PSIS Semarang vs Persibas Banyumas: Laporan Pandangan Mata

20150628_225918

Ada dua hal yang menggemaskan saya setiap menonton pertandingan sepakbola liga Indonesia. Pertama, pemain yang jelas-jelas salah telah melakukan pelanggaran, dihukum wasit, tetapi tetap ngotot protes ke sang pengadil bahkan dengan ancaman fisik. Kedua, pemain yang ngeyel membawa bola sendirian meski tahu teman-teman setimnya berada pada posisi kosong dan siap menerima umpan. Ketika sudah benar-benar kepepet dan kehilangan momentum, bola baru diumpankan. Usaha yang sia-sia belaka.

Dua hal itu selalu itu saya temui di berbagai level pertandingan: kompetisi antarkelas di sekolah, turnamen atau ujicoba antarkampung, termasuk juga di level tertinggi liga Indonesia. Termasuk dalam pertandingan semifinal turnamen “tarkam” antara PSIS Semarang dan Persibas Banyumas semalam di stadion Jatidiri (28/6). Resminya turnamen ini bertajuk Polda Jateng Cup. Tapi saya anggap selevel tarkam karena ini turnamen yang dilangsungkan untuk mengisi kekosongan setelah liga Indonesia dibubarkan PSSI, dan tim-tim yang ada juga membubarkan diri. Pemain-pemain yang dimainkan tim-tim ini pun hanya dikontrak untuk satu turnamen, bukan dalam jangka waktu tahun layaknya pemain profesional.
Continue reading

Polisi Lebay, Wasit Klise

tes tes *laporan pandangan mata pertandingan PSS Sleman vs Martapura FC di 16 Besar divisi utama liga Indonesia 2014, 16 September 2014* Hanya dibutuhkan satu polisi lebay untuk memprovokasi kericuhan. Waktu pertandingan sudah menunjukkan menit-menit akhir saat seorang polisi muda itu berlari naik ke tribun barat stadion Maguwoharjo. Dia ingin “mengamankan” beberapa penonton yang dianggap memicu pelemparan ke bench pemain Martapura FC. Sejak masih di sekitar bench, beberapa polisi memang berteriak “amankan, amankan!” sambil menunjuk-nunjuk ke arah tribun. Polisi muda itu lari mungkin karena ingin menjalankan tugas sebaik-baiknya. Atau bisa jadi caper. Atau mungkin sedang banyak pikiran. Continue reading

Sepakbola

bolaaa Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia.

Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup. Continue reading