Menonton Setan Jawa Garin Nugroho

20170910_193014

“… konde iki tanda gedene katresnanku..”

Usai konde ditusukkan ke tangan kanannya dan lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu Asih, wajah Setio penuh dengan amarah, dendam, frustasi. Barangkali ia sadar, yang membuatnya ditolak adalah kemiskinannya. Sementara Asih berasal dari keluarga bangsawan. Ada jarak lebar yang membentang di antara keduanya. Dan tidak ada jalur lain yang lebih cepat untuk memangkas jarak tersebut selain melalui pesugihan kandang bubrah, meminta bantuan setan untuk melakukan apa yang tidak bisa dibantu oleh manusia.

Ini adalah kisah Faustian ala Jawa yang diolah dengan memukau oleh Garin Nugroho. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih yang diiringi dengan suara gamelan secara langsung. Latar belakang cerita ada di Jawa era kolonialisme Belanda. Saya terkesan dengan ceritanya, dan terutama dengan suara gamelan yang mengiringinya. Kadang lembut, kadang keras. Suara pesindennya melengking. Ia mengingatkan saya pada masa kecil, ketika sering diajak bapak nonton wayang, juga beberapa lirik campursari.

Keterpukauan yang sama saya kira dirasakan ratusan penonton yang tadi malam menyaksikan malam puncak festival internasional gamelan di Cadogan Hall. Lebih dari setengah bangku di ruangan yang berkapasitas hampir seribu orang itu terisi. Di akhir pertunjukkan, hampir semuanya berdiri, tepuk tangan lebih dari 2 menit, mengapresiasi Garin Nugroho beserta para pemain Setan Jawa dan pemain gamelan.

Setan Jawa berkisah tentang Setio (Heru Purwanto), pemuda desa miskin yang jatuh hati dengan Asih (Asmara Abigail), putri keluarga bangsawan. Ia memberanikan diri melamar Asih, yang tentu saja segera ditolak oleh Ibu Asih. Penolakan yang membuatnya tanpa pikir panjang mencari cara bersekutu dengan setan. Karena dengan cara itu ia bisa segera kaya. Dengan kekayaan, ia bisa segera menikahi pujaan hatinya tanpa takut mendapatkan penolakan lagi.

20170910_200054

Singkat cerita, Setio dan Asih berhasil menikah. Namun, bukan pesugihan namanya kalau tidak memakan korban. Dan dalam pesugihan kandang bubrah, Setio harus terus memperbaiki rumahnya yang secara mistis akan selalu terlihat rusak. Pesugihan kandang bubrah sendiri merupakan salah satu pesugihan yang sudah melegenda di Jawa. Dan konon katanya, setelah mati, pelaku pesugihan akan tetap hidup menjadi penyangga tiang rumahnya. Saya teringat banyak cerita dari teman-teman ihwal pesugihan.

Beberapa saat menikah, Asih curiga dengan kekayaan yang diperoleh suaminya dan keanehan-keanehan yang terjadi di rumahnya. Sampai ketika ia sadar bahwa suaminya merupakan pelaku pesugihan. Setio mulai merasakan harga mahal yang harus ia bayar karena bersekutu dengan setan. Asih ingin menyelamatkan suaminya dari persekutuan tersebut, yang membuatnya rela ditiduri oleh si Setan Jawa.

Saya berkesan dengan adegan demi adegan dalam Setan Jawa. Gerak tubuh para penarinya mampu membawa saya hanyut menuntaskan film bisu ini sampai akhir. Film bisu hitam putih pertama yang saya tonton. Fim ini sendiri sudah rilis sejak 2016 lalu dan diputar di beberapa negara. Di London semalam, sebelum pemutaran film, ada penghargaan yang diberikan kepada tiga orang Inggris yang ikut mengembangkan gamelan ke UK.

Usai acara saya turun, ingin menyalami dan foto dengan Hilmar Farid, direktur jenderal Kemdikbud yang tulisan-tulisannya tentang sejarah dan ilmu sosial sering saya baca. Di bawah ketemu juga dengan Eric Sasono, pakar film yang selama ini hanya berteman via media sosial. Setelah itu saya keluar Cadogan Hall menuju stasiun Sloane Square. Hampir jam 9 malam. London baru usai diguyur hujan.

20170910_204629

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>