Pers dan Revolusi Mei 1998

20150515_000729

  • Judul        : Pers dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni
  • Penulis     : Dedy N.Hidayat, dkk
  • Tebal         : xii + 465
  • Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan    : 2000

Buku yang memuat 22 tulisan ini terbagi dalam empat bagian: konteks makro ekonomi politik di Indonesia menjelang runtuhnya Orde Baru, proses produksi dan konsumsi media, isi teks media di hari-hari terakhir lengsernya Soeharto, dan implikasi pemikiran yang muncul sebagai pembacaan atas konteks makro dan praktik media.

Pada satu sisi, banyaknya tulisan dalam buku ini memperkaya kacamata untuk melihat peran pers dalam keruntuhan rezim. Simak misalnya tulisan-tulisan yang merentang dari penjelasan tentang krisis kapitalisme global, media sebagai ideological state apparatus, pemberitaan media AS dan Australia mengenai proses demokratisasi di Indonesia, sampai peran media dalam pembentukan nasion.

Tapi pada sisi lain, kita tidak bisa menangkap potret yang mendalam untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam pergulatan pers dan kekuasaan di Indonesia selama dan akhir era Orde Baru. Untuk memotret derap kapital dan perkembangan industri pers tentu saya akan lebih memilih disertasi Daniel Dhakidae berjudul The State, The Rise of Capital and The Fall of Political Journalism.  Atau jika ingin melihat kondisi ruang redaksi televisi di hari-hari terakhir Soeharto kita bisa membaca dari disertasi Ishadi SK yang dibukukan dalam bukunya Media dan Kekuasaan.

Dengan alasan itu, hanya ada beberapa tulisan dalam buku ini yang saya anggap menarik untuk dibaca dan didiskusikan lebih jauh.

Pertama, tulisan Dedi N Hidayat berjudul Pers dalam Kontradiksi Kapitalisme Orde Baru. Dedi menyoroti awal mula kelahiran ekspansi modal dan kelahiran industri media.  Industri media di Indonesia tidak pernah sama sejak munculnya televisi swasta di akhir dekade 1980-an.

Semakin berkaitnya Indonesia pada arus modal internasional seiring masifnya perkembangan teknologi komunikasi telah menimbulkan kekhawatiran pemerintah. Kekhawatiran yang muncul karena di satu sisi rezim tetap ingin memelihara struktur politik otoritarian dan di sisi lain harus memenuhi tuntutan liberalisme ekonomi internasional menciptakan dinamika sendiri dalam struktur ekonomi kapitalis Orde Baru.

Kedua, tulisan Victor Menayang, Bimo Nugroho, Dina Listiorini Pers Bawah Tanah: Media sebagai Pergerakan Sosial. Di bawah rezim Soeharto, jangan berharap media bisa bersikap kritis terhadap kekuasaan. Sekali mencoba, beredel adalah hukuman yang mesti diterima. Banyak media yang takut mengalami apa yang dialami oleh Tempo, Editor, Detik pada 1994.

Ketakutan media-media arus utama yang kemudian membuat aktivis gerakan prodemokrasi menggunakan media-media alternatif untuk menyuarakan perlawanan. Tulisan ini merupakan analisis isi kualitatif terhadap Xpos, Kabar dari Pijar, dan Gugat! yang diterbitkan oleh mahasiswa-mahasiswa UGM. Sebagai media propaganda, tentu konten-konten beritanya jauh lebih berani ketimbang media arus utama.

Ketiga, tulisan Jeffrey Winters Dampak Politis dari Sumber dan Teknologi Informasi Baru di Indonesia. Tidak bisa diabaikan bahwa perkembangan teknologi informasi membuat kontrol ketat yang dilakukan oleh negara selalu memiliki celah untuk ditembus. Pengalaman Orde Baru menunjukkan bagaimana kontrol ketat terjadi dalam dua arah. Kontrol terhadap masyarakat pedesaan dilakukan secara ketat sementara kepada kelas menengah dan elit diberikan sedikit kelonggaran. Ini yang memungkinkan sentralisasi kontrol itu bisa ditembus.

Pelopor penyediaan informasi internet mengenai Indonesia adalah John A. MacDougal yang membuat milis apakabar yang menjadi sarana untuk mendistribusikan berbagai informasi di Indonesia ke negara-negara lain. Dalam tulisan ini Jeffrey Winters menggunakan dua studi kasus untuk memotret dampak politis keberadaan internet yaitu situs berita detik.com dan Joyo News Service. Keduanya memiliki peran signfikan dalam turbulensi politik di Indonesia tahun 1998 dan 1999.

Keempat, bagian keempat yang ditulis Ariel Heryanto dan Dedi N Hidayat. Ariel menulis tentang peran media dalam imaji pembentukan nasion Indonesia. Menggarisbawahi apa yang pernah dikatakan Ben Anderson tentang komunitas terbayang, Ariel mengatakan bahwa bisa jadi jika tidak ada media cetak sebagai anak kandung teknologi mesin cetak, bisa jadi sejarah dunia belum akan mengenal ikatan sosial yang disebut sebagai nasion. Ia juga menyoroti lemahnya studi media dan kajian teori tentang kebudayaan di Indonesia. Ini membuat media hanya diperlakukan sebagai barang mati yang tak lebih sebagai alat penguasa untuk menindas rakyatnya.

Sementara itu Dedi dalam epilognya menulis bahwa untuk melihat pers, pertama-tama ia harus diletakkan dalam totalitas sosial yang lebih luas, sebagai bagian integral dari proses ekonomi, sosial, dan politik yang berlangsung dalam masyarakat. Jurnalis serta berita-berita yang dihasilkannya tidak lepas dari konteks proses sosial yang memproduksi dan mengkonsumsi teks. Dengan menautkan antara yang mikro (teks) dan makro (konteks), pers tidak sekadar dilihat sebagai instrument dominasi penguasa Orde Baru dan pemilik modal. Membaca struktur ekonomi politik pers Orde Baru pun tidak bisa dilihat secara monolitik, sebab, sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisan di buku ini, ia memunculkan fakta struktur alternatif pers.

Satu hal yang juga menarik menurut saya ada dalam epilog buku yang diberi judul: Pers Pasca Orde Baru: Rich Media Poor Democracy. Judul yang mengutip judul buku Robert McChesney ini saya kira seperti sebuah ramalan yang sampai saat ini – 17 tahun sesudah Soeharto lengser –  sudah dan masih terbukti. Era keterbukaan dan kebebasan informasi memang membuat pers memiliki ruang gerak yang demikian lapang. Namun ia membawa kita pada satu kondisi di mana setelah lepas dari cengkeraman negara, media jatuh ke pelukan para pemilik modal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>