Hoax dan Jurnalisme

Ada banyak momen yang saya ingat ketika diskusi dengan dosen-dosen saya. Salah satunya adalah ketika saya konsultasi mengenai esai saya dengan Matthias Revers, dosen kelas Reporting of Politics. Setelah membahas ide esai saya tentang sejarah dan perkembangan jurnalisme populis di Inggris, Ia bilang bahwa “saya akan mengkategorikan Breitbart, Infowars di Amerika Serikat dan media-media yang penuh konspirasi lainnya ke dalam jurnalisme.” (Ini mungkin kalau di Indonesia seperti pks piyungan dan sebagainya yang penuh hoax dan teori konspirasi). Lho kenapa pak? Kan mereka tidak melakukan kerja-kerja jurnalistik dan apalagi menulis tentang fakta?

Jawaban dari Matthias kira-kira sebagai berikut, dan sebelum menjawab ia bilang bahwa tentu saja akan banyak orang yang tidak sepakat dengan pandangannya:

Continue reading

Cak Rusdi

*mengenang 2 tahun meninggalnya Cak Rusdi*

“Wis, menurutmu wartawan itu harus berpihak atau enggak?”, “Kalau berpihak, terus berpihaknya kepada siapa?”,”Kalau kamu wartawan foto, di depanmu ada orang mau tenggelam, yang kamu lakukan mengambil fotonya dulu agar nanti bisa dikabarkan pada dunia, atau menolongnya dulu? Tugas wartawan mengabarkan berita to?”, “Kalau kamu mengkritik reporter yang menerima amplop, menurutmu lebih busuk mana, mereka yang menerima amplop karena tekanan kebutuhan sehari-hari atau redaktur-redaktur senior yang deal dengan para politisi buat berita pesanan?”

Continue reading

Tentang Tabloid Bola

Hari ini saya mengingat Tabloid Bola, yang kalau masih hidup, ia akan berusia 36 tahun. Sayang tahun 2018 lalu ia tutup. Efek senjakala media benar-benar terasa.

Tabloid ini adalah teman yang setia menemani masa SD-SMP-SMA saya. Teman setia sebelumnya, Bobo. Seorang tetangga saya yang supir truk, pertama kali memperkenalkan saya dengan tabloid ini jelang Piala Dunia 1998.

Bola mengajari saya dua hal. Pertama, menulis. Entah kenapa setelah beberapa kali membaca Bola saya tertarik untuk menulis. Tiba-tiba saja kepikiran, mengambil catatan harian, dan mulai nulis. Setelah itu saya serahkan ke Bapak untuk disalin ulang dengan tulisan yang lebih bagus. Eh, ndilalah kok ya beberapa kali dimuat. Di Bola, saya pernah nulis tentang Halil Altintop, saudaranya Hamit Altintop. Bisa digoogling kalau tidak kenal pemain ini.

Kali lain, saya menulis tentang protes saya ke kelompok suporter Solo Pasoepati yang tahun 2002-an pernah masang spanduk “Panser Biru Kakekane”. Sebagai anak yang rutin ke stadion Jatidiri, identitas saya diusik. Spanduk macam itu mengganggu proses rekonsiliasi yang sedang berlangsung antara kedua kelompok suporter. *kemudian saya mikir, kok bisa masih SMP saya ngomongin rekonsiliasi. Tapi ya embuh, gara-gara Bola saya nemu istilah aneh-aneh*

Kedua, Bola juga yang membentuk siapa klub sepakbola yang saya dukung: MU dan Inter. Kalau negara ya Italia dan Inggris. Kok bisa dua-dua? Ya pokoknya gitu. Kalau mau dianalisis isi, saya hampir yakin sebagian wartawan Bola itu pendukung berat MU. Dulu pernah ada surat pembaca yang memprotes keberpihakan yang terang benderang ini. Saya mesem saja. Mau partisan ya gak papa selama mendukung tim yang saya dukung. Oh iya.

Salah satu yang saya sesali sampai sekarang adalah: saya sama sekali sudah tidak menyimpan 1 tabloid pun. Padahal saya berlangganan dan membeli hampir semua produk turunan Bola: Bola edisi poster, Bolavaganza, kalender tahunan, dan sebagainya. Kamar saya dulu penuh dengan tempelan poster. Di setiap momen turnamen besar macam Piala Dunia atau Piala Eropa, saya pasti mengkliping edisi sebulan turnamen itu.

Ini membuat saya setiap melihat orang mengkliping berita atau artikel di koran, saya selalu merasa iri dan berharap punya ketekunan serupa. Sesekali juga menyesal karena telah menyia-nyiakan ribuan halaman koran yang pernah saya baca dan koleksi. Misalnya saja seperti tabloid Bola yang lenyap tak berbekas. Padahal saya berlangganan sejak tahun 1999-2009. Rasa malas memang selalu menimbulkan penyesalan di akhir.

Rasa malas serupa muncul bahkan ketika memperlakukan tulisan saya sendiri. Buku diary hilang, sebagian tulisan saya yang dimuat di koran hilang, dan seterusnya. Saya masih ingat tulisan pertama yang dimuat di koran, tapi ya itu, jika disuruh menunjukkan barang buktinya, saya tidak bisa. Digoogling juga belum ada.

Dasarnya saya memang bukan pengarsip yang baik. Koleksi Tabloid Bola saya dari tahun 1998 sampai 2014 ludes. Ada yang dimakan rayap, ada yang tercecer entah ke mana. Saya juga bingung, kok dari dulu enggak kepikiran membuat arsip. Padahal Bola selalu saya nantikan dengan antusias. Kalau mas loper koran datang terlambat beberapa jam saja mengantar Bola ke rumah di hari Senin dan Kamis, saya pasti nangis. Serius. Kalau sudah begitu biasanya ibuk nggoreng tempe biar saya makan dan diam.

Saya berhenti membaca Bola sejak tahun 2014 setelah pengelolanya memutuskan untuk terbit harian. Waktu mereka memutuskan terbit tiga kali seminggu juga saya kecewa. Buat apa? Saya asyik membaca Bola karena tulisan analisis-analisisnya, bukan karena ia update dan terbit harian. Kalau soal kecepatan ya mending saya akses portal berita saja to. Lebih cepat. Dan juga, hari-hari ini, siapa yang membaca koran?

Selain mulai jarang membaca Bola, saya mulai mengurangi kebiasaan rutin sejak pertengahan kuliah: membeli koran di loper koran. Dulu biasanya saya akan meluangkan waktu untuk ke kios-kios koran. Tidak selalu membeli, setidaknya sekadar membaca koran-koran yang terbit hari itu. Lumayan bisa update berita dan mengirit pengeluaran. Baru kalau ada isu atau peristiwa yang layak didokumentasikan, saya biasanya sekaligus membeli 12-13 koran.

Berita-berita tersebut lantas saya potret, dan dikumpulkan dalam folder sendiri. Lebih mudah jika sewaktu-waktu akan diakses. Oh iya, sengaja koran-koran tersebut tidak saya gunting karena eman-eman. Sekarang, saya jarang membeli koran. Selain karena malas, saya merasa lebih bisa update berita macam-macam dari berbagai media di seluruh dunia, dari ponsel pintar saya yang semakin boros batere ini. Cukup install aplikasi mobile media yang bersangkutan.

Praktis cuma dua koran dan satu majalah yang rutin saya baca sampai sekarang. Itupun karena kantor berlangganan. Sebelum membuka halaman demi halaman, saya selalu mencium baunya terlebih dulu. Masa-masa membaca Bola – dan juga Majalah Bobo – adalah masa-masa formatif dalam “karier” saya membaca dan menulis. Kesukaan saya akan bacaan yang kelak membantu saya menulis berasal dari dua media tersebut. Masa-masa formatif yang lalu mempengaruhi cara saya membaca buku.

Sekarang Bola memang sudah tidak menjadi lagi bagian kehidupan saya. Kehadirannya digantikan berbagai situs bola yang menawarkan jauh lebih lengkap analisis dan pemberitaan seputar Bola. Sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh Bola dan membuatnya dulu tutup. Tapi tentu saja, sebagaimana hal-hal penting yang mempengaruhi kehidupan kita, Bola akan selalu berada di tempat yang penting di hati saya.