Dosen Mogok, Kuliah Libur

20171012_113502

Penny Rivlin memulai kelas metode riset (5/10) dengan sebuah permohonan maaf: minggu depan tidak ada kuliah, mahasiswa silakan belajar sendiri, dan tidak akan ada kelas pengganti. Ia lantas membuka slide presentasi dan menjelaskan alasannya. Dosen dan pekerja yang tergabung dalam Leeds University and College Union akan mogok kerja selama 3 hari, tepatnya pada 11-13 Oktober.  Sebagai anggota serikat, ia harus mengumumkan alasan pemogokan itu di depan mahasiswanya.

Sehari sebelumnya, Jason Cabanes juga mengumumkan hal yang sama di kelas media dan demokratisasi. Meski bukan anggota serikat, ia bilang bahwa ia ikut bersolidaritas karena apa yang diperjuangkan oleh UCU penting bagi semua dosen dan pekerja di universitas. Jason menjelaskan sedikit tentang latar belakang aksi mogok yang akan dilakukan.

Pada mulanya adalah perubahan statute di University of Leeds yang akan memasukkan pasal mengenai Some Other Substantial Reason (SOSR) di awal 2017. Dalam pasal tersebut, pihak universitas akan lebih mudah dalam memecat dosen atau pekerja dengan alasan-alasan yang tidak dijelaskan. Nah menurut UCU, pasal ini berpotensi untuk memberangus kebebasan akademik karena jangkauannya yang demikian luas.

UCU menyebut bahwa pasal yang mereka sebut sebagai “Sacker,s Charter” ini bisa dijadikan alasan bagi pihak universitas untuk memecat dosen yang hasil penelitiannya tidak dikehendaki oleh pihak kampus atau pemerintah. Selain itu, karena alasan yang demikian fleksibel, kemungkinan staf dipecat karena perbedaan pandangan politik sangat mungkin terjadi. Jason bilang bahwa bagaimana mungkin seorang dosen bisa tenang mengajar jika ia berada dalam bayang-bayang pemecatan.

Lebih jauh, UCU melihat bahwa hal tersebut merupakan efek dari neoliberalisme yang masuk ke jantung pendidikan tinggi di mana universitas kemudian akan mengabdi pada kepentingan pasar, bukan pada kepentingan ilmu pengetahuan dan publik. Karena itu, mereka akan melakukan protes tidak hanya sebagai bentuk upaya melindungi pekerja, tetapi juga melindungi kebebasan akademik dari konsekuensi neoliberalisme.

Karena itu UCU melakukan serangkaian negosiasi kepada pimpinan kampus. Sayangnya, tidak ada respon. Akhirnya pada 22 Juni anggota UCU melakukan mogok sehari dan mengancam akan melakukan pemogokan lagi pada musim gugur jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Pihak universitas bergeming, yang kemudian disambut dengan pemogokan selama tiga hari oleh anggota UCU di bulan Oktober kemarin.

Ketika mendengarkan pengumuman di semua kelas yang saya ikuti tentang rencana mogok, saya penasaran seperti apa model pemogokan dosen-dosen di Inggris. Apakah bikin aksi long march keliling kampus sambil orasi-orasi, atau bahkan menutup jalan?

Ini yang menarik. Selama tiga hari, anggota UCU bikin jadwal piket di beberapa pintu masuk University of Leeds. Pusatnya ada di Parkinson Steps. Dari jam 9-12 pagi mereka membagikan leaflet dan selebaran kepada orang-orang yang melintas. Saya melihat ke beberapa kerumunan yang terbentuk mendadak. Beberapa orang terlihat asyik mendengarkan penjelasan mengenai latar belakang aksi mogok.

Beberapa saat sebelum pukul 12, mereka berkumpul di Parkinson Steps dan 2-3 orang menyampaikan orasi politiknya. “SOSR.. One step too far!”, “Academic Freedom! Academic Freedom!” dan beberapa slogan-slogan lain diteriakkan oleh para demonstran. Cukup untuk membuat para pejalan kaki dan pengendara mobil yang melintas di jalan depan kampus menengok. Beberapa dosen bergiliran menyampaikan orasi. Beberapa mahasiswa ikut memegang poster-poster UCU.

Salah satu yang saya dengar adalah orasi dari Alaric Hall, dosen sastra Inggris berambut gondrong. Dia cerita tentang bagaimana neoliberalisme adalah ancaman nyata bagi kebebasan akademik dan bahwa “Sacker’s Charter” ini adalah salah satu buktinya. Di hari terakhir aksi mogok, Hillary Benn, anggota parlemen UK dari partai Buruh yang mewakili konstituen Leeds Central bahkan datang dan menyampaikan orasinya.

Sebelum datang dan ikut orasi, Hillary Ben menulis surat dukungan terbuka kepada UCU dan mengontak langsung rektor Unversity of Leeds agar membatalkan rencana perubahan statuta. Ia juga mengirimkan surat kepada berbagai kementerian terkait agar mendengarkan suara dari dosen dan para pekerja di University of Leeds.

Oh iya, UCU juga menyiapkan acara sendiri selama tiga hari mogok tersebut. Acara yang  mereka sebut Striking Insights! – UCU teach outs berlangsung dari pukul 13 – 17 setiap hari. Temanya menarik, dari perkara relasi neoliberalisme dan ancamannya terhadap kebebasan akademik, pembahasan tentang sejarah pemogokan di Inggris, Paris Commune 1871, sampai walking tour membahas sejarah di Leeds. UCU menyebut bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk tetap berbagi pengetahun kepada para mahasiswa terutama karena kuliah di minggu tersebut terpaksa dibatalkan.

Dari ini bisa dilihat bagaimana aksi mogok ini dipersiapkan secara serius, tidak hanya dari sisi waktu yang sudah dirancang jauh-jauh hari, juga mengenai materi-materi yang UCU siapkan agar aksi mereka bisa berjalan dengan lancar dan efektif. Seperti yang saya sebut di depan, salah satu hal yang mesti dilakukan oleh para anggota UCU adalah memberikan pengumuman di kelas-kelas. Dengan begitu diharapkan mahasiswa bisa paham hak-haknya. Dalam pengumuman itu, pihak UCU sudah menyiapkan template presentasi. Mereka ingin memastikan bahwa pesan-pesannya tersebar secara luas.

Sementara para anggota UCU mengadakan piket dan juga acara-acara di atas, perwakilan mereka melakukan negosiasi intensif dengan pihak universitas. Meski belum ada hasilnya, tapi cukup bisa dilihat betapa khawatirnya universitas terhadap aksi mogok tersebut. Sehari sebelum aksi mogok dilakukan, deputi wakil rektor Tom Ward mengirimkan email ke seluruh dosen dan staf akademik di University of Leeds. Isinya mencoba menggoyahkan keyakinan para anggota UCU agar tidak ikut aksi mogok.

Sesuatu yang sia-sia karena Vicky Blake, ketua Leeds UCU, bisa meyakinkan anggotanya untuk tetap ikut aksi mogok. Ia bilang bahwa jika bersatu, serikat memiliki kekuatan yang bisa digunakan untuk menekan universitas agar mau mengubah kebijakannya. Hal serupa ia katakan saat orasi di Parkinson Steps. Blake sendiri merupakan staf akademik di University of Leeds dan ketua partai Hijau cabang Headingley, Leeds.

Hasil dari pemogokan belum diketahui karena proses negosiasi masih terus berlangsung. Yang pasti, di dunia maya ia tidak mendapatkan respon negatif dari netizen, silakan lihat di #NoSackersCharter. Tidak ada yang nyinyir bahwa mogok bikin macet jalan, mogok karena gak ada kerjaan, mogok karena tidak berpendidikan,apalagi nyinyir karena demonstran yang membuang sampah sembarangan.

One thought on “Dosen Mogok, Kuliah Libur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>