Cak Rusdi

*mengenang 2 tahun meninggalnya Cak Rusdi*

“Wis, menurutmu wartawan itu harus berpihak atau enggak?”, “Kalau berpihak, terus berpihaknya kepada siapa?”,”Kalau kamu wartawan foto, di depanmu ada orang mau tenggelam, yang kamu lakukan mengambil fotonya dulu agar nanti bisa dikabarkan pada dunia, atau menolongnya dulu? Tugas wartawan mengabarkan berita to?”, “Kalau kamu mengkritik reporter yang menerima amplop, menurutmu lebih busuk mana, mereka yang menerima amplop karena tekanan kebutuhan sehari-hari atau redaktur-redaktur senior yang deal dengan para politisi buat berita pesanan?”

Saya masih ingat rentetan pertanyaan Rusdi Mathari – banyak teman biasa memanggilnya Cak Rusdi – tersebut ketika satu malam kami ngobrol di warung makan di Taman Ismail Marzuki, pertengahan 2015. Itu betul-betul pertanyaan yang datang berentetan. Belum sempat menjawab tuntas, pertanyaan lanjutan datang. Setelah itu saya tahu bahwa Cak Rusdi tidak benar-benar meminta jawaban. Itu caranya menunjukkan ketidaksepakatan terhadap satu artikel yang saya tulis. Setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut, Cak Rusdi bilang bahwa “nek awakmu pengen dadi peneliti media, koen kudu paham cara kerja jurnalis, paham kondisi sosial dan psikologis mereka.”

Itu salah satu nasehat yang saya terima dari Cak Rusdi. Tentu ada banyak lainnya selama kenal dengan Cak Rusdi kurang lebih 3 tahun sejak 2014. Ia beberapa kali menelpon tiap saya ngetwit atau menulis status Facebook yang menurutnya tidak pas. Dan sering di akhir dia bilang “Kalau ada orang yang mengkritikmu, tidak perlu kamu tanggapi dengan defensif. Biar saja, tidak perlu sedikit-sedikit dibalas. Kecuali kalau ada orang mempertanyakan integritasmu, menuduh kamu berbohong, baru kamu boleh marah.”

Hampir setiap kali ketemu, ia akan menguji pendapat-pendapat saya tentang jurnalis dan media. Saya tentu saja tidak bisa banyak membantah. Saya sering manggut-manggut tiap Cak Rusdi ngomong. Omongannya kerap sukar dibantah,  punya kesan mendalam dan membantu saya dalam berpikir. Ia salah satu guru yang ikut membentuk cara pandang saya. Meski kalau disebut sebagai guru, ia akan menolak. Ia memberi banyak referensi bacaan. Tulisan-tulisannya reflektif dan kerap menampar.

Salah satu yang saya pelajari dari Cak Rusdi adalah sikap skeptisnya yang tinggi. Ia tidak akan mudah percaya pada omongan atau tulisan orang dan akan terus mempertanyakan data atau argumen yang menurutnya tidak pas. Pernah ia bertanya kepada seorang teman wartawan yang sempat dipukul FPI ketika liputan. Cak Rusdi tanya, “jadi kamu itu dipukul, ditampar, dikeplak, digampar atau diapain. Jangan melebih-lebihkan lho.” “Terus bunyinya plak! atau gimana?”

Kisah-kisah dan nasehat cak Rusdi masih banyak sekali. Beberapa di antaranya bisa juga dibaca di buku-buku Cak Rusdi baik yang membahas tentang jurnalisme atau pengalaman-pengalaman hidupnya.

Beberapa bulan di tahun 2017, Cak Rusdi dirawat di Rumah Sakit. Ia divonis kanker. Pernah ketika saya tengok di rumah sakit ia bercerita “tulang punggungku remuk wis. Bener-bener remuk. Padahal ini bukan cuma tulang punggungku, tapi tulang punggung keluargaku”. “Aku kudu kuat, aku pasti kuat.” Ia menangis. Saya menangis tertahan. Saya tahu Cak Rusdi akan kuat.

Kadang-kadang Cak Rusdi sebagai orang juga merasa tidak enak meminta orang lain untuk membantunya. Di rumah sakit, ketika ia kebelet pipis, tidak ada pilihan lain selain memapahnya ke kamar mandi. Ia tidak bisa berjalan. Dan karena malam itu saya yang jaga, saya membantunya. Cak Rusdi awalnya menolak dan kelihatan sekali rasa tidak enak hatinya. Mungkin malu karena untuk buang air kecil saja harus dibantu orang lain. Berkali-kali dia minta maaf.

Cak Rusdi seorang guru yang baik dan perhatian, ketika saya pamit untuk berangkat kuliah ke Inggris, dia bilang “ojo lali ngaji ro solat, ora usah aneh-aneh”. Dengan banyak cerita tersebut, itu ketika kabar kematian Cak Rusdi yang saya terima tengah malam waktu Leeds, di musim semi 2018, saya hanya bisa melamun. Meski sudah bersiap bahwa Cak Rusdi mungkin akan berpulang sejak beberapa bulan sebelumnya, kabar kematian selalu jadi kabar yang menyedihkan.

Dan sekarang, dua tahun Cak Rusdi berpulang. Warisannya adalah tulisan-tulisan yang menginspirasi anak-anak muda untuk menjadi wartawan dan penulis yang baik. Selamat beristirahat di keabadian, Cak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>