Ke Coventry

London masih subuh. Aku lihat aplikasi cuaca di hp, 8 derajat celcius. Kami berlari menuju stasiun Turnham Green. Kereta menuju Coventry dari stasiun London Euston kurang dari satu setengah jam lagi, sementara kami masih harus naik kereta dua kali pindah jalur untuk menuju ke stasiun London Euston. Was-was kalau tidak sampai tepat waktu, alamat gagal rencana ke Coventry. Nia jalan kencang sekali, sesekali ia menengok ke belakang dan menungguku. Untung masih nyandak. 15 menit sebelum kereta London Midland berangkat kami sudah sampai di stasiun. Perjalanan selama kurang lebih dua jam dimulai.

Ini hari ketigaku di London dan pengalaman pertama naik kereta ke kota lain di Inggris. Aku antusias. Meski ngantuk aku coba tetap melek melihat ke luar jendela. Aku masih tidak sadar berada di Inggris, ingatku aku masih di Indonesia dan dalam perjalanan kereta biasa. Yang kulihat di luar pemandangan kota yang biasa saja. Sesekali padang rumput dengan sapi dan kuda. Beberapa tembok di stasiun ketika kereta berhenti banyak yang dicorat-coret. Setelah berhenti sekitar 2-3 stasiun, aku melihat stadion Wembley dari kejauhan. Besinya yang melengkung tinggi dan nama “Wembley” yang begitu besar terlihat dari kereta. Ini stadion terbesar di Inggris tempat pertandingan final partai-partai penting seperti final piala FA, piala Liga, final divisi championship, dsb dipentaskan. Musim 2017-2018 ini Totenham Hotspurs menggunakannya sebagai kandang sambil menunggu stadionnya selesai direnovasi.

Di sampingku duduk seorang perempuan yang hampir menghabiskan waktunya di kereta dengan telepon, dari berangkat sampai tiba. Sepertinya ia bicara dalam Bahasa India. Di belakang kursiku duduk seorang perempuan, ia beberapa kali bersendawa, kencang sekali. Di belakangnya lagi ada beberapa laki-laki yang berisiknya minta ampun, meski tidak lama. Sesekali nguping, aku mendengar mereka membahas Game of Thrones dan salah seorangnya mengidolakan Cersei Lannister. Hah?!

Kami tiba di stasiun Coventry pukul 9.15. Di kereta lumayan hangat tapi begitu keluar pintu, angin berdesir. Dingin sekali. Aku cek di hp, 14 derajat celcius. Tubuh tropisku masih belum bisa beradaptasi dengan angin dan cuaca di sini. Dari stasiun kami naik bis untuk menuju tempat pertemuan. Sekitar 30 menit dengan kurang lebih 20 halte bis yang dilewati.

Nia mengajakku ke pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berkomunitas di Lingkar Studi Cendekia (LSC) di rumah Ariyo dan Fitri, pasangan suami istri yang sedang kuliah di sini. Mereka akan mendiskusikan riset-riset disertasinya.

Fitri Nurinsani, mahasiswi S3 di University of Warwick memulai obrolan dengan mendiskusikan penelitiannya mengenai fenomena fake news, pengaruh teknologi dan kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia dalam merespon fenomena tersebut. Ia mengambil data dari fenomena pemilihan gubernur Jakarta beberapa saat lalu di mana media sosial menjadi salah satu medan pertempuran yang penuh dengan hoax. Fitri bercerita bahwa ia diminta oleh supervisornya untuk membaca konsep ruang publik Juergen Habermas dan juga tulisan-tulisan Manuel Castells. Aku kira riset Fitri akan jadi riset yang penting jika mengingat fenomena berita palsu yang sedang menjamur di Indonesia dan pemerintah, khususnya kominfo, masih kewalahan untuk mengatasinya.

Eunike Gloria, mahasiswi di University of Manchester mempresentasikan riset disertasinya. Ia meneliti bagaimana pengetahuan tentang kemiskinan di(re)produksi di Indonesia dari tahun 1998 – 2014. Ia melacak kelindan aktor negara, institusi global, masyarakat sipil yang membuat wacana kemiskinan di Indonesia selalu menjadi hal yang seksi dibahas namun tidak pernah muncul narasi alternatif yang benar-benar bisa mengubah kemiskinan itu sendiri. Hal ini karena narasi utama terus dilanggengkan dan sulit untuk digugat. Nike menjelaskan peran aktor-aktor negara dalam pelanggengan narasi tersebut.

Nia bercerita tentang disertasinya mengenai LGBT Muslim di UK. Belajar di jurusan digital journalism di Goldmiths University of London, disertasi Nia berupa karya jurnalistik. Ia menceritakan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam membuat liputan. Termasuk di antaranya adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mendekati kelompok LGBT Muslim yang merupakan minoritas berlapis. Bukan hal yang mudah. Apalagi ada salah satu narasumbernya ada yang merupakan tokoh agama.

Masih ada Ariyo, Dzulfian Syafrian, juga Zakki Arrobi yang mempresentasikan penelitiannya, temanya menarik, tapi akan kuceritakan di lain kesempatan saja. Lewat pukul 18.30 kami pulang.

Kesan pertamaku ke Coventry, ini kota yang sunyi, cocok buat menyendiri dan fokus belajar. Di kanan-kiri aku lihat banyak padang rumput. Saat pulang melalui stasiun Tile Hill, di sampingnya ada padang rumput yang luas. Aku melihat ada beberapa kuda. Matahari sore menampakkan wajahnya sebentar. Angin berhembus. Dingin. Tenang.

IMG_20170902_190336_393

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>