Merumuskan Identitas dan Kenikmatan

ariel heryanto

Salah satu alasan kenapa saya suka melakukan perjalanan dengan kereta adalah karena saya jadi punya banyak waktu untuk membaca buku. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya menuntaskan buku baru Ariel Heryanto: Identitas dan Kenikmatan, Politik Budaya Layar Indonesia.

Buku ini berisi tentang bagaimana kelas menengah, terutama di lingkungan perkotaan, merumuskan dan mencari identitasnya di dekade yang menawarkan berbagai kebebasan, sekaligus juga ketakutan. Proses pencarian identitas tersebut bisa dilihat dari representasi dan peran serta kelompok tersebut dalam budaya layar, baik itu televisi, film, dan tak terkecuali media sosial. Dari sana kita juga bisa melihat bagaimana peran teknologi media dalam kontestasi perebutan tafsir mengenai Islam, sentiment anti-Tionghoa, demam K-Pop, termasuk juga selebritisasi politik di Indonesia.
Continue reading

Buku Orde Media

01

Remotivi, sebuah pusat kajian media dan komunikasi tempat saya bekerja setahun belakangan, baru saja menerbitkan sebuah buku. Judulnya Orde Media: Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru. Saya bersama Yovantra Arief menjadi penyuntingnya. Buku ini merupakan buku perdana yang diterbitkan Remotivi. Isinya berupa tulisan-tulisan yang pernah tayang di web www.remotivi.or.id .

Ada 37 tulisan dalam buku ini dengan tema yang merentang dari analisis teks media, kritik terhadap praktik jurnalistik, riset mengenai representasi tayangan televisi, sejarah ekonomi politik industri media, sampai tema mengenai literasi media. Tulisan-tulisan tersebut bisa dibilang menunjukkan respon terhadap industri media di Indonesia pasca-Orde Baru.

Azhar Irfansyah misalnya, dalam tulisan berjudul Rutinitas Berita dan Sinisme Terhadap Buruh menunjukkan betapa diskriminatifnya media ketika memberitakan tentang buruh, baik itu demonstrasi maupun tuntutan para buruh. Padahal dalam kerangka industri media, wartawan juga merupakan buruh. Azhar menulis bahwa pada satu titik sinisme wartawan terhadap buruh ini merupakan tragedi karena bisa saja wartawan tersebut bekerja untuk majikan yang sama dengan para buruh yang demo. Konglomerasi yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Roy Thaniago, dalam Menguji Logika Pandji, mencoba membongkar pandangan-pandangan yang bias kelas dalam merespon tayangan-tayangan televisi yang nirkualitas. Roy mula-mula mengkritik pernyataan Pandji, seorang selebritas, yang kurang lebih menjelaskan bahwa selera masyarakat kelas bawah yang menyebabkan tayangan televisi buruk dan masyarakat dalam industri televisi hanyalah seorang konsumen, bukan warga negara. Roy menyebut bahwa asumsi-asumsi semacam itu banyak diyakini para pekerja televisi sehingga mereka terus memproduksi tayangan yang memenuhi “selera masyarakat”.

Dalam tulisan Panggil Aku Wartawan, Indah Wulandari menyebut bahwa makna profesionalisme wartawan televisi mengalami pergeseran. Pernah ada masa di mana jurnalis memaknai profesionalisme sebagai bekerja dengan skill dan idealisme jurnalistik yang jelas. Sementara sekarang, berdasarkan laporan Indah, sebagian besar wartawan televisi memaknai profesionalisme sebagai “menurut perintah atasan atau perusahaan”.

Ariel Heryanto yang memberikan endorsement menyebut bahwa buku ini merupakan “jawaban kolektif terhadap sejumlah kebutuhan informasi, wawasan, dan perdebatan kritis dalam menghadapi ledakan industri media massa di negeri ini.”

Teman-teman yang tertarik dengan buku ini bisa memesan langsung ke kotaksurat@remotivi.or.id atau menghubungi Uci (081380008929)

Pers dan Revolusi Mei 1998

20150515_000729

  • Judul        : Pers dalam “Revolusi Mei”: Runtuhnya Sebuah Hegemoni
  • Penulis     : Dedy N.Hidayat, dkk
  • Tebal         : xii + 465
  • Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan    : 2000

Buku yang memuat 22 tulisan ini terbagi dalam empat bagian: konteks makro ekonomi politik di Indonesia menjelang runtuhnya Orde Baru, proses produksi dan konsumsi media, isi teks media di hari-hari terakhir lengsernya Soeharto, dan implikasi pemikiran yang muncul sebagai pembacaan atas konteks makro dan praktik media.

Pada satu sisi, banyaknya tulisan dalam buku ini memperkaya kacamata untuk melihat peran pers dalam keruntuhan rezim. Simak misalnya tulisan-tulisan yang merentang dari penjelasan tentang krisis kapitalisme global, media sebagai ideological state apparatus, pemberitaan media AS dan Australia mengenai proses demokratisasi di Indonesia, sampai peran media dalam pembentukan nasion.
Continue reading