Hoax dan Jurnalisme

Ada banyak momen yang saya ingat ketika diskusi dengan dosen-dosen saya. Salah satunya adalah ketika saya konsultasi mengenai esai saya dengan Matthias Revers, dosen kelas Reporting of Politics. Setelah membahas ide esai saya tentang sejarah dan perkembangan jurnalisme populis di Inggris, Ia bilang bahwa “saya akan mengkategorikan Breitbart, Infowars di Amerika Serikat dan media-media yang penuh konspirasi lainnya ke dalam jurnalisme.” (Ini mungkin kalau di Indonesia seperti pks piyungan dan sebagainya yang penuh hoax dan teori konspirasi). Lho kenapa pak? Kan mereka tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik dan apalagi menulis tentang fakta?

Jawaban dari Matthias kira-kira sebagai berikut, dan sebelum menjawab ia bilang bahwa tentu saja akan banyak orang yang tidak sepakat dengan pandangannya:

“Begini, selama ini ketika membahas jurnalisme sebagian besar orang hanya membahas dari proses produksi berita yang dilakukan media-media (mainstream). Ini tidak hanya dari sisi wartawan atau media sendiri tetapi juga berbagai riset tentang jurnalisme. Kalau di kajian media riset-riset audiens semakin marak, di kajian jurnalisme ia masih minim. Sehingga yang dilihat hanya framing berita, kepemilikan media, dsb. Media pelan-pelan menjadi elite yang dalam tahap terjauhnya membuat media dan tentu jurnalis merasa berhak untuk “mewakili suara publik” yang ironisnya berjarak dari publik yang “diwakili”.

Saya tidak sedang bilang bahwa perasaan semacam itu salah. Tapi dalam kultur semacam itu, yang berbahaya adalah ketika media merasa tahu semuanya, merasa sedang mendidik publik ketika memberitakan berbagai hal, dan merasa tahu mana yang baik dan tidak baik buat pembacanya. Dengan kata lain, ada kultur patronizing dalam relasi antara media dan publik. Dalam jangka panjang, akan ada keterputusan antara kultur yang tumbuh di media dengan apa yang dialami dan dirasakan publik. Salah satunya, itu yang menjelaskan kenapa media-media mainstream di Amerika Serikat dan Inggris tidak melihat Donald Trump dan Brexit datang.

Bahkan ketika dua peristiwa tersebut sudah terjadi dan efeknya terus kita rasakan, media sibuk membahas hoax dan fake news yang dianggap sebagai faktor paling determinan dalam dua peristiwa tersebut. Bahwa ada fenomena hoax itu benar, tapi menjadikan itu sebagai penjelas utama berbagai kejadian yang muncul sama saja dengan mengabaikan gambaran besar berbagai problem sosial politik yang ada.

Apalagi kalau ujug-ujug kesimpulan dari hoax adalah literasi media. Literasi media bukan panasea yang bisa memecahkan berbagai problem dengan instan. Dan ia juga bukan awal mula yang membuat orang percaya hoax. Jika tidak hati-hati, menggunakan literasi media sebagai penutup diskusi mengenai hoax adalah bentuk lain dari menyalahkan publik yang gampang termakan dengan hoax. Dan itu bias kelas.

Dalam konteks bahwa “media harus mampu memahami pembaca” itulah saya mengkategorikan media-media seperti Breitbart adalah jurnalisme. Lepas dari benar atau salah, hoax atau bukan, media-media ini mampu menangkap persis kegelisahan macam apa yang tumbuh di publik. Bukankah media memang harus memahami pembacanya alih-alih merasa tahu apa yang salah dan benar buat pembacanya?

Bukan berarti saya bilang fakta tidak penting. Itu tetap hal paling penting dalam jurnalisme. Tapi terobsesi pada fakta (seperti perkembangan jurnalisme data dan fact-checking yang ada dalam tahap mengkhawatirkan) bisa berbahaya. Dan dalam upaya memahami krisis jurnalisme di era post-truth, pemahaman mengenai jurnalisme harus sedikit diubah. Pembaca tidak boleh diabaikan. Itu kalau kita tidak ingin gelombang ketidakpercayaan terhadap media mainstream semakin membesar.”

Jawaban Matt ini menarik untuk dielaborasi lebih jauh. Kalau dikontekstualisasikan ke Indonesia, mungkin ia akan menyebut banyak media abal-abal ke dalam kategori jurnalisme dalam hal bahwa mereka berhasil membangun keterikatan secara emosi dengan pembaca. Tentu ini bukan untuk memberikan legitimasi terhadap media abal-abal, tetapi lebih dari itu, untuk mencoba memahami mengapa sampai saat ini masih banyak orang percaya dengan artikel dari media tersebut.

Selain itu, yang lebih penting dari itu adalah menurut saya cara pikir Matt bisa membantu kita memahami mengapa banyak orang semakin tidak percaya dengan media arus utama. Kalaupun beberapa masih percaya, setidaknya muncul keragu-raguan dengan informasinya betapapun informasi itu valid dan bisa diuji akurasinya. Saya kira ini hal yang penting untuk terus diuji dan didiskusikan mengingat kita ada di masa-masa yang membahayakan ketika politik demikian terpolarisasi dan setiap kesalahan dari media bisa berperan aktif dalam menambah ketidakpercayaan publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>