Semarang

IMG-20130323-00457 Hari ini saya baca artikel tentang kota kelahiran saya di Mojok, Semarang. Membacanya, saya jadi berpikir lagi bahwa saya belum cukup mengenal kota ini dengan baik. Kadang saya merasa berjarak dan asing dengannya meski hampir 18 tahun tinggal di Semarang sebelum kuliah di Jogja dan hanya sesekali pulang ke rumah.

Bisa jadi perasaan berjarak ini dikarenakan saya – tepatnya – tinggal di pinggiran Semarang, kecamatan paling selatan yang berbatasan dengan Ungaran. Dibanding ke kota yang butuh waktu sekitar 30 menit, jauh lebih dekat ke Ungaran yang hanya 10 menitan. Belum lagi SMP dan SMA saya sekolah di Kabupaten, ya karena faktor jarak itu. Jadi pada satu titik saya kadang merasa lebih Ungaran daripada Semarang.

Saya lebih hafal jalan-jalan tikus di Ungaran. Kalau ada teman yang mau ke Semarang dan tanya jalan-jalan tertentu, saya selalu gedandapan menjawabnya. Membedakan mana Jalan Pahlawan dan Jalan Pemuda saja saya kadang kesulitan dan sering kebolak-balik. Pernah satu ketika saya mau ke Stasiun Tawang, karena takut nyasar saya mesti tanya orang berkali-kali. Continue reading

Belajar dari Suciwati dan Sipon

Apa yang kita ingat dari sebuah kehilangan?

Mobil Avanza hitam yang saya tumpangi mulai memasuki jalanan yang berliku, naik-turun. Fikrie dan Yoyok membuka kaca jendela mobil setengah. Udara segar menyelinap masuk dari jalanan yang berkabut. Saya terbangun, rupanya sudah sampai di Batu. Jam digital di telepon genggam saya menunjuk angka 05.30. Berarti hampir 2 jam saya tertidur. Terakhir saya ingat kami masih di sekitar Kediri dan mendendangkan lagunya Fatin yang diputar radio. Suhu udara di Batu tak sedingin yang saya kira.

Karena datang kepagian, kami memutuskan ke Malang terlebih dulu untuk mencari penginapan harian. Sekadar untuk melepas penat dan merebahkan badan. Pukul 10.30 kami baru berangkat ke Omah Munir untuk bertemu Suciwati, istri almarhum Munir. Hampir satu jam kemudian kami sampai di Omah Munir. Tak susah mencari museum hak asasi manusia pertama di Indonesia ini. Dari arah Malang lurus  mengikuti jalan utama sampai alun-alun Batu. Di lampu merah pertama belok ke kanan sampai ketemu Omah Munir di sebelah kanan jalan. Tepatnya di Jalan Bukit Berbunga 2. Continue reading

Bersyukur di Tengah Keterbatasan

(Kemarin saya bongkar-bongkar file lawas di laptop dan menemukan tulisan untuk tugas Penulisan Berita di semester 2 tahun 2008. Mata kuliah yang seharusnya diambil di semester 4. Tulisan ini berkisah tentang Pak Tarno, petugas parkir di Gelanggang Mahasiswa UGM sebelum dibangun Food Court Plaza Kampus. Saya tidak tahu apakah beliau masih menjadi petugas parkir apa sudah tergusur. Saya unggah di blog tanpa diedit alias persis seperti tugas yang saya kumpulkan dulu)

“Buat saya hasil itu nomer dua mas, yang penting motor pelanggan semua aman. Saya sudah seneng dan bersyukur sekali”

Ungkapan yang jujur dan murni itu keluar dari seorang penjaga parkir di gelanggang mahasiswa UGM. Sutarno, nama penjaga parkir itu, adalah orang yang masih bisa bersyukur meskipun mendapat hasil seadanya. Apalagi di jaman seperti sekarang ini. Jaman dimana setiap orang sudah menjadi individualistis, kehidupan sosial juga sudah terlupakan. Entah itu kaya atau miskin, sudah susah kita menemukan orang yang mau bersyukur meskipun penghasilan yang diterima sedikit. Pak Tarno, begitu ia biasa disapa, membuktikan bahwa bersyukur adalah kunci kebahagiaan hidup.

Ketika ditemui di tempat parkir kafetaria kopma UGM, pak Tarno masih sibuk mengatur motor-motor yang sedang parkir. Dengan sepuntung rokok kesayangan di tangan kiri. Pak Tarno membagi kisah hidupnya yang penuh dengan perjuangan nan melelahkan. Dia masih mau bercerita meskipun jam kerjanya sudah habis dan sudah sampai pada waktunya dia istirahat siang.

Sutarno dilahirkan di Yogyakarta 41 tahun yang lalu, atau tepatnya pada tanggal 9 Januari 1967. Lahir dari keluarga yang sederhana, Sutarno merupakan anak keempat dari 5 bersaudara. Karena kelimanya adalah lelaki, terkadang mereka sering dipanggil dengan sebutan Pandawa 5 oleh tetangga-tetangganya. Bahkan Sutarno bersama adiknya yang terakhir, sering dipanggil dengan Nakula-Sadewa, mengacu pada tokoh Pandawa ke 4 dan ke 5 yang kembar. Sutarno dan adiknya memang sekilas hampir mirip.

Continue reading