Liverpool, Dua Stadion, Satu Toko Buku

20171221_110659

Ingatan yang dirawat adalah sumber kekuatan. Di Anfield, saya melihat bagaimana ingatan tentang episode paling menyedihkan untuk Liverpool dirawat. Episode yang tentu saja tidak pernah dibayangkan oleh para keluarga korban, juga orang-orang di Liverpool, yang berpuluh tahun kemudian akan hidup dengan mengingatnya.

Karangan bunga dan lilin berdatangan ke salah satu sudut stadion yang terletak di depan tribun utama, diletakkan di depan Liverpool Memorial. Ia dibangun untuk mengenang 96 fans Liverpool yang meninggal dalam tragedi Hillsborough, 15 April 1989. 96 nama korban ditulis di tugu memorial. Tempat di sekitar memorial yang terletak di dekat pintu masuk pemain diberi nama 96 Avenue. Continue reading

Tembok York

20171202_095248
Clifford Tower

Musim dingin sudah sampai di York. Memasuki stasiun, sisa salju yang mengguyur dua hari sebelumnya masih terlihat jelas. Saya menengok laporan cuaca di telepon genggam, 30 celcius. Pukul 9 matahari bersinar terik, tapi dengan suhu seperti itu, kehangatannya cuma menyapa sekilas. Setelah itu menghilang. Semu. Trotoar sedang licin-licinnya, campuran antara sisa salju, es, dan guguran daun-daun. Ada dua alasan untuk berjalan pelan-pelan: menghindari jatuh terpeleset atau takut sepatu menjadi kotor karena jalanan yang becek.

Hari ini (2/12) saya berencana menyusuri tembok yang mengelilingi pusat kota York. Ini tembok yang dibangun sejak era kekaisaran Romawi di tahun 43. Tidak semua tembok masih bisa bertahan melewati waktu sampai saat ini, namun sebagian besar masih utuh, sekitar 2 mil mengelilingi pusat kota York. Sayang karena cuaca yang bikin jalanan tembok licin, tembok ditutup dan saya tidak bisa naik di atasnya.

Continue reading

10 Jam di Manchester

Screen Shot 2017-11-21 at 17.49.43

Di antara sekian ingatan yang tersisa dari masa kecil saya, Manchester adalah salah satu hal yang paling berkesan. Lebih tepatnya: Manchester United. Tumbuh besar di dekade 1990an dan dimanjakan dengan siaran langsung sepakbola di televisi membantu saya menemukan cita-cita saat itu: menjadi pemain bola. MU sedang berada dalam masa jayanya dan saya rutin mengoleksi poster-poster para pemainnya. Sering sekali saya membayangkan menjadi pemain MU, bermain di Old Trafford, mencetak gol-gol indah, dan pulang bermain untuk timnas di Piala Dunia. Namanya juga mimpi.

Ingatan tentang MU dari masa kecil itu membayangi saya ketika membuka mata dalam perjalanan ke Manchester. Sepertinya bis hampir sampai. Saya melihat hp, sudah hampir pukul 10. Suhu di luar 14’ celcius, sepertinya tidak akan terlalu dingin. Di luar saya melihat rumah-rumah dengan dinding berwarna coklat dan melihat sebuah gedung dengan tulisan “the home of football,” belakangan saya tahu itu adalah National Football Museum.

Continue reading