Ed

1382079_10202287258728727_1380720689_n (1)

“I take absolute and total responsibility for the result and our defeat at this election…”

Usai hasil akhir pemilihan umum diumumkan, Ed Miliband menyampaikan pidato kekalahan sekaligus pengundurannya sebagai ketua partai. Partai Buruh, yang ia pimpin sejak 2010 mengalami kekalahan total yang disebut Guardian sebagai shocking night. Mereka kalah dua kali, dari partai Konservatif dan kehilangan sebagian besar kursi di Skotlandia. Padahal, hampir semua pollster sebelumnya memprediksi pemilu ini akan berjalan ketat.

Saya ikut merasa kecewa dengan kekalahan Ed dan partai Buruh. Bukan apa-apa, sebelumnya saya tidak pernah peduli pada politik di negara-negara lain, kecuali hanya sekadar tahu saja. Tapi khusus untuk Ed, saya menyimak perkembangan pemilu di Inggris sampai akhir. Alasannya sederhana saja, hampir tiga tahun belakangan, salah satu kegiatan rutin yang saya lakukan adalah menyaksikan pidato tahunan konferensi partai Buruh dan debat Ed dan David Cameron di Prime Minister’s Questions.

Saya jarang menyaksikan sebuah perdebatan yang dilakukan secara formal namun dengan kata-kata yang tajam dan vulgar. Keduanya kerap saling mencaci di parlemen. Cameron pernah secara sarkas menyebut Ed sebagai pengkhianat kakak kandungnya sendiri. Sementara Ed pernah menyebut Cameron sebagai anak manja yang beruntung bisa menjadi perdana menteri. Sesuatu yang tidak akan ditemukan dalam politik di Indonesia.

Tertarik mengikuti pidato dan perdebatan Ed tersebut, saya minta tolong kepada seorang teman yang sedang kuliah di Inggris untuk membelikan buku biografi Ed. Judulnya Ed: The Millibands and the Making of a Labour Leader yang ditulis oleh Mehdi Hasan dan James MacIntyre.

Buku yang terdiri dari 19 bab ini menceritakan tidak hanya karier politik Ed Miliband sampai terpilih sebagai ketua partai Buruh tetapi juga menarik jauh sampai ke sejarah orang tua Ed yang merupakan imigran dari Belgia. Menurut Mehdi Hasan dan James MacIntyre, latar belakang ayahnya –  Ralph Miliband – sebagai seorang akademisi marxis dan kerap membawa teman-temannya berdiskusi secara serius di rumah ikut membentuk gagasan dan visi politik Ed.

Apa yang menarik dalam buku ini, lepas dari sikap politik Ed, menurut saya adalah bagaimana politik menjadi begitu personal dalam arti sebenarnya: politik yang tumbuh dan berkembang dari keluarga, dan di puncak karier politik harus berhadapan dengan keluarga sedarah. Ya, Ed harus berhadap-hadapan secara ketat dengan kakaknya untuk memperebutkan tampuk kepemimpinan partai Buruh. Persaingan yang membuat Marione, ibu mereka berdua, yakin bahwa tidak akan ada lagi kehangatan keluarga di meja makan. Visi politik telah memaksa keduanya menempuh jalur yang berbeda.

Sementara David Miliband dianggap mewakili visi Tony Blair mengenai New Labour, Ed mewakili visi tradisional partai Buruh yang masih kuat mengutamakan peran negara di atas pasar. Karena itu Ed akrab dengan serikat buruh di dalam partai yang memiliki pemahaman serupa. Keakraban ini yang menjadi kunci kemenangan Ed sebagai ketua partai. Lepas dari hal tersebut, karena politik dalam konteks ini menjadi begitu personal, Ed dalam kemenangannya sebagai ketua partai merasakan kebanggaan namun dalam waktu yang bersamaan juga merasa sedih atas kegagalan kakak kandungnya.

Di awal, Mehdi Hasan dan James MacIntyre lebih dulu menjelaskan latar belakang keluarga Miliband. Sebagai seorang Yahudi, Ralph dan Marione terpaksa harus meninggalkan negaranya untuk lepas dari kejaran rezim fasis Hitler. Tiba di Inggris, keduanya jatuh-bangun menghidupi keluarga, dan pandangan politiknya. Ralph kemudian bergabung sebagai staf pengajar di London School of Economics and Political Science. Sementara Marione bergabung dengan partai Buruh.

Secara gagasan politik Ed dekat dengan sang ayah, perjumpaan dengan para intelektual kiri mengasah ide-ide sosialisme Ed. Namun ia belajar politik akar rumput dan pengorganisasian massa dari ibunya. Tak heran jika Ed bisa dekat dengan organisasi serikat buruh. Dan, persatuan dengan serikat buruh pula yang terancam dengan mundurnya Ed pascakekalahan dalam pemilu kali ini.Sejauh yang saya baca dari buku ini dan bacaan-bacaan lain, Ed memang mewarisi karakter tradisional pemimpin partai Buruh sebagai seorang pemersatu.

Dari buku ini saya sedikit banyak belajar tidak hanya tentang Ed dan partai Buruh tetapi juga politik di Inggris. Pergulatan Ed yang bergabung dengan partai Buruh sejak usia 17 tahun dan menjadi aktivis mahasiswa yang tangguh mengilustrasikan bagaimana politik adalah sesuatu yang menggairahkan dan penuh dengan harapan. Ia berisi kegembiraan akan perjuangan, bukan rutinitas yang menjemukan.

Sebagai dijelaskan di buku ini, Ed disebut sebagai jenis politisi yang “lurus”. Sebagian besar orang yang diwawancara oleh Mehdi Hasan mengatakan bahwa mereka kesulitan menemukan a bad word to say about him. Namun karena itu juga ia menjadi sedikit sulit dipahami oleh orang-orang.

Ketika ia terpilih sebagai ketua partai Buruh, banyak media yang menyebutnya sebagai titik lemah partai. Sebagian besar media ini, tentu saja, adalah milik baron media Rupert Murdoch yang secara terang-terangan menyebutkan ketidaksukaannya kepada Ed. Ed disebut hanya memiliki kemampuan politik selevel aktivis mahasiswa dan pernikahannya yang terhitung terlambat pun menjadi objek kritik. Serangan bertubi-tubi dari media ini yang pada satu titik pernah membuat Ed jengkel dan menyebutkan bahwa ia tidak peduli citra di media.

Perjuangan Ed pada akhirnya harus terhenti dengan cara yang menyedihkan. Saya tidak paham kultur politik di Inggris. Tapi jika melihat pidato pengunduran dirinya, sepertinya kekalahan Ed ini adalah akhir karier politiknya. Saya kira akan menarik kalau buku biografi ini dilengkapi dengan kondisi terkini partai Buruh dan perkembangan yang dibawa oleh Ed 5 tahun belakangan. Tapi apakah akan ada yang menulis tentang orang kalah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>