Tentang Lari dan Murakami

Pain is inevitable, suffering is optional. Kalau ada kalimat yang mampu menjelaskan pelajaran dari lari, saya kira kata-kata Haruki Murakami tersebut adalah yang paling ideal. Iya, lari, olahraga. Bukan lari dari kenyataan sebagaimana guyonan yang sudah menjadi klise, garing, dan entah kenapa masih saja banyak orang menggunakannya.

Sambil bercerita tentang aktivitas lari yang ia lakukan sejak tinggal di Massachusetts, Murakami menyisipkan banyak petuah tentang kehidupan – abstraksi atas pengalaman hariannya – di buku What I Talk About When I Talk About Running. Ia lari satu jam sehari, enam kali seminggu dan selalu menyempatkan untuk lari ketika berkunjung ke berbagai kota di berbagai negara. Termasuk meluangkan waktu ke Yunani, ke kota Marathon, tempat lari maraton lahir.

Continue reading

Beberapa hal yang saya saksikan di jalanan Jakarta 2015

Perempatan di Jakarta yang paling sering saya tahun 2015.
Perempatan jalan di Jakarta yang paling sering saya lihat tahun 2015.

Kira-kira sudah satu setengah tahun saya di Jakarta. Ada banyak peristiwa yang saya saksikan di jalanan kota ini. Sebagian di antaranya mengonfirmasi pandangan saya tentang Jakarta, kota yang tidak dikehendaki oleh banyak orang, namun pada akhirnya harus didatangi. Sejak membaca bukunya Seno, Affair dan Tiada Ojek di Paris, saya jadi tertarik untuk melihat hal-hal kecil yang saya alami atau lihat. Dalam beberapa tulisannya, Seno memperhatikan hal-hal seperti bajing yang meloncat di kabel listrik, kembalian ongkos tol 2.500,  sampai tukang ojek.

Konon dari hal-hal kecil kita bisa melihat sistem sosial budaya semacam apa yang sedang berjalan. Salah satu kebiasaan saya, ketika melihat atau menyaksikan sesuatu yang aneh (atau malah kadang biasa saja tapi menurut saya menarik), saya menuliskan sekenanya di akun media sosial. Kadang di Facebook, Twitter, juga Path. Sebagian di antaranya saya tampilkan lagi di blog ini:
Continue reading

Ngeblog

Kalau tidak ikut mata kuliah Dasar-Dasar Penulisan, mungkin saya tidak akan pernah membuat blog. Saya pertama kali ngeblog memang lebih karena “paksaan”: salah satu variabel nilai di mata kuliah semester pertama tersebut adalah blog yang bagus baik secara tampilan maupun isi. Karena waktu itu belum punya laptop sendiri dan ngirit uang dengan tidak menghabiskan waktu di warnet, saya menulis di kertas terlebih dahulu. Kalau sudah selesai baru ke warnet dan diunggah ke blog. Biasanya saya nulis tentang curhatan keluh-kesah sehari-hari dan tentang sepakbola.

Setelah punya laptop, saya mulai lebih sering nulis buat dikirim ke koran. Ngeblog hanya buat mengunggah tulisan-tulisan yang dimuat. Kalau enggak dimuat, ya enggak diunggah. Maklum, ada di lingkungan di mana menulis di koran adalah prestasi. Ini adalah fase mulai kecanduan menulis.
Continue reading