Berita Donald Trump di Media Hary Tanoe

Ary Tanoe

Salah satu yang saya ingat dari karya lawas Johan Galtung dan Mari Holmboe Ruge berjudul The Structure of Foreign News (1965) adalah relasi antara berbagai peristiwa di dunia, aktor-aktor di dalamnya, dan citra yang muncul di masyarakat satu negara mengenai aktor dan peristiwa tersebut. Dalam relasi tersebut media memiliki peran penting dalam membentuk citra positif maupun negatif terhadap aktor ataupun peristiwa tertentu yang terjadi di belahan dunia lain.

Pada tahap selanjutnya, citra tersebut bisa menentukan respon seperti apa yang mungkin muncul apabila peristiwa-peristiwa di negara lain tersebut berhubungan langsung dengan negara tersebut. Sentimen positif maupun negatif bisa menjadi faktor penting dalam kebijakan yang akan diambil. Itu kesimpulan yang diambil Galtung dan Ruge setelah meneliti berita-berita rubrik luar negeri yang ada di empat koran Norwegia.
Continue reading

Dilema Siaran Langsung Persidangan

(Dimuat di Koran Tempo, 27 September 2016)

Siaran langsung proses sidang pembunuhan menggunakan kopi bersianida dengan terdakwa Jessica Kumolo Wongso menarik dicermati. Hampir setiap sidang yang sudah berlangsung 24 kali (sampai artikel ini ditulis) disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Ini masih ditambah dengan berbagai program siaran lain, seperti berita, talk show, dan infotainment. Kadar peliputan yang sedemikian masif ini belum pernah ada dalam sejarah siaran langsung persidangan di televisi Indonesia.

Di satu sisi, siaran langsung semacam ini bisa membuat persidangan berjalan lebih akuntabel dan transparan. Sebaliknya, peliputan yang sedemikian masif membawa sejumlah persoalan yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh.
Continue reading

Konflik Sosial dan Literasi Media

(Dimuat di Koran Tempo, 11 Agustus 2016)

Ibarat api dalam sekam, konflik kembali muncul di Indonesia. Kali ini peristiwa menyedihkan terjadi Tanjung Balai di mana vihara dan klenteng dirusak dan dibakar. Peristiwa ini diduga dilatarbelakangi protes terhadap alat pengeras masjid yang kemudian dibumbui oleh provokasi dimedia sosial.

Jika melihat sejarah di Indonesia, konflik atau aksi kekerasan semacam ini memiliki akar struktural baik alasan ekonomi, politik, maupun intoleransi umat beragama. Dengan kondisi semacam itu, hanya butuh sedikit pemantik untuk memicu kerusuhan. Dan seiring perkembangan teknologi komunikasi, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh dalam meningkatkan eskalasi konflik. Kemampuannya yang cepat dalam menyebarkan informasi bisa menjadi medium provokasi dengan daya destruktif yang luar biasa.
Continue reading