Isi Siaran dan Keresahan Publik

(Dimuat di Jawa Pos, 25 Agustus 2016)

*Refleksi Hari Televisi Nasional 2016

Salah satu hari yang penting namun jarang diperingati dan direfleksikan adalah hari televisi nasional yang jatuh setiap 24 Agustus. Di tanggal ini 3 stasiun televisi lahir yaitu TVRI (1962), RCTI (1989), SCTV (1990).  Dalam sejarah media massa di Indonesia, televisi memiliki posisi yang penting. Ia menjadi media yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data dari Nielsen, kurang-lebih 95 % penduduk Indonesia menonton televisi. Angka ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan akses terhadap media-media lainnya. Ini artinya, televisi masih menjadi media yang berpengaruh bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Continue reading

Si Unyil dan Anak-Anak Orde Baru

mbuh nyil

Saya Sasaki Siraishi dalam bukunya Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik (2001) pernah mengatakan bahwa Orde Baru memerintah negara dengan membayangkan bahwa Indonesia adalah sebuah keluarga besar. Selayaknya sebuah keluarga, di dalamnya ada para anggota seperti “anak”, “bapak”, dan “ibu”. Sementara Suharto sebagai presiden adalah seorang supreme father (bapak tertinggi).

Dalam jalinan keluarga yang dibayangkan itu, harmoni dan keselarasan adalah sebuah keharusan. Karena itu seorang anak, misalnya, tidak boleh membangkang dan harus mengikuti apa yang dikatakan oleh orang tua. Seorang anak harus mengamalkan berbagai nilai-nilai yang dianut oleh sang bapak tertinggi. Bagaimana caranya? Salah satunya, dengan indoktrinasi melalui tayangan serial televisi Si Unyil.
Continue reading

Demitosisasi Gerakan Mahasiswa

IMG-1393(tulisan untuk pengantar buku Gerakan Mahasiswa sebagai Kelompok Penekan)

Hari-hari ini, ketika gegap gempita media sosial membuat setiap orang bisa mengungkapkan berbagai pendapatnya secara bebas, ketika kanal-kanal aspirasi politik terbuka lebar, apa pentingnya membahas sejarah gerakan mahasiswa?

Pertanyaan klise tersebut barangkali mengandung nada pesimisme yang kental. Kita juga akan mendapat jawaban yang tidak pernah tuntas-paripurna-final terutama tentang peran politik gerakan mahasiswa.  Meski demikian, ia tetap perlu dijawab setidaknya sebagai bahan refleksi bagi kondisi gerakan mahasiswa saat ini. Tidak untuk melakukan mitologisasi romantisme “kebesaran” gerakan mahasiswa. Lebih dari itu, jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi penting untuk mengetahui posisi di mana saat ini posisi gerakan mahasiswa, dalam konteks zaman seperti apa ia berada, dan apa yang selanjutnya harus ia lakukan dalam merespon derap langkah perubahan zaman tersebut.
Continue reading