Cita-cita

IMG_20150321_123001 Setiap ulang tahun, saya selalu memperbarui cita-cita (atau mimpi?).

Di usia 5 tahun, saya mulai punya cita-cita jadi pemain sepakbola. Seingat saya waktu itu cukup bisa bergabung dengan Sekolah Sepakbola (SSB). Tahun-tahun berikutnya saya meng-update cita-cita itu: jadi pemain PSIS, kapten timnas Indonesia, berduet dengan Bambang Pamungkas, main di Inggris dan Italia, dan sebagainya.

Waktu ulang tahun ke 11, saya diberi kado bola sepak ukuran 6 dan satu setel kaos-celana Juventus berwarna perak dengan nama punggung Inzaghi nomor 9. Saya ingat saya sempat kebingungan. Kenapa? Ya karena saat itu saya sudah menjadi fans Inter Milan. Bayangkan, buat Bapak Ibuk semua kaos tim bola itu sama. Di situ kadang saya merasa ingin merobek dan membakar kaos Juventus itu seperti yang biasa dilakukan ultras-ultras di Italia. (eh, enggak ding.. :-p). Continue reading

Semarang

IMG-20130323-00457 Hari ini saya baca artikel tentang kota kelahiran saya di Mojok, Semarang. Membacanya, saya jadi berpikir lagi bahwa saya belum cukup mengenal kota ini dengan baik. Kadang saya merasa berjarak dan asing dengannya meski hampir 18 tahun tinggal di Semarang sebelum kuliah di Jogja dan hanya sesekali pulang ke rumah.

Bisa jadi perasaan berjarak ini dikarenakan saya – tepatnya – tinggal di pinggiran Semarang, kecamatan paling selatan yang berbatasan dengan Ungaran. Dibanding ke kota yang butuh waktu sekitar 30 menit, jauh lebih dekat ke Ungaran yang hanya 10 menitan. Belum lagi SMP dan SMA saya sekolah di Kabupaten, ya karena faktor jarak itu. Jadi pada satu titik saya kadang merasa lebih Ungaran daripada Semarang.

Saya lebih hafal jalan-jalan tikus di Ungaran. Kalau ada teman yang mau ke Semarang dan tanya jalan-jalan tertentu, saya selalu gedandapan menjawabnya. Membedakan mana Jalan Pahlawan dan Jalan Pemuda saja saya kadang kesulitan dan sering kebolak-balik. Pernah satu ketika saya mau ke Stasiun Tawang, karena takut nyasar saya mesti tanya orang berkali-kali. Continue reading

Belajar dari Suciwati dan Sipon

Apa yang kita ingat dari sebuah kehilangan?

Mobil Avanza hitam yang saya tumpangi mulai memasuki jalanan yang berliku, naik-turun. Fikrie dan Yoyok membuka kaca jendela mobil setengah. Udara segar menyelinap masuk dari jalanan yang berkabut. Saya terbangun, rupanya sudah sampai di Batu. Jam digital di telepon genggam saya menunjuk angka 05.30. Berarti hampir 2 jam saya tertidur. Terakhir saya ingat kami masih di sekitar Kediri dan mendendangkan lagunya Fatin yang diputar radio. Suhu udara di Batu tak sedingin yang saya kira.

Karena datang kepagian, kami memutuskan ke Malang terlebih dulu untuk mencari penginapan harian. Sekadar untuk melepas penat dan merebahkan badan. Pukul 10.30 kami baru berangkat ke Omah Munir untuk bertemu Suciwati, istri almarhum Munir. Hampir satu jam kemudian kami sampai di Omah Munir. Tak susah mencari museum hak asasi manusia pertama di Indonesia ini. Dari arah Malang lurus  mengikuti jalan utama sampai alun-alun Batu. Di lampu merah pertama belok ke kanan sampai ketemu Omah Munir di sebelah kanan jalan. Tepatnya di Jalan Bukit Berbunga 2. Continue reading