Liverpool, Dua Stadion, Satu Toko Buku

20171221_110659

Ingatan yang dirawat adalah sumber kekuatan. Di Anfield, saya melihat bagaimana ingatan tentang episode paling menyedihkan untuk Liverpool dirawat. Episode yang tentu saja tidak pernah dibayangkan oleh para keluarga korban, juga orang-orang di Liverpool, yang berpuluh tahun kemudian akan hidup dengan mengingatnya.

Karangan bunga dan lilin berdatangan ke salah satu sudut stadion yang terletak di depan tribun utama, diletakkan di depan Liverpool Memorial. Ia dibangun untuk mengenang 96 fans Liverpool yang meninggal dalam tragedi Hillsborough, 15 April 1989. 96 nama korban ditulis di tugu memorial. Tempat di sekitar memorial yang terletak di dekat pintu masuk pemain diberi nama 96 Avenue.

Saya membaca sebuah kertas dalam karangan bunga yang diletakkan sebelum saya datang. Seorang keponakan yang merindukan pamannya. “To my amazing uncle, I miss you more every day, Love you so much”. Di sebelahnya ada kotak bekas wadah abu crematorium dan bungkus permen merek Mark and Spencer yang diberi tulisan “Always remember”. Saya membayangkan itu permen kesukaan salah satu korban. Entah.

Di beberapa tempat di Merseyside, ingatan tentang tragedi itu salah satunya dirawat dengan memboikot The Sun, koran sayap kanan paling populer di Inggris dengan nyaris 13 juta eksemplar terbit setiap hari. Di kios-kios koran ada poster dengan tulisan “The Sun Not Welcome Here”. Ada juga poster seruan untuk memboikot The Sun.

Boikot itu bermula dari liputan The Sun beberapa hari setelah tragedi, ketika keluarga korban masih menunggu pemakaman, dan banyak suporter lain masih berada di rumah sakit. Dalam artikel headline yang berjudul “The Truth”, wartawan The Sun Kelvin MacKenzie dengan bersumber pada sumber anonim dari polisi menyebut bahwa yang patut disalahkan dari tragedy Hillsborough adalah fans Liverpool sendiri. Terutama karena mereka menonton bola sambil mabuk sebelum masuk stadion. Narasi The Sun persis seperti narasi polisi yang menyalahkan korban.

Pada menit-menit awal tragedi stadion Hillsborough, kata Kelvin, fans Liverpool mengencingi polisi, melecehkan perempuan, dan beberapa mengambil dompet milik korban yang terjatuh. Protes muncul di Liverpool. Koran The Sun dibakar di beberapa tempat. Komplain dikirimkan ke kantor mereka. Saya teringat buku otobiografi Kenny Daglish, bekas manajer dan pemain Liverpool. Dalam salah satu bagiannya, ia bercerita tentang obrolannya di telpon dengan Kelvin Mackenzie.

Kelvin menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk meredakan protes orang-orang di Liverpool. Daglish menjawab, kalian harus merevisi judul “The Truth” dan menggantinya dengan “We Lied”. The Sun tidak meminta maaf atas liputan mereka dan berlindung di balik kebebasan pers. Saya mengelilingi Anfield dengan membayangkan kesedihan para keluarga korban dan fans Liverpool, membayangkan bagaimana rasanya bertahun-tahun (sudah lebih dari 25 tahun) mengingat keluarganya dan terus menuntut keadilan.

Keadilan yang baru separuh jalan didapatkan ketika tahun 2016 lalu penyelidikan resmi menyebut bahwa para suporter Liverpool meninggal karena kegagalan aparat polisi dan petugas kesehatan pada hari tragedy terjadi. Baru beberapa bulan lalu polisi yang bertanggung dalam tragedy tersebut dituntut secara hukum. Semoga keadilan sepenuhnya datang bagi para keluarga korban.

20171220_113708

 

***

Anfield gerimis tipis-tipis, tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membasahi jaket dan celana yang saya pakai. Usai mengelilingi Anfield, saya duduk di kursi yang terletak di taman Stanley, membuka bekal pasta yang saya bawa dari Leeds. Kelaparan dan kedinginan, saya buru-buru menghabiskannya. Taman yang luas, namun sepi hari itu. Satu-dua orang melintas membawa anjingnya. Selebihnya adalah burung-burung beterbangan.

Taman Stanley memisahkan Anfield dengan Goodison Park, kandang Everton. Dengan berjalan ke tengah taman, kita bisa melihat Anfield di satu sisi dan Goodison Park di sisi lain. Dua klub dengan prestasi yang bertolak belakang namun bahu membahu membentuk identitas Merseyside. Di museum Liverpool, di bagian sejarah olahraga, ada film yang diputar rutin. Isinya tentang Liverpool dan Everton. Film ini dinarasikan dua orang anak kecil yang bersaudara, salah satunya mendukung Liverpool dan yang lain mendukung Everton. Seberapapun mereka bertengkar karena berbeda klub, pada akhirnya keduanya tetap berhubungan intim.

Dari sana film bergerak melewati masa ke masa. Baik dari masa keemasan Liverpool maupun Everton. Juga bagaimana kedua klub saling bersolidaritas melewati masa-masa tragedi Hillsborough. Becca, teman seflat saya yang asli dari Liverpool menceritakan bagaimana perbedaan dukungan klub di sebuah keluarga adalah hal yang biasa. Ia mencontohkan keluarganya sendiri. Ia mendukung Everton, sementara ayahnya adalah pendukung Liverpool. Keduanya sering saling ejek tentang timnya masing-masing. Dan berebut remote televisi ketika kedua tim bermain di waktu yang sama.

Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk membelah taman Stanley dan sampai di Goodison Park. Stadion kecil yang terletak di pinggir jalan. Di seberang pintu masuk utama stadion ada gereja dan toko resmi Everton. Saya masuk melalui pintu utama dan hanya menemukan mobil-mobil yang memenuhi lokasi parkir dan orang-orang menggunakan baju dengan logo Everton sedang sibuk membawa berbagai macam barang.

Saya menyusuri tempat parkir untuk mengelilingi stadion namun ternyata stadion ini tidak bisa dikelilingi dari dalam. Saya tidak bisa ke samping stadion dan harus kembali ke jalan jika ingin memutarinya. Saya keluar dan menyusuri jalanan yang persis mepet stadion. Hanya trotoar saja yang memisahkan jalanan dan loket atau pintu masuk ke stadion. Mengingat betapa mepetnya jalanan dan stadion, saya kira jalan ini ditutup setiap Everton main di kandang.

Pintu masuk untuk suporter tamu dibikin permanen di lokasi terpisah. Ada plang di pinggir jalan yang memberi penunjuk jalan bagi suporter tim tamu. Di belakang stadion, ada kios kecil yang merupakan tempat penjualan tiket masuk stadion. Sejauh ini, Goodison Park adalah stadion terkecil yang saya datangi. Tipikal stadion tua di Inggris.

Saya suka Everton di era David Moyes, persisnya sejak menonton gol spektakuler yang menandai kemunculan Wayne Rooney ketika melawan Arsenal tahun 2004. Saat itu meski tidak pernah meraih gelar apapun, Moyes membawa Everton menjelma tim papan tengah yang sulit dikalahkan MU. Meski, tentu saja sebagaimana fans MU pada umumnya, mudah marah-marah ketika Moyes pindah ke MU dan membawa MU jadi tim semenjana.

***

20171221_161815

Tidak jauh dari stasiun kereta Liverpool Lime Street, saya menemukan toko buku News from Nowhere. Lokasinya persis berada di tengah jalan Bold, sekitar 4-5 menit berjalan kaki dari stasiun. Ini toko buku independen yang asik, baik koleksi buku-bukunya maupun konsep tokonya sendiri. Saya datang ke toko ini ketika malam sudah menjelang. Udara Liverpool semakin dingin.

Masuk ke dalam toko, kita akan disambut dengan berbagai poster dan pamflet yang dipajang persis di samping pintu. Poster dan pamflet tersebut isinya beragam, dari mulai konsultasi seputar kondisi kesehatan buruh, seksualitas, sampai berbagai acara yang dilakukan di toko buku atau di Liverpool.

News from Nowhere sendiri berdiri sejak tahun 70-an dan pengelolaannya dilakukan secara kolektif melalui koperasi. Pekerja toko semuanya perempuan aktivis buruh. Koleksi buku-bukunya sangat spesifik, dari isu-isu besar politik sampai ke persoalan kekerasan seksual, tidak hanya kekerasan seksual yang dilakukan pasangan hetero tetapi juga pasangan homo. Tidak hanya buku-buku baru tetapi juga buku lawas dan buku dari tangan kedua yang masih layak.

Di rak politik, ada buku-buku khusus tentang anarkisme, marxisme, dan sejarah partai buruh. Karena dikelola aktivis, ada juga buku tentang cara untuk mengetahui jika teman kita adalah seorang intel polisi, buku yang muncul setelah melihat banyaknya infiltrasi yang dilakukan polisi terhadap gerakan buruh.

Mandy Vere, pekerja toko yang sudah bekerja sejak awal News from Nowhere didirikan, menyebut di Liverpool Echo bahwa toko buku ini didirikan sebagai salah satu upaya untuk menyuplai literatur bagi kelas pekerja yang mulai terpukul karena kebijakan-kebijakan pemerintahan Tatcher yang anti serikat buruh. Ia bercerita bahwa sebagian besar buku isinya sebagai respon langsung atau tidak langsung mengenai apa yang dihadapi oleh Liverpool di dekade 1970an-1980an.

Seperti dikatakan Mandy, banyaknya koleksi buku-buku radikal membuat toko ini terkenal. Dan dalam beberapa hal, hal itu kadang membuat beberapa calon pembeli, khususnya yang hanya suka dengan buku namun tidak terlalu tertarik dengan aktivitas politik, menjadi takut. Saya tidak paham ketakutan yang dimaksud karena ini toko buku yang bikin saya nyaman. Selain menjual buku, ada juga beberapa kaos, kartu pos, dan perlengkapan tulis lainnya.

Tentu saja, barang-barang seperti kaos dan kartu posnya punya pesan-pesan progresif sendiri. Di kaos misalnya, seruan pro-partai buruh begitu terlihat. Beberapa kaos bergambar Jeremy Corbyn, ketua partai buruh. Juga stiker dan kartu pos bertuliskan “All I want for Christmas is Jeremy Corbyn for Prime Minister”. Ada juga seruan memboikot media-media sayap kanan semacam Daily Mail dan The Sun yang anti-kelas pekerja.

Saya melihat jam dan kereta dari Liverpool menuju Leeds akan berangkat sekitar 20 menit lagi. Saya buru-buru mengambil empat buku George Orwell dan berbasa-basi sebentar dengan panjaga toko yang dari tadi melihat saya mengambil beberapa foto, lantas membayar di kasir. Tak ada yang lebih menyenangkan selain stadion sepakbola dan toko buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>