Main Futsal di Leeds

22254684_10214666404039623_1251548885455532764_o

“Wisnu, kamu suka main bola tidak?” Benito bertanya ketika kami sedang ngobrol santai di ruang tengah flat. Tentu saja saya jawab dengan semangat, suka sekali. Kemudian nyerocos bahwa 10 tahun belakangan saya tidak pernah main lagi di lapangan besar khususnya selama di Jogja dan Jakarta. Jadi selama tahun-tahun itu hanya main di lapangan futsal saja. Usai mendengarkan cerita saya, Benito menjawab, “kalau begitu nanti ikut main bola sama komunitas Italia di Leeds ya.”

Begitulah, dan Benito yang mahasiswa S3 di Leeds University ini mengajak saya ikut main bola dengan teman-temannya dari Italia. Ajakan ini saya iyakan dengan senang hati. Sejak berangkat dari Indonesia, saya memang sudah berniat untuk futsal secara rutin. Karena itu sepatu futsal jadi barang yang dimasukkan ke dalam koper.

Lapangan futsal tempat kami bermain bernama Goals. Jaraknya sekitar 30 menit berjalan kaki dari flat kami. Tempatnya luas sekali. Ada 17 lapangan luar ruangan yang dinamai dengan nama-nama stadion di berbagai belahan dunia. Di tepi-tepi lapangan ada pohon cemara. Begitu keluar dari ruang ganti, kita akan melewati kafe sebelum sampai di lapangan. Biayanya agak mahal untuk sekali permainan. Setiap orang harus membayar 8 pound 5 pence. Saya bisa menggunakan uang sejumlah itu untuk makan 4-5 hari.

Oh iya, dalam perjalanan menuju ke lapangan, Benito memastikan bahwa saya memahami aturan permainan. Di antaranya, karena tidak ada garis di tepi lapangan baik di samping maupun belakang gawang, maka bola dianggap keluar kalau sudah menyentuh dinding yang jadi pembatas lapangan satu dengan lapangan lainnya. Jumlah pemain minimal 6 lawan 6, bisa juga 7 lawan 7 jika cukup jumlah orangnya.

Saya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Selain itu, sepertinya tidak banyak aturan yang beda dengan futsal yang saya mainkan di Indonesia. Benito juga bertanya di posisi mana saya biasa bermain. Saya jawab biasanya di depan, tapi tergantung kebutuhan tim. Kalau sudah ada penyerang, bisa jadi pemain tengah atau bek, bisa juga jadi kiper. Bisa juga fleksibel kalau lapangannya kecil. Namun kalau di lapangan besar, posisi semacam itu biasanya lebih ketat dan tidak bisa berlarian kemanapun kita suka.

Sampai di lapangan, saya dikenalkan ke teman-teman Benito, orang-orang Italia yang sekolah atau bekerja di Leeds. Ada salah seorang yang bernama David, ia kelihatan lebih tua dibandingkan yang lain. Ketika kami pemanasan di pinggir lapangan, ia berteriak sambil senyum: hey Wisnu, where are you from? Ketika saya jawab Indonesia, ia langsung nyerocos, “Wah Indonesia ya. Aku pernah ke sana lho. Ke Gunung Bromo. Keren banget pemandangannya”.

David melanjutkan omongannya, “kamu main di depan ya”. Ia bilang pernah nonton cuplikan di Youtube tentang gol yang dibikin pemain Indonesia sambil memeragakan tendangan salto. Saya kira ia merujuk ke tendangan salto Widodo Cahyono Putro ketika melawan Kuwait di Piala Asia 1996. Kalau benar, berarti ingatannya kuat sekali, sekaligus menunjukkan usianya, hehehe..

Permainan kami mulai pukul 8.30 malam. Leeds hujan sejak siang hari. Udara dingin, dan angin lumayan kencang. Saya kedinginan dan mencoba terus bergerak di lapangan. Pilek sepanjang permainan. Gerimis timbul tenggelam. Tas-tas yang kami letakkan di belakang gawang basah. Saya grogi, takut kalau tidak mampu mengimbangi permainan orang-orang Italia ini.

Dan memang itu yang terjadi. Beberapa kali saya kehilangan bola atau gagal memanfaatkan peluang empuk di depan gawang. Rasanya malu dan tidak enak dengan Benito. Sebenarnya perasaan bersalah macam ini mungkin tidak akan keluar seandainya ada pemain lain yang bermain buruk atau serupa saya. Problemnya, saya jelas pemain paling jelek dari 12 pemain malam itu. Fisik dan skill mereka kuat-kuat. Bahkan David yang kelihatan tua larinya masih kencang.

Sambil sentrap-sentrup saya berusaha cuek bermain, dan lumayan bisa bikin satu gol dan 2-3 assist. Waktu bikin gol, salah seorang yang bernama Fransesco berteriak ke saya “Good job mate!” Fransesco ini tinggi posturnya. Wajahnya mirip Giorgio Chiellini bek timnas Italia. Ia sering sekali berteriak. Bahkan memaki-maki dirinya sendiri ketika bikin blunder. Saya karena dalam bahasa Italia, saya tidak paham artinya. Yang pasti ia marah-marah sendiri dengan suara yang kencang.

Nyaris sepanjang permainan saya mendengarkan teriakan-teriakan khas semacam “Mamma mia”, “Bravo”, “Grande”, “Perfecto”, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan yang biasanya saya tahu ketika menonton film Italia, atau mengikuti ulasan-ulasan tentang Serie A entah di tv, koran, atau internet. Dan, saya jadi paham kenapa setiap melihat pemain-pemain di Italia begitu ekspresif di lapangan baik ketika ngobrol dengan teman setim, protes ke wasit, atau berantem dengan pemain lain.

Dari amatan sekilas saya selama bermain, ekspresi-ekspresi tersebut terlihat biasa saja bagi orang-orang Italia. Nyaris semua pemain mengeluarkan ekspresi serupa. Tangan mereka akan bergerak lincah ke mana-mana ketika marah-marah sendiri atau ngomong  dengan teman atau lawan. Kalau bingung yang saya maksud, anda bisa lihat kebiasaan yang sering dilakukan Buffon atau Chiellini.

Sesuai rencana, mestinya kami hanya bermain selama satu jam. Namun kami bermain paling malam, dan tidak ada tim lain setelah kami, kami bermain hampir 2 jam. Cukup melelahkan, karena tidak ada pemain pengganti, dan nyaris sepanjang waktu itu saya tidak minum. Bukan apa-apa, karena permainan terus berjalan, rasanya jauh sekali buat mengambil minum karena berarti akan meninggalkan tim menjadi tinggal 5 pemain. Mestinya tidak masalah, tapi sejauh yang saya lihat, tidak ada yang minum ketika mereka sedang bermain. Entah karena tidak bawa minum di pinggir lapangan, atau memang kuat dan tahan tidak minum.

Kami selesai bermain sekitar pukul 10 lewat. Badan kotor dan basah semua. Untung ruang gantinya luas dan ada shower dengan air hangat. Problemnya, model shower di lapangan ini ternyata tidak privat alias terpisah sendiri-sendiri seperti yang ada di lapangan-lapangan futsal di Indonesia. Jadi ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>