Menutup Al Jazeera

Al Jaz

Salah satu tuntutan negara-negara Arab agar sanksi terhadap Qatar bisa distop adalah pemerintah Qatar harus menghentikan pendanaan terhadap Al Jazeera dan media-media afiliasinya (http://www.aljazeera.com/…/arab-states-issue-list-demands-q…). Saya jadi teringat tugas kuliah beberapa tahun lalu, saya menulis tentang Al Jazeera. Kurang lebih ini penggalan tulisan saya, dengan sedikit tambahan.

——————————————-
Al Jazeera adalah fenomena. Ia melejit menjadi media yang menyiarkan perang di Timur Tengah langsung dari halaman depan. Hampir sebagian besar televisi Indonesia yang menyiarkan konflik atau perang di daerah Arab sering merelay media ini. Ia menawarkan kesegaran yang sulit kita dapatkan dari media-media Amerika. Kalau Noam Chomsky pernah bilang bahwa perang yang diekspor Amerika ke negara-negara Arab salah satunya diakibatkan oleh media, Al Jazeera mencoba melawan disinformasi yang mengakibatkan jutaan orang meninggal sia-sia.

Momen yang mengangkat Al Jazeera ke panggung dunia adalah perang Irak dan Afghanistan. Ia melawan framing pemberitaan mainstream media-media Amerika macam CNN dan Fox News yang memberikan legitimasi narasi atas perang yang dilakukan Amerika. Kalau CNN dikritik melakukan embedded journalism dengan melekat ke militer Amerika dan sekutunya, Al Jazeera sebaliknya. Ia “menempel” ke apa yang dianggap musuh Amerika. Al Jazeera mendapatkan berbagai informasi eksklusif dari Al Qaeda. Sementara Amerika kesulitan mencari di mana Osama bin Laden, Al Jazeera dengan mudah memutar rekaman suaranya.

Dengan kata lain, kalau ingin mendapatkan berita yang cover both sides, ya tonton media Amerika dan Al Jazeera. Buku The Al Jazeera Phenomenon menyebut bahwa media ini menempati posisi utama dalam modernisasi media-media, khususnya televisi, di Arab. Ia tidak hanya mengisi celah kosong dalam industri media di Arab, tetapi juga membangun basis penonton yang demikian kuat dan mampu membelah opini publik sekaligus mempengaruhi politik Arab.

Apa yang memungkinkan Al Jazeera tumbuh berkembang dengan progresif adalah kebijakan pemerintah Qatar untuk melakukan liberalisasi media dan membuang jauh-jauh sensor negara. Surplus kebebasan ini memungkinkan ia mengangkat tema-tema sensitif dan kontroversial, sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan media-media di kebanyakan negara Arab. Kita tentu tahu negara-negara Arab memberlakukan sensor yang ketat dan menyeleksi arus informasi yang bisa dikeluarkan oleh media-media di negaranya. Salah menyeleksi informasi bisa membahayakan rezim yang berkuasa.

Tahun 2017 ini, Al Jazeera sudah berkembang jauh. Televisinya ditonton lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia, nomor 2 di bawah BBC dan lebih banyak ditonton dibanding media-media Amerika. Inovasi digitalnya lebih gila lagi. Banyak media-media afiliasinya yang populer, misalnya seperti AJ+. Saya sendiri suka salah satu tayangannya yang berjudul Listening Post, ulasan atas media-media di berbagai negara.

Jadi, kalau negara-negara Arab meminta Qatar menyetop pendanaan buat Al Jazeera, buat saya ini adalah usaha untuk mengembalikan informasi global dikuasai dan didominasi narasi media-media Barat.

*Buku tentang Al Jazeera bisa diunduh di tautan berikut.

The Al-Jazeera Phenomenon

Al-Jazeera – The Story of the Network

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>