Katrin

Beberapa minggu yang lalu, saya mengirimkan email kepada dosen-dosen saya di School of Media and Communication University of Leeds. Praktis sejak lulus awal tahun lalu dan kembali ke Indonesia, komunikasi saya dengan dosen-dosen di Leeds semakin terbatas. Dan saya kira momen pandemi ini waktu yang tepat untuk mengirimkan email dan bertanya kabar.

Di masa pandemi, saya merasa pertanyaan mengenai kabar tidak lagi menjadi basa-basi. Tentu saja karena kita tidak tahu apakah kita akan selamat melalui pagebluk ini atau tidak. Karena itu saya memberanikan diri untuk mengirimkan surat kepada dosen-dosen ya, guru yang mengajarkan saya banyak hal tidak hanya hal akademik tetapi juga kehidupan di negara yang asing buat saya.

Salah satu yang saya kirimi email adalah Katrin Voltmert, dosen pembimbing tesis saya. Sejak di Leeds, saya biasa memanggilnya Katrin, mengabaikan embel-embel professor karena ia sebagaimana banyak professor di kampus saya tidak terlalu menganggap hal itu penting. Lebih nyaman memanggil nama depan satu sama lain.

Katrin sudah pensiun sejak 2018 lalu, saya termasuk mahasiswa terakhir yang ia bimbing. Karena sudah pensiun dan saya tidak tahu apakah ia masih menggunakan email yang selama ini kami gunakan untuk berkorespondensi, saya tidak berharap email saya terkirim, apalagi dibalas.

Saya nekat saja mengirim dan untungnya email Katrin masih aktif. Saya hanya bertanya tentang kabar sembari memberikan kabar singkat tentang apa yang saya kerjakan setelah lulus. Awalnya saya ingin sedikit bercerita tentang kondisi di Indonesia, tapi mengingat kondisi di Inggris juga buruk, saya tidak mau berbagi kabar buruk. Akhirnya saya putuskan mengirim surat seirit mungkin.

Beberapa hari kemudian, ternyata email saya dibalas dengan panjang lebar. Katrin, orang Jerman yang sudah demikian menjadi orang Inggris dengan mempraktikkan British politeness, tentu saja mula-mula mengucapkan terima kasih karena saya mengemailnya. Ia sudah tinggal di Inggris lebih dari 20 tahun. Selain berbasa-basi mengucapkan terima kasih, ia juga bilang senang karena ada kabar dari mahasiswa yang pernah dibimbingnya.

Ia lalu menjawab pertanyaan saya tentang kabar. Ia menjawab dengan ringkas dan padat. Ia baik-baik saja dan bekerja dari rumah. Meski sudah pensiun, ia bilang tetap merupakan seorang akademisi dan bekerja dari rumah bukan alasan untuk mengabaikan banyak hal. Kata Katrin, selalu ada buku yang belu dibaca, selalu ada ide tulisan yang belum dieksekusi, bekerja dari rumah ada kesempatan untuk menyelesaikannya.

Saya kira penjelasan Katrin tentang pekerjaan tadi merupakan pesan terselubung kepada saya: ini lho, ibu-ibu yang sudah pensiun saja masih semangat membaca dan menulis, masak kamu yang baru memulai karier sebagai akademi enggak?

Setelah itu, Katrin menceritakan tentang aktivitasnya bersama suaminya. Ia juga bercerita tentang musim semi yang barusan datang di Inggris. Kata Katrin, ia dan suaminya sangat menikmati bunga-bunga musim semi yang bermekaran dan suara burung-burung di sekitar rumahnya yang merdu. Membacanya sungguh bikin perasaan hangat dan saya merasa bersyukur karena kenal dan pernah dibimbing oleh Katrin.

Selama kuliah, praktis saya hanya bertemu dengan Katrin 5-6 kali saja untuk bimbingan tesis. Ia berasal dari jurusan yang berbeda sehingga saya tidak diajar secara langsung. Namun karena tema yang saya ambil cocok dengan kajiannya, saya memutuskan untuk menulis nama Katrin dalam list pembimbing yang mesti diajukan ke pihak School dan beruntung disetujui.

Pertama kali ketemu, kalau tidak salah di musim dingin 2017 sebelum winter break. Kami hanya bertemu sekitar 10 menit di ruangannya, meski saya berhari-hari menyiapkan materi untuk pertemuan sebentar itu. Tentu saya mau memberikan kesan yang baik pada pembimbing saya bahwa saya memahami apa yang akan saya kerjakan. Saya berusaha membaca beberapa teori termasuk menghabiskan bukunya yang berjudul The Media in Transitional Democracies, buku yang mendapatkan penghargaan buku terbaik dalam Internasional Journal of Press/Politics Book Award tahun 2017.

Mungkin melihat kegugupan saya, Katrin tidak banyak bertanya tentang teori, ia hanya bertanya tentang apa yang mau saya kerjakan. Dengan patah-patah saya menjelaskan saya ingin meneliti tentang oligarki media di Indonesia. Tanpa mengomentari lebih detail dalam proposal yang sudah saya kirimkan sebelumnya, Katrin merekomendasikan beberapa bacaan dan saya masih mengingat masukannya dengan baik.

“Untuk memahami model oligarki media di Indonesia, coba kamu baca dulu literatur tentang ekonomi politik media di Amerika, di Eropa Timur khususnya Rusia, dan di Italia. Apa persamaan dan perbedaannya? Selain itu, coba pelajari karakteristik kepemilikan media ala Rupert Murdoch, Silivio Berlusconi, dan Andrej Babiš yang baru saja jadi perdana menteri Ceko.”

“Silakan kamu bandingkan lebih dulu sistem media di tempat-tempat yang saya bilang tadi juga para oligark media di berbagai tempat. Itu akan memberikan sense kepada kamu untuk meletakkan kajianmu tentang oligarki media di Indonesia ada di mana. Diskusi kita selanjutnya saya harap kamu sudah bisa menerjemahkannya ke dalam literatur review di proposal.”

Lebih lanjut Katrin juga menjelaskan bahwa untuk mahasiswa master, mendapatkan data yang baik saja tidak cukup. Mahasiswa master harus bisa meletakkan kajian ke dalam kajian-kajian serupa yang sudah ada. Nasihat semacam ini saya ingat sampai sekarang dan kerap ia ulang-ulang dalam beberapa pertemuan kami selanjutnya.

Sesekali juga ia bercerita tentang pengalamannya. “Saya itu pernah kesel banget. Di dalam pesawat yang saya pakai, masak korannya cuma ada koran-koran sayap kanan macam Daily Mail. Ya sudah mau tidak mau saya baca.” Dan cerita-cerita lainnya.

Setiap pertemuan selalu berlangsung di ruangannya yang terletak di gedung Clothworkers North. Tentu saja saya selalu deg-degan setiap akan masuk ke ruangannya, betapapun saya sudah bersiap-siap sejak beberapa hari sebelumnya.

Katrin tidak banyak memberikan rekomendasi buku dengan menyebutkan judulnya secara detail. Ia lebih banyak membicarakan konsep dan meminta saya mencarinya, apapun buku yang saya dapatkan. Tapi untuk riset tesis ini ada dua buku yang saya jadikan pegangan, selain bukunya Katrin tadi, juga buku yang berjudul Comparing Media Systems: Three Models of Media and Politics yang ditulis Hallin dan Mancini. Saya melacak apa yang disampaikan Katrin melalui dua buku tersebut. Dan saya bisa melihat Katrin puas dengan apa yang saya kerjakan setiap kami bertemu. Atau setidaknya itu perasaan saya yang melihat ia tidak komplain, berbeda perlakuan dengan yang diterima teman saya.

Perjumpaan-perjumpaan itu yang tidak berlangsung lama namun intens sangat berkesan buat saya. Kerendahatiannya sebagai seorang ilmuwan, enggan dipanggil profesor yang menunjukkan ia seorang yang egaliter, serta wawasannya yang luas yang selalu membuat saya selalu tercerahkan setiap kali keluar dari pintu ruangannya. Saya selalu tertantang dan tentu itu menchallenge diri secara akademik merupakan hal yang baik buat kedewasaan akademik kita. Dan untuk itu sekali lagi saya berterima kasih kepada Katrin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>