Katrin

Beberapa minggu yang lalu, saya mengirimkan email kepada dosen-dosen saya di School of Media and Communication University of Leeds. Praktis sejak lulus awal tahun lalu dan kembali ke Indonesia, komunikasi saya dengan dosen-dosen di Leeds semakin terbatas. Dan saya kira momen pandemi ini waktu yang tepat untuk mengirimkan email dan bertanya kabar.

Di masa pandemi, saya merasa pertanyaan mengenai kabar tidak lagi menjadi basa-basi. Tentu saja karena kita tidak tahu apakah kita akan selamat melalui pagebluk ini atau tidak. Karena itu saya memberanikan diri untuk mengirimkan surat kepada dosen-dosen ya, guru yang mengajarkan saya banyak hal tidak hanya hal akademik tetapi juga kehidupan di negara yang asing buat saya.

Continue reading

Menutup Catatan dari Leeds

Dua hari terakhir saya di Leeds dan London merangkum dengan baik perjalanan selama setahun lebih di Inggris: sedikit kacau di kepala dan kelelahan secara fisik.

Kekacauan dimulai dengan pembatalan kereta Leeds – London yang mestinya berangkat pukul 10.15. Ketika saya ke bagian informasi, saya hanya diberi solusi: saya harus ke York dulu dengan kereta tercepat dan dari sana baru pindah kereta ke London yang dijadwalkan berangkat pukul 11.20.

Continue reading

La la la la la Leeds

WhatsApp Image 2018-06-25 at 02.50.48

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. ‘Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…”

Jus jeruk, coklat, susu, air putih, dan sepatu melayang di udara lapangan Millenium Square, Leeds. Menit 62, Inggris sudah unggul 6-0 dari Panama, suporter Inggris yang berada di sebelah kiri layar sudah tidak fokus menonton. Mereka berdiri, bernyanyi dan menari. Suar berwarna biru sudah dinyalakan. Polisi mulai mendekat dan bikin barikade, satu polisi merekam kerumunan dengan kamera. Tidak ada kerusuhan, hanya ratusan suporter yang merayakan kemenangan Inggris.

Dari kerumunan yang menari dan bernyanyi, sebagian besar wajah anak-anak muda. Mungkin seusia anak-anak SMP atau SMA. Inggris beruntung, tim nasionalnya hampir selalu tampil mengecewakan di turnamen-turnamen besar tapi mereka punya fans fanatik. Sama seperti timnas Indonesia. Kalaupun mereka masih lama tampil mengecewakan, setidaknya anak-anak muda ini sudah mulai menunjukkan fanatismenya. Dimulai dari keyakinan bahwa Inggris adalah negeri penemu sepakbola modern. Continue reading