Jalan-Jalan di Taman

Finsbury Park
Finsbury Park

Selama kurang lebih 3 minggu di Inggris, salah satu tempat yang paling menyenangkan bagi saya adalah taman. Lebih dari 10 taman yang sudah saya datangi baik taman yang besar maupun kecil. Biasanya saya membaca buku, mainan gadget memantau kabar-kabur dari Indonesia, atau sekadar jalan-jalan melihat angsa, burung-burung, juga tupai bermain-main. Karena menjelang musim gugur, bunga-bunga di taman tidak dalam keadaan terbaiknya. Daun-daun mulai berganti warna.

Di Regent’s Park, salah satu taman besar di London, saya menemukan ketenangan. Sendirian selama kurang lebih 3 jam di taman ini, saya sengaja tidak menggunakan aplikasi google map seperti biasa. Sesekali menyesatkan diri. Dan tidak ada yang lebih menyenangkan selain menyesatkan diri di taman dengan udara yang segar. Untuk mencapai Regents Park, saya turun di stasiun kereta Regents Park. Dari pintu keluar, saya belok ke arah kiri dan jalan kaki kurang lebih sepanjang 25-50 meter, taman sudah kelihatan.

Continue reading

Menyusuri Jejak George Orwell

Mengingat George Orwell, saya kerap membayangkan generasi yang lahir di awal abad 20: generasi yang lahir dalam situasi ketika perlawanan terhadap kolonialisme tumbuh subur di mana-mana, dengan ide dan visinya yang radikal mampu menembus zaman. Bayangan ini semakin tidak terhindarkan jika membaca ulang 1984, novel yang ditulis Orwell. Hampir berusia tujuh puluh tahun sejak diterbitkan, banyak hal yang masih serupa – dan semakin relevan – dengan apa yang disampaikan Orwell. Inilah era alternative facts, ketika misinformasi merajelala, pikiran dicurigai, dan fakta-fakta begitu mudah diabaikan.

Saya mengingat kembali 1984 ketika kemarin mencoba menyusuri serpihan jejak George Orwell di London (6/9). Ada beberapa komunitas yang menawarkan Orwell Walking Tour sambil di tengah perjalanan membaca penggalan karya Orwell. Namun karena waktunya tidak cocok, saya memutuskan berjalan sendiri. Tentu saja sebelumnya saya googling terlebih dulu situs-situs apa dan di mana saja yang harus dikunjungi untuk sebuah Orwell Walking Tour. Ada banyak sekali ternyata, dan saya memutuskan mengunjungi beberapa saja yang praktis dijangkau dengan berjalan kaki. Beberapa jam berjalan kaki saya rasa tidak akan jadi masalah.  

Continue reading

Menonton Setan Jawa Garin Nugroho

20170910_193014

“… konde iki tanda gedene katresnanku..”

Usai konde ditusukkan ke tangan kanannya dan lamarannya ditolak mentah-mentah oleh ibu Asih, wajah Setio penuh dengan amarah, dendam, frustasi. Barangkali ia sadar, yang membuatnya ditolak adalah kemiskinannya. Sementara Asih berasal dari keluarga bangsawan. Ada jarak lebar yang membentang di antara keduanya. Dan tidak ada jalur lain yang lebih cepat untuk memangkas jarak tersebut selain melalui pesugihan kandang bubrah, meminta bantuan setan untuk melakukan apa yang tidak bisa dibantu oleh manusia.

Ini adalah kisah Faustian ala Jawa yang diolah dengan memukau oleh Garin Nugroho. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih yang diiringi dengan suara gamelan secara langsung. Latar belakang cerita ada di Jawa era kolonialisme Belanda. Saya terkesan dengan ceritanya, dan terutama dengan suara gamelan yang mengiringinya. Kadang lembut, kadang keras. Suara pesindennya melengking. Ia mengingatkan saya pada masa kecil, ketika sering diajak bapak nonton wayang, juga beberapa lirik campursari.

Continue reading