Merumuskan Identitas dan Kenikmatan

ariel heryanto

Salah satu alasan kenapa saya suka melakukan perjalanan dengan kereta adalah karena saya jadi punya banyak waktu untuk membaca buku. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya menuntaskan buku baru Ariel Heryanto: Identitas dan Kenikmatan, Politik Budaya Layar Indonesia.

Buku ini berisi tentang bagaimana kelas menengah, terutama di lingkungan perkotaan, merumuskan dan mencari identitasnya di dekade yang menawarkan berbagai kebebasan, sekaligus juga ketakutan. Proses pencarian identitas tersebut bisa dilihat dari representasi dan peran serta kelompok tersebut dalam budaya layar, baik itu televisi, film, dan tak terkecuali media sosial. Dari sana kita juga bisa melihat bagaimana peran teknologi media dalam kontestasi perebutan tafsir mengenai Islam, sentiment anti-Tionghoa, demam K-Pop, termasuk juga selebritisasi politik di Indonesia.

Sebelum sampai ke pembahasan mengenai kontestasi dan perumusan identitas kelas menengah tersebut, Ariel mengawali bukunya dengan penjelasan kondisi Indonesia di era reformasi yang menurutnya mirip dengan apa yang terjadi pada dekade awal pasca kemerdekaan 1945. Dalam dua periode tersebut, pasca jatuhnya rezim otoriter yang berkuasa sekian lama, Indonesia dengan susah payah mencoba bangkit menjadi negara-bangsa yang terhormat, modern, dan berdaulat.

Indonesia di masa-masa yang demikian adalah negeri yang berjalan tertatih, penuh harapan, namun terluka. Bunga-bunga harapan bermekaran, tapi banyak yang layu sebelum waktunya. Salah satu penyebabnya, pengalaman panjang represi politik telah membuat titik-titik yang sebelumnya disumbat menjadi meledak. Perkara identitas yang sebelumnya dibungkam, tiba-tiba menimbulkan gejolak luar biasa di era transisi demokrasi. Tak ada otoritas yang berkuasa penuh. Pusat-pusat kekuasaan luruh dan menyebar ke titik-titik terjauhnya.

Berbagai kelompok mencoba melakukan eksperimen demokrasi sebagai konsekuensi kebebasan yang baru saja didapat. Eksperimen yang segera saja berhadapan dengan situasi chaos. Kerusuhan antaretnis yang terjadi di beberapa tempat seperti di Ambon, kebebasan pers yang membawa bonanza industri media namun pada akhirnya membawa media berhadap-hadapan dengan warga (cermati banyaknya kantor media yang digeruduk warga yang tidak puas karena pemberitaan), sampai benturan tafsir agama dan munculnya elemen kekuatan Islam politik yang di era sebelumnya direpresi. Ketidastabilan politik juga terjadi yang ditandai benturan elemen-elemen reformasi berhadapan dengan sisa-sisa Orde Baru.

Dalam konteks industri media, dekade pasca-Soeharto menawarkan kebebasan yang luar biasa. Arus modal mengalir kencang tanpa adanya pengekangan-pengekangan politik. Kebebasan pers pada tahap tertentu tidak hanya berarti “kebebasan dari” melainkan sudah sampai menjadi “kebebasan untuk”. Gerak kapital industri media berjalan dalam dua tahap, melalui proses spasialiasi horizontal (pemusatan kepemilikan media di beberapa kelompok), tetapi juga spasialisasi vertikal (penggabungan beberapa jenis industri termasuk media dalam satu kontrol kepemilikan).

Potret dalam Budaya Layar

Pada kondisi semacam itu, Ariel memotret pergulatan identitas kelas menengah Indonesia melalui budaya populer. Budaya populer yang dimakud dalam buku ini bermakna dua hal: berbagai gambar, suara, dan pesan yang diproduksi secara massal oleh industri hiburan termasuk proses pemaknaan yang dilakukan oleh konsumen, dan kedua, berbagai bentuk praktik komunikasi yang bukan hasil industrialisasi karena relatif lebih independen, tidak bertujuan komersil, dan disebarkan melalui forum-forum khusus.

Setidaknya ada beberapa isu yang dipotret dalam buku ini: proses islamisasi (yang menandai gelombang besar pengerasan identitas masyarakat Indonesia pasca-Orde Baru), wacana tragedi 1965 yang didiskusikan dengan besar-besaran, sentimen anti-Tionghoa yang semakin menguat dan terus direproduksi, gejala K-Pop atau asianisasi kelas menengah perkotaan, sampai personalisasi politik yang membuat dunia politik serupa panggung hiburan.

Dalam proses islamisasi, kontestasi perebutan tafsir atas Islam bisa dilihat dari produk budaya populer seperti film. Menggunakan film Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih, Kiamat Sudah Dekat, dan Catatan Si Boy, Ariel mencoba lepas dari perdebatan apakah semakin banyaknya film bertema Islam menandakan proses meningkatnya ketakwaan beragama masyarakat, atau pada sisi lain, sedang berjalannya proses komodifikasi agama.

Proses islamisasi tersebut mesti dipahami dalam kerangka perkembangan kapitalisme industrial di Indonesia. Tak terkecuali juga munculnya orang kaya baru yang mencoba mendifinisikan pemaknaan “menjadi muslim ideal” yang berbeda dari apa yang kerap dipropagandakan lembaga –lembaga otoritas keagamaan. Pada titik ini, Ayat-Ayat Cinta memperlihatkan benturan paling ideal antara kelompok Islam, dari yang liberal sampai konservatif – yang pada gilirannya ada yang menyebut sebagai radikal – , juga industri yang berorientasi keuntungan finansial.

Sementara itu, dalam sentimen anti-Tionghoa yang semakin ke sini semakin menguat, kebencian ini berakar panjang dalam penyingkiran eksistensi etnis ini “baik di layar maupun belakang layar”. Meskipun etnis Tionghoa bukan satu-satunya kelompok minoritas yang menjadi korban represi negara dalam waktu yang panjang, Ariel menilai bahwa bahasan etnis Tionghoa menarik dibentangkan karena diskriminasi terhadap mereka juga khusus.

Salah satunya karena banyaknya orang Tionghoa menjadi tokoh penting dalam seni pertunjukan baik di panggung maupun film. Jika melihat pada politik penyingkiran yang dilakukan rezim Orde Baru, hal ini memang terasa ironis. Peran penting mereka hendak dihapuskan secara total dari sejarah resmi dan ingatan publik. Ariel, dengan menggunakan kajian yang dilakukan Krishna Sen, menjelaskan bagaimana isi film-film yang dibuat Teguh Karya (sutradara beretnis Tionghoa). Teguh adalah orang yang memiliki peran besar dalam industri perfilman di Indonesia, meski, perannya itu pelan-pelan dipinggirkan.

Identitas

Membaca buku ini memberikan gambaran yang cukup utuh bagi kita untuk melihat identitas kelas menengah di Indonesia pasca-Orde Baru. Kelas yang berisik di media sosial, rentan secara posisi sosial, namun cukup berpengaruh dalam menentukan wajah Indonesia hari-hari ini. Identitas kelas menengah memang bukan sesuatu yang tunggal. Ia dibentuk melalui dialektika yang terus-menerus bertumbukan. Perkembangan teknologi media, pada titik ini, menjadi faktor signifikan dalam tumbukan-tumbukan tersebut.

Tumbukan-tumbukan yang terus terjadi tersebut juga menjelaskan beberapa paradoks identitas yang ada, misalnya, gelombang sentimen anti-Tionghoa – utamanya dalam hal politik –  yang mengeras namun terjadi penerimaan terhadap K-Pop atau asianisasi budaya populer. Dalam konteks islamisasi juga misalnya, ia melahirkan keberadaan anak-anak muda yang terpukau dengan kelompok-kelompok radikal semacam ISIS. Persis karena ISIS berhasil memberikan identitas yang mereka cari, seperti K-Pop. Buku ini adalah potret Indonesia kekinian.

  • Judul Buku    : Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
  • Penulis            : Ariel Heryanto
  • Penerjemah   : Eric Sasono
  • Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan          : 2015, xvi + 350 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>