Tabloid Bola

mbola Tanggal 3 Maret kemarin Tabloid Bola ulang tahun ke-31. Tabloid ini adalah teman yang setia menemani masa SD-SMP-SMA saya. Teman setia sebelumnya, Bobo.

Seorang tetangga saya yang supir truk, pertama kali memperkenalkan saya dengan tabloid ini jelang Piala Dunia 1998. Bola mengajari saya dua hal. Pertama, menulis. Entah kenapa setelah beberapa kali membaca Bola saya tertarik untuk menulis. Tiba-tiba saja kepikiran, mengambil catatan harian, dan mulai nulis. Setelah itu saya serahkan ke Bapak untuk disalin ulang dengan tulisan yang lebih bagus. Eh, ndilalah kok ya beberapa kali dimuat. Continue reading

Akhirnya Kita Juara!

IMG-20130923-00832 Untuk memahami makna kebahagiaan orang-orang Indonesia setelah Ilham Udin berhasil menuntaskan tugasnya sebagai algojo penalti di Final Piala AFF U-19, anda bisa membaca halaman muka koran-koran yang terbit hari ini (Senin, 23 September 2013). Saya sengaja membeli banyak koran – seperti kebiasaan ketika ada momen-momen khusus – untuk melihat bagaimana koran mengabadikan kebahagiaan yang dirasakan oleh puluhan juta orang di Indonesia.

Dan memang seperti yang bisa diduga, hampir semua sepakat bahwa prestasi ini berhasil menuntaskan dahaga panjang gelar juara tim merah putih. Catat saja beberapa judul berikut: Garuda Jaya Akhiri Paceklik Juara (Jawa Pos), Kemenangan Heroik (Republika), Bravo Garuda Muda! (Suara Merdeka), Indonesia Cetak Sejarah (Kedaulatan Rakyat), Hebat Garuda Muda! (Bola), Sepakbola Indonesia Bangkit (Media Indonesia), Akhir Paceklik Gelar 22 Tahun (Kompas), Indonesia Juarai Piala AFF U-19 (Koran Tempo). Continue reading

Suporter dan Tugas Kultural

Mereka yang hadir langsung menyaksikan PSS vs Persis Solo (9/6) pasti bisa merasakan bahwa stadion Maguwoharjo menjelma medan perang yang menandai notorious rivalry baru dalam dunia sepakbola Indonesia kontemporer.

Lemparan botol bir, air kencing, batu, flare, sampai kembang api ke atas rumput lapangan menegaskan ekspresi identitas suporter yang jauh lebih menonjol ketimbang semata dukungan terhadap klub. Kecenderungan yang hampir merata di berbagai daerah. Sepakbola menjadi minoritas sore itu.

***

Drama di Maguwoharjo dimulai ketika wasit hampir saja meniup peluit kick-off. Di gawang sebelah selatan, I Komang Putra jatuh terkapar. Ada batu dan botol bir dalam paper rain yang dilakukan Brigata Curva Sud (BCS). Saya ragu IKP terkena botol bir itu. Dari tribun biru saya menyaksikan botol itu berada di sebelah barat tiang gawang, agak jauh dari lokasi terkaparnya IKP. 970867_611403052211041_1220968214_n Kapten Persis ini dibawa keluar lapangan, kepalanya diperban, pertandingan ditunda sekitar 15 menit. Saya hampir yakin IKP tidak mudah takut dengan teror suporter. Ia jelas memiliki segudang pengalaman yang cukup untuk berada di depan gawang, dan berarti langsung berada di bawah tribun penonton. Sejak bermain di PSIS, kiper ini menjadi salah satu pemain yang saya idolakan. Continue reading