Jokowi dan Personalisasi Politik

Kurang lebih satu tahun menjelang pemilihan umum 2014, popularitas Jokowi semakin tak terbendung dalam survei terbaru yang diadakan oleh Harian Kompas. Dalam survei tersebut Jokowi mendapatkan dukungan publik sebanyak 32, 5 persen. Popularitasnya bahkan mampu mengerek suara partainya – PDIP – mengungguli partai lain.

Angka yang didapatkan Jokowi juga jauh meninggalkan tokoh-tokoh politik lainnya seperti Prabowo dan Aburizal Bakrie yang masing-masing mendapat 15, 1 dan 8, 8persen. Artinya, jika pemilu dilakukan hari ini, hampir bisa dipastikan Jokowi akan memenangi gelanggang pertandingan dengan mutlak. Terlepas dari pertanyaan seputar metodologi survei, mengapa Jokowi yang beberapa tahun lalu “bukan siapa-siapa” kemudian bisa mendapatkan kepercayaan masyarakat seperti ini? Continue reading

Politik Diam Jokowi

Baru satu tahun menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, nama Jokowi melesat tajam menjadi sosok yang digadang-gadang sebagai calon presiden 2014. Di berbagai riset yang diadakan lembaga survei, elektabilitasnya jauh meninggalkan politisi-politisi senior. Kondisi ini tak ayal membuat banyak orang kebat-kebit. Baik kawan maupun lawan politik sibuk menafsirkan sikap politiknya. Berbagai manuver yang dilakukan partai politik, kalangan intelektual, maupun LSM menunjukkan kegelisahan (atau ketakutan?) yang tidak bisa disembunyikan. Jokowi digoyang kanan-kiri oleh mereka yang mendukung maupun menolaknya.

Ada yang mengajak Jokowi ikut konvensi pemilihan calon presiden, menyerangnya melalui hak interpelasi, ada yang membentuk barisan relawan pendukung Jokowi, dan yang terakhir, ada LSM yang mempersoalkan dana blusukan Jokowi sebagai bentuk pemborosan. Yang menarik, Jokowi tetap diam dalam menanggapi berbagai isu pencapresannya tersebut. Beberapa kali, justru wakilnya – Basuki – yang mesti mengklarifikasi setiap pertanyaan mengenai isu tersebut. Pilihan untuk diam dalam isu pencapresan 2014 ini jelas berbeda dengan sikap yang ceplas-ceplos dan responsif dalam berbagai kebijakannya. Jokowi tidak mengiyakan akan maju menjadi calon presiden. Pun juga tidak menolak dengan tegas. Continue reading

Bagi Belanda, Kunci Keberhasilan Ada di Masa Lalu

Saya kerap teringat ungkapan yang lirih dari novelis George Orwell. Katanya, he who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past. Bagi saya, kalimat ini merangkum penjelasan mengapa saat ini Belanda berhasil mencapai keberhasilan merentang dari bidang fisika, kedokteran, hukum, teknologi, sampai pengelolaan air.

Lho, kok?

Keberhasilan adalah keberanian mempelajari rangkaian kegagalan. Belajar dari kegagalan, sama artinya dengan menguasai dan menghargai masa lalu. Nama Netherlands   – negeri tanah rendah – saja sudah menjelaskan bagaimana kesadaran terhadap sejarahnya sendiri. Satu kesadaran yang merangsang kreativitas bertahan hidup agar tidak dihanyutkan air. Pertanyaannya, bagaimana cara menguasai masa lalu?

Sederhana, merawat arsip! Arsip adalah lorong waktu untuk bertamasya ke masa silam. Di dalamnya tersembunyi memori, kegagalan, dan pelajaran. Belanda, mengarsipkan dengan rapi sejarahnya sejak masih berbentuk republik sampai menjadi kerajaan selama kurang lebih seribu tahun.

Salah satunya terarsip di Nationaal Archief yang terletak di Den Haag.

Lembaga arsip terbesar di negeri tulip yang didirikan tahun 1802 ini mengabadikan lebih dari 6.000 dokumen institusi pemerintahan dan masyarakat. Dokumen ini meliputi data-data terkait sejarah Belanda dari awal keberadaanya, perang-perang yang dilalui, perkembangan ekonomi, teknologi, industri, arsip daerah jajahan, bahkan juga genealogi riwayat nenek moyang warganya.

Jika dibentangkan, panjang dokumen baik berupa tulisan, foto, peta dan lain sebagainya ini bisa mencapai 110 kilometer! Sebagai  perbandingan, jarak Jakarta-Bandung sekitar 146 kilometer. “Harta karun” dari masa lalu itu dirawat dengan serius. Ruang penyimpanan arsip dirancang agar tahan dari dua hal. Pertama, force majeur seperti bencana alam, kebakaran, termasuk pencurian. Kedua, kerusakan arsip karena kualitas kertas atau bahan dokumen yang buruk. Map-map bebas asam dipersiapkan secara khusus agar tidak membuat dokumen cepat lapuk. Netherlands-3b Pengarsipan total juga diwujudkan melalui perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi buku, majalah, sampai koran yang melimpah. Koninklijke Bibliothek, perpustakaan nasional Belanda yang berdiri sejak 1798, koleksi bukunya mencapai angka 2, 5 juta. Di sini, kita bisa mengakses milestone pengetahuan para intelektual Belanda.

Scripta manent verba volant, yang terucap akan berlalu bersama angin, yang tertulis akan mengabadi.  

Selain itu, budaya baca ditumbuhkan agar masyarakatnya peka literasi. Pengetahuan diabadikan dan terus-menerus dikembangkan. Menjadi sebuah kewajaran bahwa tahun 2013 negeri ini menempati posisi kelima dalam The Most Innovative Country di Eropa.

Salah satu manfaat dari mempelajari masa lalu, Belanda berhasil membuat banjir yang datang silih berganti sebagai sumber kreativitas. Bentuk pengarsipan yang paling fenomenal.

Setiap bencana alam dipelajari, berbagai kebijakan penanganan banjir dikoreksi. Ini misalnya bisa kita lihat dari beberapa banjir besar dalam sejarah seperti St Lucia 1281 dan St Elizabeth 1421, sampai banjir Laut Utara 1953 yang mengilhami proyek ambisius Deltaworks sebagai sistem pertahanan banjir. Sistem yang demikian canggih ini pun masih memiliki celah. Pasca banjir banjir 1993 dan 1995, pendekatan kebijakan penangan banjir pelan-pelan diubah.

Alih-alih meningkatkan ukuran tanggul, air diberikan lebih banyak ruang. Tahun 2006, pemerintah Belanda menyetujui program Room for the River. Tahun 2011, program ini memenangi Waterfront Center Awards dan menjadi role model bagi banyak negara.

Setiap pioner, pastilah perawat arsip yang baik. Experience is the best teacher. Belanda sudah menunjukkannya. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya? entoennu