Matinya Kepakaran dan Kita yang Tersesat di Mesin Pencari

Matinya Kepakaran Foto

Mengapa hoaks mudah menyebar dan dipercaya orang?

Butuh penjelasan yang panjang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebabnya, memahami hoaks tidak hanya berkaitan dengan benar tidaknya sebuah informasi. Di dalamnya juga melibatkan kelindan faktor sejarah, ekonomi, sosial, juga politik. Melihat hoaks dari satu faktor dan mengabaikan faktor lainnya akan membuat kita kesulitan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini.

Tom Nichols, dalam buku Matinya Kepakaran (2018) ini memberikan salah satu penjelasan yang berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, kita sudah sampai di era matinya kepakaran, era di mana omongan para pakar tidak lagi menjadi rujukan.

Dengan menyebut pakar, Nichols merujuk pada “pengetahuan khusus” yang melekat di setiap pekerjaan (hlm 35). Ia menggunakan istilah “profesional”, “intelektual”, “dan “pakar” atau “ahli” secara bergantian. Dalam pengertian yang lebih luas, mereka adalah orang-orang yang menguasai seperangkat pengetahuan tertentu dan mempraktikkannya sebagai pekerjaan utama dalam hidup seperti dokter, pilot, pengacara, sejarawan, dan sebagainya.

Di era digital, kepakaran tersebut runtuh karena setiap orang merasa mengetahui segalanya berdasarkan akses atas berbagai sumber informasi dengan jauh lebih mudah. Dan karena itu, gelombang hoaks mudah menyebar dan dipercaya publik. Efeknya, ia merusak demokrasi yang mestinya berbasis pada argumentasi rasional dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Nichols mengambil berbagai contoh yang terjadi di Amerika Serikat untuk menunjukkan bagaimana pakar “sudah mati”. Pada isu politik, matinya pakar ini, misalnya, bisa dilihat dari terpilihnya Donald Trump sebagai presiden tahun 2016 lalu. Pemilihan ini kerap disebut sebagai salah satu pemilihan presiden paling brutal dalam sejarah politik Amerika Serikat.

Nichols menyebut bahwa para pemilih memilih Donald Trump lebih karena Trump mampu meyakinkan mereka secara emosional, bukan karena punya rencana kebijakan yang lebih baik dari kandidat lainnya Hillary Clinton.

Sementara itu dalam contoh sehari-hari, berbagai teori konspirasi dipercaya dan diyakini masyarakat Amerika. Termasuk di antaranya adalah gerakan anti-vaksin yang dipimpin oleh selebritis.

Nichols menyebut bahwa ada berbagai faktor yang menyebabkan matinya kepakaran. Ia dimunculkan oleh berbagai prakondisi yang terbentuk selama puluhan tahun. Di antaranya adalah komersialisasi pendidikan yang membuat relasi akademisi dan mahasiswa seperti penjual dan pembeli, media dan jurnalis yang tulisannya dibaca banyak orang namun penuh dengan informasi menyesatkan, kesalahan para pakar yang berujung pada ketidakpercayaan publik, dan tentu saja perkembangan internet.

Saya ingin fokus pada bagian internet. Sebagaimana disebut Nichols, matinya kepakaran sendiri bermula dari runtuhnya otoritas pengetahuan di era digital. Internet membuka berbagai kanal yang memungkinkan orang untuk mengakses informasi.

Ironisnya, berbagai kanal tadi juga membawa ilusi pengetahuan, semakin banyak informasi yang bisa diakses, orang merasa semakin percaya diri dan merasa memiliki pengetahuan yang memadai. Padahal di saat yang bersamaan berbagai informasi tersebut belum tentu benar. Internet mengumpulkan factoid, berbagai informasi palsu yang disajikan sebagai fakta atau berita yang sebenarnya. Kita tersesat di mesin pencari.

Akhirnya, kita terbenam dalam lautan informasi yang sebenarnya penuh dengan sampah. Informasi kemudian diberlakukan dengan sangat selektif: dipilih hanya yang mendukung keyakinan seseorang. Tom Nichols menyebutnya sebagai bias konfirmasi, yaitu kecenderungan mencari informasi “yang hanya membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran” (hlm 56).

Pada tahap selanjutnya, bias konfirmasi ini yang dalam bahasa internet dan media sosial hari ini menciptakan apa yang disebut sebagai bilik gema (echo chamber). Bilik ini akan tercipta secara otomatis dari orang-orang yang punya pandangan yang sama. Mereka mengonsumsi informasi yang serupa dan saling berbagi pendapat dengan orang-orang yang juga mengafirmasi pendapat mereka.

Kita kemudian ada dalam situasi yang menjengkelkan dan penuh paradoks: informasi tersedia dengan begitu melimpah, tapi seolah semakin kekurangan informasi. Bukan karena kita kurang informasi (poorly informed) tetapi karena salah informasi (misinformed). Ia menyebabkan munculnya keengganan untuk memahami informasi yang berbeda dari apa yang kita yakini.

Bilik gema yang susah ditembus menjadi lahan kering yang bisa dibakar dengan mudah oleh berbagai teori konspirasi dan berita palsu. Sebabnya, orang akan susah untuk percaya pada informasi yang bertolak belakang dengan apa yang mereka yakini.

Betapapun informasi itu bisa diuji dan diverifikasi, namun karena tidak konsisten dengan narasi yang diyakini, informasi tersebut akan diabaikan. Nichols menyebutnya sebagai “backfire effect) dan menjelaskan mengapa teori konspirasi dan berita palsu bisa menjadi viral dengan mudah di era media sosial seperti saat ini.

Menembus bilik gema ini tidak semudah yang dibayangkan. Selain karena susah untuk mengubah keyakinan seseorang, kondisi ini dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan yang tanggap mengeksploitasi kondisi tersebut.

Dalam konteks di Indonesia, kita melihat berbagai kelompok yang punya tujuan memanipulasi media sosial untuk kepentingan politik. Misalnya saja, 1-2 tahun belakangan kita mengetahui terbongkarnya kelompok seperti Saracen dan Muslim Cyber Army yang bekerja mengamplifikasi informasi palsu di dunia maya. Bukan kebetulan jika dalam saat yang bersamaan kondisi politik di Indonesia juga memanas.

Meski patut dicatat bahwa informasi palsu ini tidak melulu berkaitan dengan politik. Ia juga melibatkan hoaks tentang kesehatan, agama, dan sebagainya yang memenuhi ruang-ruang media sosial kita. Mengonsumsi atau menemukan berbagai informasi palsu tersebut saya kira saat ini sudah menjadi pengalaman kolektif orang Indonesia.

***

Ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan dalam buku ini. Di antaranya adalah saya menangkap kesan bahwa Nichols terlalu kaku dalam mendefinisikan dan membayangkan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh seorang pakar. Ia sepertinya percaya bahwa seorang pakar hanya boleh dan harus berbicara sesuai kepakarannya. Menurut Nichols, “hanya sedikit para pakar yang cukup rendah hati menolak pandangan yang di luar kemampuannya” (hlm 236).

Nichol menyebut Noam Chomsky ketika menyampaikan kritik tersebut. Chomsky adalah salah satu pengkritik terkeras kebijakan luar negeri Amerika Serikat dua dekade belakangan. Namun menurut Nichols, bidang kepakaran Chomsky bukan politik dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat melainkan linguistik. Ia menyebut ini sebagai sebuah pelanggaran kepakaran.

Dalam konteks ini saya ragu untuk bersepakat dengan Nichols. Kepakaran terhadap sebuah bidang mestinya tidak menjadi penghalang untuk seseorang menunjukkan sikap politik dan keberpihakannya di bidang lain. Apa yang dilakukan Chomsky, tentu, misalnya, berbeda dengan apabila seorang dokter tiba-tiba beralih bidang menjadi pengacara, atau sebaliknya, seorang politisi yang berkomentar mengenai hal-hal yang terkait teknis kedokteran.

Cara pandang yang serupa muncul ketika Nichols mengkritik kebiasaan orang dalam mengonsumsi berita-berita di media hari ini. Seperti yang ia bilang, ia berhadap bahwa pembaca mesti tetap percaya kepada media arus utama dan jangan sampai beralih ke media alternatif yang “akan melakukan lebih banyak kerusakan dibandingkan dengan kebaikan dalam hal pencarian informasi yang lebih akurat” (hlm 203).

Dalam banyak kasus, percaya sepenuhnya terhadap media mainstream justru bisa menciptakan bilik gema baru. Kita di Indonesia tentu paham bagaimana satu dekade belakangan bilik gema itu, misalnya, diciptakan oleh media arus utama seperti Metro TV dan TV One. Dan dalam kondisi tersebut, ia mengeraskan polarisasi politik yang sudah ada. Dengan kata lain, yang lebih penting bukanlah kita percaya pada media arus utama atau media alternatif, yang lebih penting adalah tingkat literasi media yang memungkinkan untuk secara kritis melihat informasi yang ada.

Lepas dari kritik tersebut, buku ini memberikan fondasi yang kokoh untuk membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Ia relevan untuk membaca berbagai fenomena mengapa hoaks terus berkembang pesat. Pemahaman itulah yang kita butuhkan agar tidak terseret gelombang informasi palsu sampai jauh.

Tom Nichols. 2018. Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya. KPG: 293 halaman.

Pernah dimuat di Jurnal Ruang 29 Maret 2019 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>