Menonton Drama Korea

reply 1988

Aigooo, Kim Sajang..

Sebelum Maret 2020, kalau ada orang yang bertanya mengenai drama Korea yang saya suka, tentu dengan senang hati saya akan langsung menunjuk Full House, drama Korea pertama dan satu-satunya yang saya tonton. Itu sekitar tahun 2005-2006, ketika Indosiar memutar Full House dan setiap harinya di kelas ketika istirahat atau sedang jam kosong, bersama beberapa teman kami akan membahas kelakuan Han Ji-Eun dan Lee Young-Jae. Teman-teman saya di SMA akan segera mengetahui kebiasaan saya tersebut.

Namun, referensi itu segera menjadi usang begitu pandemi Corona datang ke banyak tempat. Di Indonesia, begitu pasien positif pertama diumumkan, banyak tempat kerja yang memutuskan untuk bekerja dari rumah. Dan dengan pekerjaan saya di kampus, saya punya privileged untuk bekerja dari rumah. Lalu semua kelas dan acara dibatalkan atau diganti jadi online. Dan tiba-tiba banyak orang terjebak dalam limbo.

Pada satu titik ketika mulai muncul kejenuhan di rumah, di dunia yang pelan-pelan berubah, saya memutuskan untuk mencoba aktivitas baru: menonton drama Korea. Jadi kalau ada orang yang sekarang bertanya tentang drama korea favorit saya, saya akan menjawab: tergantung suka dalam konteks apa karena genrenya beda-beda? Dalam satu bulan, saya sudah menyelesaikan Crash Landing on You, Reply 1988, Itaewon Class, Hi Bye Mama, dan sedang mengikuti The World of the Married Couple. Belum lagi film-film Korea seperti 1987: When the Day Comes, A Taxi Driver, dan The Attorney yang banyak membahas sejarah dan politik Korea. Dan masih banyak daftar antrian berdasarka list yang saya bikin dari masukan netizen.

Saya menyukai masing-masing drama tersebut. Crash Landing on You yang pada dasarnya adalah kisah asmara yang oleh banyak orang akan disebut menye-menye, cukup berkesan buat saya. Kisah asmara Yoon Se-ri dan Captain Ri diletakkan dalam konteks relasi politik Korea Selatan dan Utara yang terus menerus dalam ketegangan. Salah satu tim penulis ceritanya adalah defector Utara yang berpindah ke Selatan. Pengalaman sebagai seorang defector yang membuatnya bisa memberikan gambaran tentang konflik elit di lingkaran kekuasaan dan sekaligus gambaran tentang keseharian kehidupan di Korea Utara, salah satu negeri paling tertutup dari dunia luar.

Itaewon Class, bercerita tentang anak muda, Park Sae-roy, yang punya dendam kepada pengusaha restoran paling sukses di Korea Selatan. Dan dalam perjalanan mewujudkan mimpinya yang digerakkan oleh rasa marah yang dipendam bertahun-tahun, ia mengorbankan banyak hal. Di tengah ia jalan, ia bertemu sosok Jo Yi-seo yang didiagnosis punya kecenderungan sosiopat, yang kelak akan membantunya mewujudkan mimpi balas dendam itu.

Reply 1988 ceritanya lebih sederhana sekaligus kompleks. Ia menceritakan tentang persehabatan dan relasi kehidupan bertetangga dari 5 keluarga yang rumahnya berdekatan. Ada kompleksitas kehidupan di sana. Anak-anak yang berteman sejak kecil, jatuh cinta, mesti bekerja keras untuk kerja, keluarga yang kesulitan finansial, relasi orang tua dan anak yang sulit, dan seterusnya. Obrolan-obrolan keseharian itu yang membuat drama ini relatable dengan banyak orang.

Konteks cerita yang berbeda-beda namun relatable itu yang membuat saya menyukai drama-drama yang sudah saya tonton.Tentu saja referensi saya sangat terbatas. Tapi paling tidak saya bisa masuk sedikit ke percakapan: Kalau butuh relasi persahabatan juga anak dengan orang tua, tonton Reply 1988, kalau butuh asmara menye-menye dengan bumbu politik ya ke Crash Landing on You, dan seterusnya.

Problemnya, atau sialnya, karena saya selalu tidak punya ekspektasi apa-apa sebelum menonton drama, begitu menonton satu demi satu episode, saya mudah terhanyut. Di Twitter yang posting tentang repotnya nonton drama Korea itu kalau bawa perasaan. Dan ternyata banyak orang yang mengiyakan. Ternyata begini rasanya membawa perasaan ketika nonton drama.

Saya sendiri memang tidak punya ekspektasi apa-apa karena sejak awal hanya sekadar ingin refreshing. Bingung mencari hiburan untuk menjaga kewarasan, dan sudah bosan dengan banyak film-film dengan tema sejarah dan politik yang selama ini saya tonton. Juga sengaja tidak banyak membaca ulasan serius dari teman-teman saya yang memang pakar film. Drama yang saya pilih hanya berangkat dari rekomendasi banyak kenalan di media sosial dan akhirnya saya putuskan secara random mau menonton yang mana.

Tentang bawa perasaan ini, usai menuntaskan masing-masing series, saya iseng mencari media sosial atau adegan-adegan behind the scene. Misalnya saja, saya ngelike foto-foto di akun instagram Kim Da Mi, pemeran Jo Yi-seo di Itaewon Class, juga bolak-balik melihat instagram pemeran Jo Seo-woo, anak kecil yang lucu di Hi Bye Mama! Oh iya, saya mengikuti juga akun Youtube Lee Hye-ri, pemeran Duk-son di Reply 1988 dan sering menontonnya sambil makan sahur. Saya tidak tahu apakah itu bagian dari kultur fandom?

Tentu tidak mudah untuk mendefinisikan kultur fandom yang kompleks karena banyak perspektif yang bisa digunakan untuk membacanya. Kalau fandom dimaknai dalam konteks fanatisme seorang fans, saya kira apa yang saya lakukan belum sepenuhnya masuk ke sana. Ia lebih sebagai euforia sesaat karena baper tadi. Tapi tidak sepenuhnya juga saya hanya sekadar audiens yang dalam kajian media dipahami dalam konteks mengonsumsi pesan atau teks media (dalam hal ini adalah drama).

Kebingungan lain, sekali waktu, tentu iseng dan lamunan asal karena masih dalam konteks baper, secara random saya berpikir untuk lanjut sekolah di Korea Selatan. Tentu saja mendalami film sebagai produk budaya populer. Lamunan yang ketika saya sudah sadar sering bikin kesal sendiri karena niat awal yang hanya sekadar ingin menonton drama untuk refreshing lalu menjebak saya dalam labirin pemikiran yang rumit. Jadi saya putuskan, lebih baik saya menunggu lanjutan episode The World of The Married Couple dengan harap-harap cemas.

Aigoo Sung Sajang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>