Cita-cita

IMG_20150321_123001 Setiap ulang tahun, saya selalu memperbarui cita-cita (atau mimpi?).

Di usia 5 tahun, saya mulai punya cita-cita jadi pemain sepakbola. Seingat saya waktu itu cukup bisa bergabung dengan Sekolah Sepakbola (SSB). Tahun-tahun berikutnya saya meng-update cita-cita itu: jadi pemain PSIS, kapten timnas Indonesia, berduet dengan Bambang Pamungkas, main di Inggris dan Italia, dan sebagainya.

Waktu ulang tahun ke 11, saya diberi kado bola sepak ukuran 6 dan satu setel kaos-celana Juventus berwarna perak dengan nama punggung Inzaghi nomor 9. Saya ingat saya sempat kebingungan. Kenapa? Ya karena saat itu saya sudah menjadi fans Inter Milan. Bayangkan, buat Bapak Ibuk semua kaos tim bola itu sama. Di situ kadang saya merasa ingin merobek dan membakar kaos Juventus itu seperti yang biasa dilakukan ultras-ultras di Italia. (eh, enggak ding.. :-p). Ketika SMP, seiring mulai belajar main gitar, saya bercita-cita punya band dan bikin konser di berbagai tempat. Jadi pujaan dan diteriaki banyak orang ketika mentas di panggung sepertinya keren. Dengan hasil sedikit tabungan dan lebih banyak uang Bapak Ibuk, saya membeli gitar di Pasar Johar. Awal-awal punya gitar sendiri lumayan menggairahkan. Setidaknya bisa genjrang-genjreng setiap saat. Tapi saya tidak punya konsistensi belajar nggitar. Main sedikit saja tangan saya sudah kapalen. Jadi cita-cita itu saya urungkan.

Ketika SMA, saya punya cita-cita jadi wartawan. Keinginan ini muncul sebagian besar karena pengaruh kakak yang waktu itu menjadi wartawan di Semarang. Sepertinya menarik kalau bisa menulis dan meliput sebuah peristiwa dan hasilnya bisa tayang di koran atau di televisi. Saat itu saya percaya menjadi wartawan punya tanggung jawab sosial yang besar. Alasan itu yang menggerakkan saya untuk sejak awal memilih kuliah di jurusan komunikasi UGM. Saya harus jadi wartawan, titik. Karena itu ketika kuliah, tanpa pikir panjang saya memutuskan bergabung dengan pers mahasiswa.

Tapi seiring dengan diskusi demi diskusi, akumulasi bacaan-bacaan, berkenalan dengan wartawan-wartawan, belajar tentang kajian media dan jurnalisme, cita-cita saya geser sedikit, saya ingin jadi presiden. Serius. Tapi itu cuma bertahan beberapa bulan saja. Maklum sindrome mahasiswa semester awal, masih merasa bisa menjadi manusia super. Setelah itu saya kepikiran untuk menjadi dosen, teringat pesan Bapak Ibuk yang ingin salah satu anaknya ada yang jadi pengajar. Saya masih mengingatnya dan berusaha menuju ke sana, meski sepertinya jalannya mesti memutar.

Oh iya. Alur perjalanan cita-cita sejak kecil mengajari saya bahwa untuk mencapai keinginan, selain butuh mimpi besar juga harus diwujudkan dengan bekerja dengan detail. Karena itu, tahun ini cita-cita saya sederhana saja, saya ingin sekolah lagi dan bisa menulis buku. 1-2 tahun belakangan produktivitas menulis saya menurun jauh entah kenapa. Banyak ide hanya tinggal di angan-angan. Semoga tahun ini bisa lebih baik.

*ini adalah foto ulang tahun saya ke 5. Di momen ini saya ditakut-takuti kakak bahwa korek api adalah penjelmaan serigala. Saat itu di TPI ada film kartun tentang itu, saya lupa judulnya. Entah kenapa saya menganggap itu serius. Dan sejak saat itu sampai sekarang, saya takut dan tidak pernah mau memegang korek api*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>