Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Pertama, gagal menjangkau publik secara umum dan media secara khusus. Hal ini misalnya, kebanyakan bisa dilihat dari kritik yang dilontarkan oleh para peneliti baik yang berasal dari kampus atau lembaga pemantau media. Hal ini sebenarnya tidak melulu berkaitan dengan kritik, dalam kerangka yang lebih luas ia juga berkaitan dengan penelitian-penelitian mengenai media.

Nikki Usher, professor profesor media di George Washington University, pernah menyebut bahwa para peneliti media di Amerika Serikat kerap membuat kritik dan penelitiannya tidak mudah dipahami oleh jurnalis dan juga publik. Dengan kata lain, hanya berputar-putar saja di komunitas peneliti. Pada satu sisi ia tidak banyak berdampak atau mendorong perubahan dalam laku jurnalistik. Di sisi lain ia juga tidak punya daya dorong yang kuat sebagai amunisi literasi media bagi publik.

Kedua, minimnya tradisi kritik-autokritik dari pekerja media di Indonesia. Jarang sekali kita menemukan jurnalis (termasuk juga media itu sendiri) yang mau melakukan kritik terhadap diri mereka sendiri di depan publik. Padahal mengkritik diri sendiri, termasuk mengakui kesalahan jika melakukannya, justru penting untuk merawat jurnalisme itu sendiri.

Banyak sekali contoh di mana media (khususnya media daring) mengubah sebuah berita tanpa memberitahu pembacanya. Terlihat sepele, tapi hal semacam ini penting sebagai bentuk keterbukaan dan menjaga kepercayaan publik. Kegagalan untuk menambahkan pemberitahuan semacam itu bisa dibaca sebagai keengganan untuk mengakui kesalahan yang dilakukan.

Hal lain berkaitan dengan kritik yang dilakukan oleh satu media ke media lain. Bisa dikatakan, kritik semacam ini nyaris absen dalam tradisi jurnalisme di Indonesia khususnya pasca-1965 setelah media-media kiri dibabat habis. Jangankan melakukan kritik, memberitakan media lain pun terasa tabu dilakukan. Saya masih ingat pemberitaan Metro TV, Okezone, dan beberapa media lain ketika mobil TV One yang dilempar bom molotov di Bandung pada tahun 2016. Dalam berita-berita tersebut, “TV One” dihilangkan dan diganti dengan “televisi swasta”. Pola semacam ini bisa dengan mudah ditemukan di banyak berita. Pengecualian biasanya berlaku untuk berita-berita yang secara luas mendapat perhatian publik.

Barangkali memang berlebihan jika berharap media mengkritik media lain. Namun sebenarnya ini penting untuk kebebasan pers yang sehat itu sendiri. Di Inggris, misalnya, kritik dan perdebatan terbuka antarmedia sudah menjadi hal yang biasa. Bukan hal aneh membaca media mempersoalkan pemberitaan media lainnya. Media yang sering terlibat dalam pertukaran kritik dan debat di antaranya adalah Daily Mail dan Guardian.

Ketiga, tendensi anti-kritik dari jurnalis dan pekerja media. Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, kritik terhadap media kerap ditanggapi dengan sikap defensif yang kuat. Alih-alih menerima kritik, yang ada pemberi kritik akan diserang balik dan justru menjauh dari substansi kritik yang disampaikan. Klise “kritik harus bertanggung jawab” atau “kritik harus disertasi solusi” terus direproduksi untuk mementahkan kritik itu sendiri. Memang terasa ada ironi di sini, media sebagai tukang kritik justru enggan dikritik.

Tentu saja ada pengecualian, ada media-media yang terbuka dengan kritik. Tempo, misalnya, punya ruang diskusi untuk membedah terbitannya yang dianggap kontroversial dengan melibatkan pembicara dari luar. Di antaranya adalah diskusi ketika Tempo dikritik dalam pemberitaannya soal Ahok dan investigasi kasus pizza tahun 2016 lalu. Ironisnya, ada yang menganggap diskusi semacam itu sebagai cara untuk menaikkan pamor.

***

DALAM suasana semacam itulah buku Cak Rusdi ini, begitu ia akrab disapa, harus ditempatkan. Sebagian besar artikel dalam buku ini merupakan ulasan dan kritik tentang media, tidak hanya di Indonesia tetapi juga global. Sebagai orang yang sudah menjadi jurnalis lebih dari 25 tahun dan bekerja di beberapa media, Rusdi tahu seluk-beluk profesi yang ia cintai tersebut. Dan karena itu, kritik-kritik yang ia ajukan menemukan fondasi yang kokoh.

Rusdi kerap mengkritik apa yang menurutnya justru akan merendahkan jurnalisme. Ia, misalnya, pernah mengeluh betapa partisannya jurnalis dan media pada pemilu 2014 lalu. Ironisnya, banyak teman-temannya sendiri yang melakukan hal tersebut. Sikap yang partisan – dan dilakukan tanpa malu-malu – adalah bom waktu yang membuat jurnalisme pelan-pelan bisa kehilangan kepercayaan publik. Ketika kepercayaan publik hilang, maka esensi jurnalisme untuk melayani kepentingan publik juga mengabur.

Lain waktu, Rusdi pernah bercerita tentang jurnalis-jurnalis muda. Ia tak segan memuji dan menceritakan berulang-ulang jika ada jurnalis muda yang pernah menjadi anak buahnya bekerja dengan gigih. Namun ia juga akan gampang marah jika jurnalis-jurnalis muda tidak memiliki kegigihan sebagaimana yang dimiliki oleh jurnalis di generasinya. Saat seperti itu ia akan menceritakan pengalamannya sendiri atau orang lain, dari kegigihan mengejar narasumber sampai keengganannya menggunakan alat perekam ketika melakukan wawancara.

Pengalaman yang Rusdi miliki membuat buku ini jadi menarik karena ia memberikan perspektif kepada publik bagaimana seorang jurnalis memandang secara kritis jurnalisme itu sendiri. Selain dari cerita mulut ke mulut, media sosial, atau sejumlah kecil penelitian, sulit sekali kita membaca refleksi atau kritik dari kalangan jurnalis sendiri. Di Indonesia, sejauh yang saya ingat, buku yang berisi ulasan (apalagi kritik) tentang media yang ditulis oleh jurnalis jumlahnya sangat sedikit.

Dapur Media (2014) yang diterbitkan Pantau merupakan kumpulan liputan mengenai media. Ada juga buku Ahmad Arif berjudul Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme (2010) yang membahas bagaimana pemberitaan media-media mengenai bencana alam – dalam buku ini khususnya pada liputan tsunami Aceh 2004 –  pada gilirannya justru bisa menimbulkan bencana jurnalisme. Andreas Harsono dalam Agama Saya adalah Jurnalisme (2010) mengkritik beberapa problem dalam jurnalisme di Indonesia, dari soal istilah jurnalisme Islam, penggunaan byline dan firewall, sampai problem pendidikan jurnalisme di Indonesia.

Buku-buku semacam itu penting dan berfungsi sebagai cermin bagi para jurnalis. Cermin yang semakin penting ketika media semakin terindustrialisasi dan jurnalis bisa jadi teralienasi dari apa yang dilakukannya sendiri.

***

BUKU ini berasal dari status Facebook, catatan blog, materi pelatihan jurnalistik, juga liputan yang dilakukan oleh Rusdi ketika masih bekerja di media. Buku ini juga bisa dibilang menjadi ensiklopodi sederhana dari pengalaman dan pengetahuan Rusdi tentang dunia media karena dari sini kita bisa melihat lika-liku kehidupan Rusdi sebagai seorang jurnalis. Dalam Mogok Wartawan The Times dan Koran Jakarta dan Wartawan Bermasalah, Rusdi menceritakan pengalamannya ketika pada tahun 2011 masih bekerja di Koran Jakarta dan menggalang aksi mogok sebagai bentuk solidaritas terhadap para jurnalis yang dipecat di Koran Jakarta. Hasilnya, ia juga kemudian dipecat bahkan dilaporkan oleh pemimpin redaksinya dengan alasan menggelapkan fasilitas kantor. Tuduhan yang kemudian tidak terbukti.

Dari cerita tersebut, Rusdi menghubungkannya dengan dunia media Indonesia secara umum di mana jurnalis tidak memiliki banyak keberanian dalam memperjuangkan hak-haknya sendiri. Jurnalis berada dalam posisi yang rentan dari kesewenang-wenangan perusahaan. Posisi yang ironis karena jurnalis – melalui berita-beritanya –  kerap dianggap sebagai salah satu pembela hak asasi yang paling tangguh di alam demokrasi.

PHK Trust, 5 Tahun Lalu mengisahkan kronologis pemecatan jurnalis-jurnalis Trust di tahun Saat saat itu Rusdi menjadi ketua Serikat Karyawan Trust (Sekat). Ia menceritakan dengan detail bagaimana proses pemecatan terjadi yang melibatkan politik kantor dan relasi pertemanan sesama jurnalis yang berpengaruh terhadap kondisi ruang redaksi. Cerita semacam ini lazim terjadi dalam industri media di Indonesia. Bertahun-tahun setelah dipecat, Rusdi tidak juga menerima pesangon yang menjadi haknya.

Dalam artikel “Siapa yang Tendensius: Tempo atau Ilmuwan dan Perlokusi Peneliti”, Rusdi menulis tentang riset yang dilakukan oleh kampus yang menyoroti pemberitaan Tempo mengenai Asian Agri di tahun 2007. Riset tersebut menunjukkan bahwa peneliti dari universitas pun memiliki biasnya sendiri ketika mengklaim mengeklaim bahwa media memiliki bias.

Dalam “Hoax, Para Monyet dan Wartawan”, Rusdi mengkritik kecenderungan para wartawan yang tidak pandai berkaca. Pada sisi mereka mencibir orang-orang yang suka menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Di sisi lain, mereka juga gemar memungut informasi yang sumbernya tidak jelas lantas menjadikannya sebagai berita.

Cerita menarik juga ada dalam “Sinar Harapan, Innalilahi”. Ini artikel paling panjang dalam buku ini dan sekaligus paling personal bagi Rusdi. Ia menulis tentang tutupnya Sinar Harapan pada 2016 lalu dan mengenang ayahnya yang dulu merupakan kontributor koran tersebut di Situbondo, Jawa Timur. Ketika masih kecil, Rusdi beberapa kali diajak ayahnya ketika meliput untuk Sinar Harapan. Salah satu yang berkesan buatnya ketika diajak meliput Muktamar NU tahun 1984.

Semuanya ada 38 artikel dalam buku ini yang disusun berdasar kedekatan tema yang ditulis Rusdi dari tahun 2007 sampai 2016. Tulisan-tulisan Rusdi mengenai media yang ada di blog dan di status-status Facebooknya jumlahnya jauh lebih banyak dari yang dimuat dalam buku ini. Namun karena beberapa alasan, tidak semua bisa dimasukkan dalam buku ini.

Setidaknya, tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini sudah cukup untuk menyampaikan pesan Rusdi bahwa jurnalisme mesti dirawat dengan kritik. Bukan untuk mengerdilkan jurnalisme itu sendiri, sebaliknya, untuk menjaga martabat jurnalisme dan kebebasan pers. Laku jurnalistik tidak hanya melibatkan media semata melainkan juga publik. Dengan begitu, kritik sudah sewajarnya datang dari mana saja dan mestinya bisa diterima dengan besar hati. Karena jurnalisme bukan monopoli wartawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>