90 Menit Patriotisme

Usai wasit meniup panjang tanda berakhirnya pertandingan Indonesia melawan Singapura, saya kembali mengamini apa yang pernah dikatakan Grant Jarvie. Dalam bukunya yang berjudul Sport, Culture, and Society (2006), guru besar olahraga dari Skotlandia ini pernah mengatakan bahwa sepakbola adalah kisah tentang“90 menit patriotisme”. Jarvie menggunakan istilah tersebut untuk menunjukkan relasi yang intim antara sepakbola dan konstruksi identitas politik sebuah bangsa. Inilah yang terlihat dalam kemenangan bersejarah atas Singapura. Para pemain menunjukkan betapa perjuangan selama 90 menit ini bukanlah perjuangan yang ringan.

Kita menyaksikan, 45 menit awal adalah waktu yang terasa sangat lama bagi timnas Indonesia. Organisasi permainan yang kacau, tekanan bertubi-tubi dari Singapura, Rahmad yang hanya bisa berlari-lari di lini depan, dan Irfan Bachdim yang dimatikan sejak dari lini tengah.  Indonesia mati gaya. Malam itu, kita juga sama-sama melihat betapa lelahnya kaki-kaki Elie Aiboy mengejar bola.

Taufik yang berkali-kali frustasi karena salah melepas umpan. Juga Nil Maizar yang jelas tidak bisa menutupi ketegangan di wajahnya, terutama setelah Andik mencetak gol. Berkali-kali ia menengadahkan kepala sembari mulut berkomat-kamit. Tapi semua orang tahu bahwa hal itu terbayar lunas.

Kemenangan atas Singapura, jauh dari sekadar melepaskan kutukan dari fakta bahwa sepanjang sejarah Piala AFF (dan Piala Tiger dulu) kita tidak pernah mengalahkan negeri singa. Kemenangan ini ibarat tetesan air yang dipersembahkan oleh pemain setelah rangkaian kemarau panjang sepakbola Indonesia karena konflik para mafia yang tak kunjung usai. Konflik yang melahirkan rentetan drama-tanpa-script bahkan selama Piala AFF.

Saya hampir yakin, gol Andik mencetak  (yang mengingatkan saya pada gol Ronaldinho di Piala Dunia 2002) menghadirkan bahagia sekaligus sesak bagi para mafia itu. Kondisi yang berkebalikan setelah pertandingan perdana melawan Laos. Ababil PSSI akan mencak-mencak tertawa, sementara KPSI akan dongkol setengah mati.

Persis yang saya temui dalam twit-twit pasca pertandingan tadi malam. Seolah persoalan timnas hanya urusan mereka. Bagi saya, yang lebih penting dari kemenangan tadi malam terutama mengenai euforia kebanggaan kepada timnas. Lihat saja spanduk dukungan dari para TKI yang jujur membuat terharu. Sesuatu yang dihilangkan oleh para mafia busuk tadi. Semua orang tahu bahwa timnas yang dikirim kali ini bukan merupakan pemain-pemain terbaik di tanah air.

Tidak ada harapan muluk-muluk dari tim yang (menurut peringkat FIFA) menduduki posisi ketujuh dari delapan negara yang  bertanding di turnamen kali ini. Satu tingkat di atas Laos. Tapi memang, membela timnas tidak melulu soal kualitas. Membela timnas adalah perkara kerja keras mempertahankan kebanggaan merah putih di lapangan hijau. Selama 90 menit para pemain mengajari apa sesungguhnya patriotisme (dan nasionalisme) itu. Dan untuk hal ini, kita layak memberikan tepuk tangan kepada Nil Maizar, Andik, Bepe, Vendry Mofu dan kawan-kawan.

Dan mengutip kemarahan salah seorang kawan di Twitter: Dukung Indonesia! Fuck PSSI! Fuck KPSI! Sekarang, saatnya Ganyang Malaysia!

Pelajaran Buruk dari Stadion Sepakbola

Stadion sepakbola di Indonesia bukan tempat yang ramah untuk anak-anak. Kemarin (11/7), saya kembali menyaksikan betapa terlalu banyak pelajaran buruk yang muncul dari lapangan hijau. Secara resmi, pertandingan Persiba Bantul v Persibo Bojonegoro ini sudah tidak berarti apa-apa bagi kedua tim.

Tidak ada yang dipertaruhkan. Gelar juara sudah jauh-jauh hari digenggam Semen Padang. Memperebutkan posisi kedua pun nyaris tidak mungkin. Persibo juga terlihat jelas “melepas” pertandingan ini untuk mempersiapkan final Piala Indonesia yang akan berlangsung Sabtu (14/7) nanti. Wajar jika mereka menurunkan banyak pemain lapis kedua. Dengan motivasi yang nyaris tidak ada lagi tersebut, saya membayangkan pertandingan akan berjalan dengan membosankan. Satu-satunya yang masih bisa diharapkan sore itu di Stadion Sultan Agung adalah Persiba akan bermain habis-habisan untuk menghibur suporternya karena ini adalah pertandingan terakhir mereka di musim ini. Dan itulah yang terjadi. Continue reading

Italia

Italia hanya memiliki dua cara untuk mengakhiri sebuah kejuaraan: menjuarainya, atau tersingkir dengan cara yang menyakitkan. Selama kurang lebih 14 tahun saya mengenal sepakbola, teori ini belum mendapatkan antitesis. Deretan hasil akhir yang diperoleh tim biru langit adalah buktinya.

Di Piala Dunia 1998, Italia dikalahkan Prancis melalui adu penalti di perempatfinal. Euro 2000, mereka kembali kalah dari Prancis dengan cara yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah gol di injury time, sebuah gol yang membunuh di babak extra time. Dua gol yang mematikan harapan anak asuhan Dino Zoff di final. Piala Dunia 2002, mereka tersingkir dengan cara yang sama, satu gol di injury time, dan satu golden goal.

Kekalahan kali ini bahkan hadir dengan memalukan karena diperoleh dari Korea Selatan. Kekalahan yang menimbulkan dendam karena sang pencetak gol emas, Ahn Jung Hwan, akhirnya dipecat oleh timnya, Perugia. Sang presiden klub mengatakan bahwa ia tidak bisa memainkan pemain yang sudah menghina negaranya. Di Euro 2004, hasil seri 2-2 Swedia v Denmark telah memaksa Italia pulang kandang lebih awal. Continue reading