Sabtu Pagi di Arthur’s Seat

20171230_102259

Sehari sebelum hari terakhir 2017, salju turun sebentar di puncak Arthur’s Seat. Sebentar saja, beberapa menit, tipis-tipis, sebelum berganti dengan angin kencang yang sangat dingin dan membuat tangan saya terasa ngilu. Saya duduk dan memejamkan mata, mengingat apa-apa saja yang sudah terjadi selama 2017, membayangkan apa yang mungkin bisa terjadi di 2018, kemudian berdoa. Menghirup napas panjang. Dingin.

Saya membuka mata dan melempar pandangan ke seluruh tempat yang bisa dijangkau. Di puncak Arthur’s Seat pagi itu hanya ada dua laki-laki, sepertinya dari Inggris, satu orang siap-siap mengambil foto, dan yang satu berusaha berdiri dengan menggunakan tangan. Ia melakukannya dari atas tugu penanda ketinggian Arthur Seat. Ia hampir terjatuh dan bertanya apakah temannya bisa mendapatkan foto ketika ia berdiri menggunakan tangan? Ia tidak mau melakukannya lagi. Ia menyapa saya dan bertanya barangkali butuh bantuan untuk mengambil foto.

Perempuan dari China yang tadi membantu mengambil foto saya sudah tidak ada. Cepat sekali ia turun. Ia naik berbarengan dengan saya, beberapa kali hampir terjatuh, dan saya sempat membantunya berdiri. Ia sedang kuliah International Marketing di University of Glasgow dan traveling sendirian ke Edinburgh. Ia mengeluh karena ternyata cuaca di Skotlandia jauh lebih tidak stabil dibanding di Inggris. Saya mengamini, setidaknya dari pengalaman 2 hari belakangan. Saya lupa menanyakan namanya.

Naik ke Arthur Seat hari itu butuh perjuangan ekstra. Normalnya butuh 45 menit – satu jam untuk naik. Setidaknya itu yang direkomendasikan google maps. Tapi tidak hari itu, saya butuh dua kali lipat dari waktu normal. Saya terjatuh berkali-kali. Jalanan naik benar-benar sudah menjadi es, efek dari salju tebal sehari sebelumnya. Apalagi itu masih pagi, beberapa saat setelah matahari terbit.

Salah melangkah hampir pasti kepleset. Syukur-syukur tidak terantuk batu yang siap menunggu kalau tidak hati-hati. Atau kalau memaksa diri melewati rerumputan, kalau kepleset siap-siap menabrak tanaman yang banyak durinya, mungkin seperti kaktus. Beberapa kali saya berpikir untuk menghentikan perjalanan, tapi terlalu sayang, bisa jadi nanti tidak akan ada kesempatan untuk ke sini lagi.

20171230_105951

Dalam perjalanan turun saya berpikir, perjuangan naik ke Arthur’s Seat tadi merangkum perjalanan saya sepanjang 2017, jalanan yang berbahaya, naik turun, penuh keraguan, kebingungan, ketakutan, berkali-kali memutuskan untuk menyerah, sebelum akhirnya menuntaskan perjalanan, sampai selesai. Pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu di mana ujung perjalanan jika tidak memaksa diri ke batas paling jauh yang bisa dilakukan.

2017 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi saya, menguras fisik dan mental, termasuk di antaranya pergi ke negara baru, pengalaman pertama bagi saya. Saya beruntung memiliki banyak teman yang membantu melewati tahun ini. Juga guru-guru yang memberikan nasehat-nasehat dan rekomendasinya. Banyak pengalaman baru tentu. Meski ternyata, beberapa hal ternyata sudah pernah saya pikirkan.

Seorang kawan baik menunjukkan tulisan lama saya, ternyata tujuh atau delapan tahun lalu saya pernah menulis kalau saya ingin kuliah di Inggris dan belajar mengenai media dan demokrasi. Saya benar-benar sudah melupakan tulisan itu, dan terkaget ketika membacanya sekali lagi. Semester lalu saya mengambil mata kuliah yang namanya “media dan demokratisasi”. Ternyata begitulah hidup berjalan. Di Arthur’s Seat, saya mengingat mereka. Semoga kehidupan memudahkan mereka.

Oh iya, puncak Arthur’s Seat adalah puncak yang indah. Dari atas saya bisa melihat laut, gedung-gedung kota, kastil Edinburgh, gedung parlemen Skotlandia yang mengingatkan saya pada Nicola Sturgeon, lahan-lahan kosong yang dari atas terlihat seperti sawah, di kejauhan ada gunung-gunung yang puncaknya tertutup salju, dan oh, ada stadion sepakbola yang warna utamanya hijau. Itu kandang Hibernian, tim di liga premier Skotlandia.

Arthur’s Seat memberi banyak waktu untuk merenung. Tidak lama-lama memang. Kecuali kalau kamu betah dengan dingin yang menusuk dan membuat hidung meler. Saya menghabiskan kurang lebih sekitar 30 menit di atas, dan setelah itu turun dengan rute yang sedikit berputar karena menggunakan jalan tempat saya naik tadi akan jauh lebih berbahaya. Ketika saya turun, orang-orang mulai naik. Mungkin sekitar 20an orang, beberapa bicara dalam bahasa Prancis.

Dari kejauhan sayup-sayup saya mendengar lagu Taylor Swift, Back to December. I’d go back to December, turn around and change my own mind. I go back to December all the time… Beberapa orang menyesal dengan masa lalunya, dengan apa yang ia perbuat atau tidak ia lakukan yang punya konsekuensi pada hari ini. Tapi tentu saja, tak ada yang bisa mengubah masa lalu, kecuali menjadikannya pelajaran. Kata orang Jawa, sing uwis yo uwis.

Lagu itu diputar di panggung yang dipersiapkan untuk festival Hogmonay, festival menyambut baru di Skotlandia. Hogmonay berarti hari terakhir dalam sebuah tahun. Kawan saya di Edinburgh bilang bahwa mestinya saya menghabiskan waktu di kota ini tanggal 31 saja biar bisa berjumpa dengan festival ini. Saya kira ia benar, meski sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan keramaian tahun baru dan selama ini selalu memillih menghabiskan tahun baru dengan teman-teman dekat, biasanya dengan masak-masak.

Sampai di bawah, saya melihat kembali ke arah puncak Arthur’s Seat yang tingginya 250 meter di atas permukaan laut. Bekas-bekas salju masih kelihatan. Orang-orang yang naik semakin banyak. Beberapa membawa anjingnya. Saya melanjutkan berjalan kaki dan berhenti sebentar di danau yang persis terletak di bawah jalan menuju Arthur Seat. Danau Dunsapie.

Sebagian besar air di danau Dunsapie membeku, sisa-sisa salju juga masih kelihatan jelas di tepinya. Seekor anjing mendekat ke saya, yang segera ditarik oleh pemiliknya. Di danau, satu angsa putih mencari jalan di tengah air yang beku. Di jalan di dekat danau, seorang laki-laki menebar remahan roti, burung-burung gagak segera berebutan memakannya. Ia tersenyum, saya tersenyum.

Selamat tinggal 2017, selamat datang 2018.

20171230_110831

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>