, dan, sambil mengutip kode etik jurnalistik, “tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi”. Sementara beberapa komentar lain menyebut bahwa berita Balairung mirip cerita porno stensilan yang “menjadikan duka korban sebagai sumber jualan klik”, “pembaca tidak mau tahu soal cerita bagaimana korban diperkosa”. Balairung juga disebut sebagai “media berotak dangkal” dan “aktivis yang sok heroik”.

Balairung sudah memberikan tanggapan berbagai tuduhan itu dengan sangat baik. Tanggapan itu memperkuat berita tentang pemerkosaan yang merupakan salah satu karya jurnalistik terbaik (tidak hanya pers mahasiswa tetapi juga di media arus utama) yang saya baca tahun ini. Bravo buat Balairung.

Continue reading