Menutup Catatan dari Leeds

WhatsApp Image 2018-11-24 at 00.38.50

Dua hari terakhir saya di Leeds dan London merangkum dengan baik perjalanan selama setahun lebih di Inggris: sedikit kacau di kepala dan kelelahan secara fisik.

Kekacauan dimulai dengan pembatalan kereta Leeds – London yang mestinya berangkat pukul 10.15. Ketika saya ke bagian informasi, saya hanya diberi solusi: saya harus ke York dulu dengan kereta tercepat dan dari sana baru pindah kereta ke London yang dijadwalkan berangkat pukul 11.20.

Bayangkan, kereta Leeds ke York baru akan berangkat pukul 10.25. Dengan waktu tempuh yang biasanya sekitar 45 menit, praktis begitu sampai di stasiun York saya hanya punya waktu sekitar 10 menit untuk mencari platform kereta yang akan menuju London. Dalam situasi normal, 10 menit adalah waktu yang lebih dari cukup. Tapi saya membawa koper besar yang belakangan saya baru tahu beratnya 40 kilo, dan mesti dicatat, salah satu roda di koper saya ini bermasalah.

Saya sudah pasrah ketinggalan kereta dan siap-siap mencari transportasi alternatif seperti bus. Namun, kereta menuju London ternyata juga terlambat. Dengan napas ngos-ngosan saya berhasil menuju platform dan sampai juga di gerbong yang sesuai tiket. Problemnya, karena ini kereta yang berbeda, kursi seperti yang tertera di tiket jadi tidak berlaku. Sekarang berlaku siapa cepat dia dapat kursi. Dan saya paling telat.

Mau tidak mau, saya harus berdiri sekitar 2,5 jam dari York ke London di ruang antar gerbong di depan toilet. Di samping ada pasangan yang usianya kira-kira sudah seperti orang tua saya. Mereka sempat berdebat untuk berdiri di situ atau berusaha pindah ke gerbong mencari kursi yang masih kosong. Si laki-laki masih ngotot mencari kursi, dan si perempuan sudah malas jalan, lebih baik berdiri. Napas saya masih tersengal-sengal dan badan mulai berkeringat.

Selama hampir dua jam berdiri, saya masih menahan dongkol kenapa tiket kereta dari Leeds mesti dibatalkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Meski tentu saja saya bersyukur karena akhirnya sudah di kereta. Sepanjang perjalanan, lanskap Inggris selalu tidak pernah gagal menarik perhatian saya. Rerumputan hijau yang penuh domba, perumahan di desa-desa di York, pabrik-pabrik kawasan industrial Yorkshire, juga gedung-gedung modern – termasuk stadion Arsenal –  begitu kereta memasuki London.

Lanskap semacam ini yang dari dulu memenuhi imajinasi saya. Imajinasi yang dibentuk dari film-film dan cerita-cerita berlatar belakang Inggris yang saya baca dan dengarkan. Di pertengahan kuliah, saya membeli buku fotografer dan filmmaker senior Patrik Keiller berjudul The View from the Train. Dalam kumpulan esainya tersebut, Keiller menulis bahwa alat transportasi, dalam hal ini kereta dan rel, mencerminkan bagaimana perubahan sosial ekonomi di Inggris terjadi dengan massif 30 tahun belakangan. Dari atas kereta yang ia sering gunakan sehari-hari, Keiller menyebut bahwa orang-orang Inggris harus mencoba memahami perubahan lanskap yang terjadi jika ingin memahami pembelahan sosio-ekonomi masyarakat Inggris yang semakin menguat.

“Alih-alih membangun rumah-rumah dan gedung-gedung baru”, kata Keiller, “Kita (orang-orang Inggris) harus memahami apa yang sudah ada saat ini dan belajar dari kesalahan pengelolaan ekonomi di masa lalu”. Keiller sedang merujuk ke berbagai kebijakan ekonomi Margaret Tatcher yang dalam jangka panjang justru merusak fundamen ekonomi Inggris dan membuat mereka yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Pembelahan kaya dan miskin di Inggris ini yang paling mendasar diwakili dengan sentimen Utara dan Selatan, mungkin sebanding dengan Jawa dan luar Jawa. Sementara aliran modal dan pembangunan mengalir ke Utara (London dan sekitarnya), berbagai infrastruktur di Selatan cenderung diabaikan. Pengelolaan kereta api di Inggris juga menunjukkan hal itu dan sampai sekarang kerap menjadi bahan debat di parlemen Inggris.

Selama perjalanan, saya mengingat-ingat kembali momen ketika naik kereta. Kereta adalah alat transportasi yang paling sering saya gunakan selama di Inggris. Banyak momen yang teringat, bukan hanya ketika melihat lanskap yang berubah-ubah – musim gugur, musim dingin, musim semi, musim panas – tetapi juga interaksi dengan banyak orang.

Pernah sekali seorang nenek yang menyapa saya dengan ramah dan menceritakan pengalamannya naik kereta. Lain waktu, saya terjebak dalam gerbong yang penuh hooligans mabuk dan beberapa kali dibentak dan ditanya pertanyaan-pertanyaan konyol: menurutmu nama aslinya Meghan Markel siapa? Juga seorang anak kecil yang terus-menerus mengajak saya ngobrol dan ayahnya sibuk meminta maaf karena takut anaknya mengganggu. Dan sekarang, kali terakhir saya naik kereta di Inggris untuk tahun ini, saya harus berdiri lama.

Lamunan-lamunan itu berganti dengan rasa nyeri dan pegal di kaki saya. Saya sampai di London dengan selamat. Tapi ternyata kekacauan belum usai.

Keesokan harinya, saya berangkat ke bandara bareng Tyas, teman yang juga akan pulang ke Jakarta. Sampai di stasiun underground Hammersmith, kereta jalur Piccadily tujuan bandara sudah di depan. Tyas masuk duluan. Sialnya, ketika saya mau masuk pintu sudah ditutup. Gerak saya terlalu lambat dengan koper yang begitu berat. Mau tidak mau saya harus menunggu underground selanjutnya. Bayangkan, betapa menyebalkannya ketinggalan beberapa detik dan harus menunggu 20 menit untuk menuju kereta selanjutnya. Dan koper 40 kilo tetap saya tenteng.

Sampai di bandara, setelah mengantri check in di konter Garuda, koper saya ternyata beratnya 40 kilo. Kata petugasnya, saya memang punya jatah bagasi 40 kilo tapi maksimal berat satu koper hanya boleh 30 kilo. Pilihannya, saya harus mencari koper lain atau membuang sebagian isi koper saya dan menguranginya sampai 30 kilo. Pelik. Saya sudah membuang sebagian besar pakaian saya di Leeds, yang terbawa adalah sebagian besar buku yang tentu saja tidak akan saya buang begitu saja.

Mm, sebenarnya saya sudah berniat membuangnya sebelum Tyas memberi ide bahwa baiknya saya membeli koper. Setelah itu saya keliling Heathrow sebelum akhirnya mendapatkan koper yang jika dikonversi uangnya bisa saya gunakan untuk membeli 20-25 buku. Saya membongkar koper besar dan memindahnya ke koper baru. Hhhhh. Jam 9.45 waktu London, Garuda terbang. Kepala saya masih mencerna kejadian-kejadian 2 hari belakangan.

Naik Garuda, saya merasa sudah ada di Indonesia. Pramugarinya semua dari Indonesia, di dekat tempat saya duduk disediakan koran-koran Jakarta: Jakarta Post, Media Indonesia, Kompas. Tidak banyak film menarik yang bisa ditonton. Saya menghabiskan penerbangan dengan membaca novel The Young Pretenders yang ditulis Edith Henrietta Fowler. Ini adalah novel anak-anak yang terbit pertama kali pada 1895.

Novel ini berlatar belakang Inggris di akhir abad 19. Ceritanya tentang dua bersaudara Teddy dan Babs yang ditinggal orang tuanya bekerja untuk pemerintah Inggris di India. Keduanya dirawat neneknya dan para pembantunya. Begitu nenek meninggal, mereka diajak pindah ke London dan dirawat oleh paman-bibinya. Bercerita dari suduh pandang Babs, si anak perempuan yang lincah dan banyak akal, novel bergerak dengan lambat menceritakan kehidupan sehari-hari yang Babs dan kakakknya alami.

Sementara Babs adalah anak perempuan yang lincah, grapyak, hiperaktif, banyak bertanya dsb, Teddy kakaknya sebaliknya. Ia pendiam dan manut terhadap apa yang dikatakan oleh bibinya. Si Bibi tidak menyukai Babs yang ia anggap tidak bisa bersikap sebagaimana kelas sosial mereka. Bahkan ia menyebut Babs tidak beradab hanya karena ia berani bicara dengan orang asing di taman.

Dari sudut pandang Babs, konflik itu dilihat dengan cara yang polos. Ia misalnya, bingung kenapa bibinya marah-marah hanya karena ia banyak bertanya. Babs lebih suka dengan pamannya yang ia anggap baik terhadap dirinya sementara ibu dan ayahnya “are in Inja”. Ada banyak humor sekaligus ironi ketika membaca novel ini. Novel yang berlatar belakang akhir era Victorian yang mengidealkan posisi seorang perempuan dalam ranah domestic dan harus menjaga sikapnya di masyarakat. Babs menjadi simbol bagaimana akhir sebuah era itu sudah tiba.

Di dalam pesawat, saya juga menyadari bahwa masa kuliah master saya sudah selesai. Beberapa jam kemudian saya akan menghirup kembali udara rumah yang saya rindukan. Pulang. Dengan tulisan ini Catatan dari Leeds saya tuntaskan. Bersiap memulai catatan-catatan selanjutnya.

2 thoughts on “Menutup Catatan dari Leeds

  1. Mudah-mudahan saya bisa mencicipi aroma Inggris secara langsung, seperti Mas Wisnu. hehe..

    Ditunggu catatan-catatan Mas Wisnu selanjutnya. Salam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>