Menonton Ed Miliband Dari Dekat

20180219_213955

Usai menuntaskan pidato politiknya dalam konferensi partai Buruh tahun 2014, Ed Miliband mengunci diri di dalam kamar hotel. Ia sangat marah dengan dirinya sendiri karena melupakan isu penting yang krusial dalam kampanyenya menuju pemilihan umum. Ia terlalu banyak berimprovisasi. Istrinya, Justine, berusaha menenangkan Ed. Namun percuma, Ed marah dan enggan ikut ke dalam pesta penutupan konferensi.

Situasi bertambah buruk ketika tim media sosial partai Buruh, tidak sadar dengan kondisi tersebut, mengirimkan naskah pidato Ed ke media. Ini praktik yang biasa saja. Namun jadi tidak biasa karena ada isu yang lupa diangkat Ed. Benar saja, media-media di Inggris kemudian menyadari ada perbedaan signifikan dalam pidato yang disampaikan Ed dengan apa yang tertulis di naskah.

Ed kemudian diserang sebagai sosok “pelupa”. Nada berita-berita di Inggris, tidak hanya di media sayap kanan, nyaris senada: jika untuk isu penting saja ia lupa, bagaimana ia layak menjadi perdana menteri? Isu yang penting itu berkaitan dengan platform kebijakan ekonomi partai Buruh yang akan menghapus defisit. Kelak, blunder Ed ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan partai Buruh mengalami kekalahan terburuk sejak tahun 1983 dalam pemilu 2015.

Adegan Ed marah dan mengunci pintu di kamar hotel itu digambarkan dengan dramatis oleh wartawan The Guardian Patrick Wintour yang melakukan liputan mendalam mengapa Ed gagal membawa partainya menang. Saya mengingatnya ulang dalam perjalanan menuju Liverpool untuk menyaksikan podcast yang kini dikelola Ed Miliband. Ya, usai mengundurkan diri sebagai ketua partai Buruh, ia kembali ke backbencher dalam politik Inggris.

Meski masih menjadi anggota parlemen, Ed kemudian mencoba merambah hal baru: mengelola podcast bersama Geoff Lyoid, presenter radio. Podcast ini dinamai Reasons to be Cheerful dan pertengahan Februari lalu diadakan di University of Liverpool. Saya tentu tidak melewatkan acara ini. Cuma butuh waktu satu setengah jam dari Leeds ke Liverpool.

Saya mengikuti berita-berita tentang Ed sejak tahun 2012, menyimak pidato-pidato politiknya di konferensi tahunan partai buruh, tidak melewatkan perdebatan mingguannya dengan David Cameron dalam Prime Minister Questions, dan menuntaskan buku biografinya yang ditulis Mehdi Hasan. Ini juga sekaligus cara saya belajar listening dalam bahasa Inggris, yang sering saya ceritakan kepada teman-teman dekat saya. Dari Ed, saya kemudian mengikuti politik Inggris dengan intens, yang kelak membawa saya juga mengidolakan pengganti Ed, Jeremy Corbyn.

Selain belajar bahasa Inggris dan politik Inggris, apa yang menarik dari mengikuti pidato politik Ed adalah menyimak visi politik seorang ketua partai oposisi yang punya garis ideologis yang jelas. Sesuatu yang tidak akan didapatkan dengan menyimak pidato politik di Indonesia di era sekarang. Mungkin lebih tepat jika dibandingkan dengan menyimak pidato-pidato politik era founding fathers.

Di atas kereta, dalam perjalanan menuju Liverpool, saya mengingat-ingat berbagai peristiwa politik yang melibatkan Ed Miliband. Pidato pertama yang saya ingat adalah pidato Ed dalam konferensi partai buruh tahun 2010, usai ia memenangkan perebutan ketua partai dengan mengalahkan kakaknya sendiri David Miliband. Dalam pidato ini, Ed menceritakan siapa dirinya. Ia menyiapkan diri menjadi perdana menteri Inggris dan pidato ini adalah “perkenalan” lebih intim kepada publik.

Dalam pidato tersebut, Ed menceritakan bagaimana ayahnya, pemikir Marxist Ralph Miliband dan juga ibunya Marion Kozak terpaksa pindah ke Inggris karena Nazi mulai mengganas. Dari sana, Ed bilang bahwa Inggris adalah negara yang terbuka dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk meraih cita-citanya. Selain itu, Ed kemudian bercerita bagaimana pergaulannya dengan teman-teman ayahnya yang sering datang ke rumah membantu cara pandang dirinya, dan juga David, mengenai politik.

Sementara di tahun pertama pidato politiknya Ed lebih banyak bercerita tentang dirinya sendiri, dalam pidato politik di konferensi partai tahun-tahun berikutnya ia lebih banyak memberikan rasionalisasi arah kebijakan partai buruh ketika nanti berkuasa. Termasuk pidato politik yang berubah menjadi mimpi buruk Ed di atas.

Terpilihnya Ed dianggap membawa partai Buruh lebih ke kiri, apalagi ia menang dengan dukungan serikat buruh, dan media-media sayap kanan semacam The Sun dan Daily Mail segera menemukan julukan baru untuk Ed: Red Ed. Julukan yang sempat digunakan secara sarkas oleh David Cameron dalam salah satu Prime Minister Questions.

Oh iya, PMQs ini adalah acara parlemen Inggris Raya di mana setiap minggu perdana menteri harus menjawa pertanyaan-pertanyaan dari anggota parlemen dan pemimpin oposisi mendapat kesempatan enam kali bertanya, ini yang kerap menjadi momen perdebatan serius atau caci-maki personal antara perdana menteri dan ketua partai oposisi.

Selain dilabeli Red Ed, Daily Mail terus-menerus menyerang sisi personal Ed. Ayahnya, Ralph, dikatakan sebagai orang yang membenci Inggris. Artikel ini sempat memicu kontroversi karena Ed meresponnya dengan cukup emosional. Sementara itu di tahun 2015, beberapa bulan sebelum pemilu, Daily Mail menampilkan halaman depan dengan gambar Ed sedang makan sandwich bacon. Coba googling “Ed Miliband Sandwich Bacon” dan segera akan terlihat salah satu foto ikonik pemilu Inggris 2015. Foto yang sangat gak banget, digunakan Daily Mail untuk mengilustrasikan bahwa dari sisi wajah pun Ed sangat tidak cocok menjadi perdana menteri.

Meski diserang terus-menerus, di polling, Ed dan partai Buruh menempel David Cameron dan partai Konservatif dengan ketat. Karena itu tidak banyak yang berani memprediksi siapa yang akan memenangkan pemilu 2015. Saya sendiri yakin Ed akan menang. Sayangnya, partai Buruh kalah dengan memalukan. Karier politik Ed sebagai ketua partai berakhir.

20180219_200016

Sejak saat itu, Ed jarang sekali muncul di publik, dan apalagi melakukan pidato politik. Karena itu, saya senang sekali ketika pertengahan 2017 ia meluncurkan podcast Reasons to be Cheerful karena itu berarti saya bisa rutin mendengarkan gagasan-gagasan Ed. Podcast ini sendiri tentang berbagai ide-ide menarik, tidak melulu politik, yang bersinggungan dengan anak-anak muda. Ed dan Geoff Lyoid mewawancarai berbagai orang yang punya banyak pengalaman, dari mulai isu sistem pendidikan di Inggris sampai soal isu kesehatan mental.

Di University of Liverpool sendiri, Ed dan Geoff membahas tentang keberhasilan warga dalam membangun komunitas baik di level yang paling kecil (mungkin seperti RT) sampai level pemerintah kota. Beberapa pembicara yang dihadirkan adalah Theresa Macdermot yang membahas komunitas warga di Liverpool, kemudian juga Matthew Brown dan Neil Mcinroy. Di paruh kedua podcast, Ed dan Geoff mengundang komedian Tez Ilyas. Paruh kedua ini yang lucu banget. Tez sempat bercana bahwa untung saja Ed kalah dalam pemilu 2015, kalau menang ia tidak akan mengelola podcast sekarang.

Menonton Ed dari dekat ini meninggalkan kesan mendalam buat saya. Saya tidak banyak mengidolakan orang, apalagi politisi. Tapi bertahun-tahun mengikuti berita tentang Ed dan membaca biografinya membuat saya belakangan sadar mengidolakannya. Ada momen, beberapa detik, yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tidak berusaha lebay atau norak, tapi memang itu yang terjadi. Itu adalah momen ketika Ed Miliband masuk ke panggung dan saya duduk hanya sekitar 5 meter di depannya. Jantung saya berdegup kencang sekali.

Hampir sepanjang 2, 5 jam saya berharap acara segera berakhir dan saya akan lari ke belakang panggung untuk meminta foto bersama. Sayangnya, saya salah perhitungan, acara molor dan saya harus segera lari ke stasiun karena kereta terakhir dari Liverpool ke Leeds akan segera berangkat. Ya sudah, mungkin akan ada kesempatan lain. Setidaknya, menyaksikan Ed dari dekat sudah lebih dari cukup untuk membuat saya bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>