La la la la la Leeds

WhatsApp Image 2018-06-25 at 02.50.48

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. ‘Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…”

Jus jeruk, coklat, susu, air putih, dan sepatu melayang di udara lapangan Millenium Square, Leeds. Menit 62, Inggris sudah unggul 6-0 dari Panama, suporter Inggris yang berada di sebelah kiri layar sudah tidak fokus menonton. Mereka berdiri, bernyanyi dan menari. Suar berwarna biru sudah dinyalakan. Polisi mulai mendekat dan bikin barikade, satu polisi merekam kerumunan dengan kamera. Tidak ada kerusuhan, hanya ratusan suporter yang merayakan kemenangan Inggris.

Dari kerumunan yang menari dan bernyanyi, sebagian besar wajah anak-anak muda. Mungkin seusia anak-anak SMP atau SMA. Inggris beruntung, tim nasionalnya hampir selalu tampil mengecewakan di turnamen-turnamen besar tapi mereka punya fans fanatik. Sama seperti timnas Indonesia. Kalaupun mereka masih lama tampil mengecewakan, setidaknya anak-anak muda ini sudah mulai menunjukkan fanatismenya. Dimulai dari keyakinan bahwa Inggris adalah negeri penemu sepakbola modern.

It’s coming hooomee, football’s coming hoomeee… Ini lirik yang paling sering dinyanyikan orang-orang yang kemarin berkumpul di Millenium Square. Frasa ini dipakai sebagai slogan Piala Eropa 1996 ketika Inggris menjadi tuan rumah. Keyakinan sebagai penemu dan rumah sepakbola itu dilengkapi dengan kebanggaan patriotik yang menempatkan negara mereka di atas negara-negara lain.

Seorang kenalan bercerita bahwa ayahnya susah menerima Jerman juara dunia 2014. Kata dia, Jerman boleh saja juara dunia, tapi kita pernah mengalahkan mereka 5-1 di Munich. Saya masih mengingat kemenangan yang dimaksud ini ada di kualifikasi Piala Dunia 2002. Michael Owen bikin hattrick. Dan kemarin, orang-orang tetap menjadikan Jerman sebagai musuh besarnya.

“There were no more German bombers in the air, No more German bombers in the air. Cos the RAF from England shot them down, ‘Cos the RAF from England shot them down…” (Nyanyikan dengan nada kalau kau suka hati tepuk tangan)

Laman Wikipedia menjelaskan bahwa lagu ini pada awalnya dinyanyikan oleh anak-anak sekolah dan tentara Inggris selama perang dunia 2. Hooligans kemudian mengadopsi dan membawanya ke stadion. Lagu itu bercerita tentang keberhasilan militer Inggris mengalahkan Jerman di perang dunia. Di Piala Dunia 2006 yang diadakan di Jerman, asosiasi sepakbola Inggris FA melarang suporter menyanyikan lagu itu karena menilai itu ofensif. Larangan yang kemudian memicu perdebatan publik di media-media di Inggris.

Kemarin di Millenium Square, lagu itu juga dinyanyikan berkali-kali. Sama sekali tidak ada lagu cacian untuk Panama. Saya kira mereka terobsesi dengan Jerman yang di lapangan hijau terbukti jauh lebih berprestasi. Pasti sulit sekali menerima kenyataan bahwa Inggris terakhir kali menjuarai turnamen besar pada tahun 1966, tentu saja anak-anak muda yang berkumpul kemarin sore belum lahir.

Selain Jerman, sasaran serangan lain adalah Manchester United. Sebabnya, meski orang Inggris, anak-anak muda ini tetap suporter Leeds United yang mensyaratkan mereka membenci Manchester United, tim yang di masa lalu pernah menjadi musuh bebuyutan Leeds. Sekali lagi, jika melihat usianya, dan melihat MU dan Leeds United yang setidaknya sudah 14 tahun tidak berada di satu liga yang sama, ini adalah jenis kebencian yang diwariskan.  Karena itu, kemarin siang, sementara di Rusia Inggris berpesta gol ke gawang Panama, mereka menyanyikan lagu-lagu anti- Manchester United.

Beberapa kali mereka melepas sepatu sambil menyanyikan “If you hate Man U shoes off!” atau “Manchester wanker wanker wanker”, tipikal pisuhan khas suporter di Liga Inggris. Ketika ujicoba Inggris vs Kosta Rika di Ellan Road, beberapa hari sebelum piala dunia, suporter yang duduk di belakang gawang selalu menyoraki setiap kali nama-nama pemain Manchester United dibacakan. “Boooooo…” Tapi tentu saja mereka berteriak senang ketika pemain MU (seperti Rashford ketika melawan Kosta Rika, atau Jesse Lingard ketika melawan Panama) mencetak gol.

Chant yang paling saya suka kemarin sore adalah chant yang biasa saya dengar di pub-pub di Inggris, ketika orang-orang sudah sedemikan mabuk: Let’s go fucking mental. Pada mulanya satu orang akan berada di tengah sementara yang lainnya membentuk lingkaran, ia akan memberi aba-aba sebelum semuanya membuka baju dan merapat sambil lompat-lompat.

Let’s go fucking mental, let’s go fucking mental. La la la la Leeds! La la la Leeds!  Saya sesekali ikut melompat dan bernyanyi. Karena berdiri persis di pinggir pagar pendek yang memisahkan suporter yang duduk di kursi dan berdiri, saya beberapa kali terdesak ke pagar dan hampir jatuh. Orang-orang yang duduk hanya melihat dengan tertawa-tawa. Satu orang yang duduk dan kena lemparan botol air juga cuma tertawa. Tentu saja tertawa, tidak ada pilihan untuk marah-marah atau menantang berkelahi.

Yang bikin saya kaget, anak-anak muda ini menyanyikan lagu dukungan untuk Tommy Robinson. Tommy adalah aktivis sayap kanan Inggris yang kerap menyebar kebencian terutama terhadap kelompok minoritas seperti muslim dan imigran. Karena aktivitasnya itu ia keluar masuk penjara. Ia adalah pendiri English Defence League, organisasi sayap kanan yang anggotanya sebagian besar hooligans dari berbagai suporter klub sepakbola di Inggris. Organisasi ini sangat anti terhadap Islam dan investigasi kepolisian di tahun 2011 sempat mengungkap rencana mereka yang akan meledakkan masjid di Inggris.

Tommy juga ikut menggerakkan Football Lads Alliance yang punya tujuan sama dengan EDL, mereka sering mengkampanyekan pesan-pesan anti-Islam. Suporter Leeds United ikut bergabung dalam FLA ini. Terakhir, mereka bikin aksi demonstrasi peringatan satu tahun bom Manchester. Aksi demonstrasi yang mendapat tandingan dari berbagai kelompok sayap kiri, serikat buruh, dan organisasi anti-fasis.

Meski ironis jika membandingkan kelompok suporter yang rasis ini dengan tim nasional Inggris yang terdiri dari latar belakang pemain yang beragam, sebagian besar imigran, tapi ia tidak mengagetkan. Kelompok-kelompok suporter yang rasis bisa mendapatkan suplai kebenciannya dari media-media sayap kanan seperti The Sun yang bahkan menyerang pemain Inggris sendiri. Paling anyar tentu serangan media yang brutal terhadap Raheem Sterling beberapa hari sebelum piala dunia. Serangan yang bisa semakin brutal jika Inggris tampil mengecewakan. Sekarang setidaknya orang-orang masih bisa senang dan berharap bahwa sepakbola akan benar-benar pulang ke rumahnya.

20180624_135126

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>