Sepakbola

bolaaa Salah satu mimpi saya ketika kelas 3 SD adalah menjadi striker Inter Milan atau Manchester United sekaligus menjadi kapten tim nasional Indonesia.

Sebelum tidur, ketika di toilet, ketika sholat, dan di beberapa kesempatan di mana saya bisa melamun, saya selalu membayangkan mencetak banyak gol dan mendapat tepuk tangan puluhan ribu penonton. Biasanya saya akan membayangkan mencetak gol di menit-menit terakhir supaya pertandingan lebih dramatis. Sesekali juga saya mendamprat wasit yang tidak memberikan kartu merah kepada bek yang mencederai kaki saya dengan berteriak “Matamu ning ndi?!” Selepas pertandingan, saya akan mendatangi tribun penonton dan melemparkan kaos yang saya kenakan. Dalam imajinasi itu, saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk, kalau gagal ke luar negeri ya menjadi kapten PSIS Semarang sudah lebih dari cukup. Continue reading

Akhirnya Kita Juara!

IMG-20130923-00832 Untuk memahami makna kebahagiaan orang-orang Indonesia setelah Ilham Udin berhasil menuntaskan tugasnya sebagai algojo penalti di Final Piala AFF U-19, anda bisa membaca halaman muka koran-koran yang terbit hari ini (Senin, 23 September 2013). Saya sengaja membeli banyak koran – seperti kebiasaan ketika ada momen-momen khusus – untuk melihat bagaimana koran mengabadikan kebahagiaan yang dirasakan oleh puluhan juta orang di Indonesia.

Dan memang seperti yang bisa diduga, hampir semua sepakat bahwa prestasi ini berhasil menuntaskan dahaga panjang gelar juara tim merah putih. Catat saja beberapa judul berikut: Garuda Jaya Akhiri Paceklik Juara (Jawa Pos), Kemenangan Heroik (Republika), Bravo Garuda Muda! (Suara Merdeka), Indonesia Cetak Sejarah (Kedaulatan Rakyat), Hebat Garuda Muda! (Bola), Sepakbola Indonesia Bangkit (Media Indonesia), Akhir Paceklik Gelar 22 Tahun (Kompas), Indonesia Juarai Piala AFF U-19 (Koran Tempo). Continue reading

Suporter dan Tugas Kultural

Mereka yang hadir langsung menyaksikan PSS vs Persis Solo (9/6) pasti bisa merasakan bahwa stadion Maguwoharjo menjelma medan perang yang menandai notorious rivalry baru dalam dunia sepakbola Indonesia kontemporer.

Lemparan botol bir, air kencing, batu, flare, sampai kembang api ke atas rumput lapangan menegaskan ekspresi identitas suporter yang jauh lebih menonjol ketimbang semata dukungan terhadap klub. Kecenderungan yang hampir merata di berbagai daerah. Sepakbola menjadi minoritas sore itu.

***

Drama di Maguwoharjo dimulai ketika wasit hampir saja meniup peluit kick-off. Di gawang sebelah selatan, I Komang Putra jatuh terkapar. Ada batu dan botol bir dalam paper rain yang dilakukan Brigata Curva Sud (BCS). Saya ragu IKP terkena botol bir itu. Dari tribun biru saya menyaksikan botol itu berada di sebelah barat tiang gawang, agak jauh dari lokasi terkaparnya IKP. 970867_611403052211041_1220968214_n Kapten Persis ini dibawa keluar lapangan, kepalanya diperban, pertandingan ditunda sekitar 15 menit. Saya hampir yakin IKP tidak mudah takut dengan teror suporter. Ia jelas memiliki segudang pengalaman yang cukup untuk berada di depan gawang, dan berarti langsung berada di bawah tribun penonton. Sejak bermain di PSIS, kiper ini menjadi salah satu pemain yang saya idolakan. Continue reading