Salju, Orwell, dan mereka yang tidak punya rumah

Salju dari dalam kereta

Ini Jumat terakhir di 2017. Jumat putih. Salju turun deras sejak semalam. Laporan cuaca sudah mengingatkan bahwa salju akan mengguyur sebagian besar wilayah Inggris Raya. Mobil-mobil yang parkir di dekat rumah tertimbun salju. Rerumputan di taman kecil di depan kamar sudah tidak kelihatan bentuk aslinya. Semua putih. Di flat sebelah, salah seorang penghuninya membuka jendela, sepertinya kaget melihat di luar sudah serba putih. Kami sempat beradu pandang sebelum ia menutup gorden jendelanya.

Saya segera berkemas membereskan tas. Sudah pukul 09.00, kereta ke Glasgow sekitar 45 menit lagi. Jarak 45 menit lebih dari cukup untuk menuju stasiun Leeds. Normalnya cuma butuh waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi di luar salju masih deras. Trotoar pasti licin. Mulai agak panik, saya berpikir apa lebih baik naik bis atau Uber. Cek di aplikasi, bis akan datang lebih lama. Menggunakan uber juga bikin was-was dengan kondisi jalan yang licin. Saya putuskan buat berjalan kaki. Payung sudah disiapkan. Continue reading

Liverpool, Dua Stadion, Satu Toko Buku

20171221_110659

Ingatan yang dirawat adalah sumber kekuatan. Di Anfield, saya melihat bagaimana ingatan tentang episode paling menyedihkan untuk Liverpool dirawat. Episode yang tentu saja tidak pernah dibayangkan oleh para keluarga korban, juga orang-orang di Liverpool, yang berpuluh tahun kemudian akan hidup dengan mengingatnya.

Karangan bunga dan lilin berdatangan ke salah satu sudut stadion yang terletak di depan tribun utama, diletakkan di depan Liverpool Memorial. Ia dibangun untuk mengenang 96 fans Liverpool yang meninggal dalam tragedi Hillsborough, 15 April 1989. 96 nama korban ditulis di tugu memorial. Tempat di sekitar memorial yang terletak di dekat pintu masuk pemain diberi nama 96 Avenue. Continue reading

Tembok York

20171202_095248
Clifford Tower

Musim dingin sudah sampai di York. Memasuki stasiun, sisa salju yang mengguyur dua hari sebelumnya masih terlihat jelas. Saya menengok laporan cuaca di telepon genggam, 30 celcius. Pukul 9 matahari bersinar terik, tapi dengan suhu seperti itu, kehangatannya cuma menyapa sekilas. Setelah itu menghilang. Semu. Trotoar sedang licin-licinnya, campuran antara sisa salju, es, dan guguran daun-daun. Ada dua alasan untuk berjalan pelan-pelan: menghindari jatuh terpeleset atau takut sepatu menjadi kotor karena jalanan yang becek.

Hari ini (2/12) saya berencana menyusuri tembok yang mengelilingi pusat kota York. Ini tembok yang dibangun sejak era kekaisaran Romawi di tahun 43. Tidak semua tembok masih bisa bertahan melewati waktu sampai saat ini, namun sebagian besar masih utuh, sekitar 2 mil mengelilingi pusat kota York. Sayang karena cuaca yang bikin jalanan tembok licin, tembok ditutup dan saya tidak bisa naik di atasnya.

Continue reading