Konflik Sosial dan Literasi Media

(Dimuat di Koran Tempo, 11 Agustus 2016)

Ibarat api dalam sekam, konflik kembali muncul di Indonesia. Kali ini peristiwa menyedihkan terjadi Tanjung Balai di mana vihara dan klenteng dirusak dan dibakar. Peristiwa ini diduga dilatarbelakangi protes terhadap alat pengeras masjid yang kemudian dibumbui oleh provokasi dimedia sosial.

Jika melihat sejarah di Indonesia, konflik atau aksi kekerasan semacam ini memiliki akar struktural baik alasan ekonomi, politik, maupun intoleransi umat beragama. Dengan kondisi semacam itu, hanya butuh sedikit pemantik untuk memicu kerusuhan. Dan seiring perkembangan teknologi komunikasi, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh dalam meningkatkan eskalasi konflik. Kemampuannya yang cepat dalam menyebarkan informasi bisa menjadi medium provokasi dengan daya destruktif yang luar biasa.
Continue reading

Isi Siaran dan Keresahan Publik

(Dimuat di Jawa Pos, 25 Agustus 2016)

*Refleksi Hari Televisi Nasional 2016

Salah satu hari yang penting namun jarang diperingati dan direfleksikan adalah hari televisi nasional yang jatuh setiap 24 Agustus. Di tanggal ini 3 stasiun televisi lahir yaitu TVRI (1962), RCTI (1989), SCTV (1990).  Dalam sejarah media massa di Indonesia, televisi memiliki posisi yang penting. Ia menjadi media yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Nielsen, kurang-lebih 95 % penduduk Indonesia menonton televisi. Angka ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan akses terhadap media-media lainnya. Ini artinya, televisi masih menjadi media yang berpengaruh bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Continue reading

Pers Mahasiswa, Nasibmu Kini

Pemberedelan pers mahasiswa Lentera di Salatiga menyisakan banyak hal yang menarik untuk didiskusikan. Pertama tentang isu 1965 yang diangkat oleh Lentera. Kedua, tentang eksistensi pers mahasiswa itu sendiri. Ada banyak pemberedelan dan aksi kekerasan terhadap pers mahasiswa, terutama pasca 1998. Namun baru kali ini pemberedelan memicu respon yang demikian masif– setidaknya di media sosial.Terasa ironis memang jika melihat pers mahasiswa diperhatikan justru ketika ia diberedel. Sementara di hari-hari “normal”, kehadirannya hidup segan mati tak mau.

3 tahun lalu, saya menulis buku tentang pers mahasiswa. Buku ini diangkat dari skripsi saya di Jurusan Komunikasi UGM. Spesifiknya, buku ini adalah riset analisis isi berita-berita pers mahasiswa mengenai wacana komersialisasi pendidikan pasca-1998. Namun di bab 1-2, saya menulis konteks besar kondisi pers mahasiswa dan beberapa problem yang mengitarinya sampai saat ini. Masih relevan untuk meletakkan dimana sebenarnya posisi pers mahasiswa.

Dalam rangka -menjelang- ulang tahun Balairung ke-30 dan diskusi ihwal pers mahasiswa yang sedang ramai belakangan ini, buku tersebut saya unggah di blog, teman-teman bebas mengunduh dan membagikannya. Salam pers mahasiswa!

Pers Mahasiswa Melawan Komersialisasi Pendidikan