Salju, Orwell, dan mereka yang tidak punya rumah

Salju dari dalam kereta

Ini Jumat terakhir di 2017. Jumat putih. Salju turun deras sejak semalam. Laporan cuaca sudah mengingatkan bahwa salju akan mengguyur sebagian besar wilayah Inggris Raya. Mobil-mobil yang parkir di dekat rumah tertimbun salju. Rerumputan di taman kecil di depan kamar sudah tidak kelihatan bentuk aslinya. Semua putih. Di flat sebelah, salah seorang penghuninya membuka jendela, sepertinya kaget melihat di luar sudah serba putih. Kami sempat beradu pandang sebelum ia menutup gorden jendelanya.

Saya segera berkemas membereskan tas. Sudah pukul 09.00, kereta ke Glasgow sekitar 45 menit lagi. Jarak 45 menit lebih dari cukup untuk menuju stasiun Leeds. Normalnya cuma butuh waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi di luar salju masih deras. Trotoar pasti licin. Mulai agak panik, saya berpikir apa lebih baik naik bis atau Uber. Cek di aplikasi, bis akan datang lebih lama. Menggunakan uber juga bikin was-was dengan kondisi jalan yang licin. Saya putuskan buat berjalan kaki. Payung sudah disiapkan.

Sambil berjalan keluar flat, saya mengirim pesan kepada kawan di Glasgow, bertanya apakah di sana salju juga deras. Ia bilang iya. Seorang kawan yang lain yang juga tinggal di Glasgow mengunggah video salju di statusnya. Deras. Keluar flat saya mempercepat langkah, meski lebih sering memperlambatnya. Susah sekali jalan kaki dalam situasi trotoar yang licin. Tangan mulai terasa ngilu karena dingin.

Sepanjang jalan menuju stasiun Leeds seperti adegan film yang berjalan lambat. Di depan perpustakaan Laidlaw, seorang perempuan sedang merekam salju dengan telepon genggamnya. Ia tersenyum. Di dekat taman di samping tempat parkir Woodhouse Lane, seorang perempuan juga sedang memotret salju. Sesekali ia tertawa. Saya ikut tersenyum melihatnya.

Mereka sepertinya berasal dari Asia, dan saya duga, sama seperti saya, baru pertama kali melihat salju. Saya ingin mengabadikan dan memotret salju di jalan-jalan dan kampus, tapi waktu sudah memburu. Payung kecil yang saya bawa agak kewalahan menahan derasnya salju. Mobil pemecah salju membersihkan jalan raya.

Pukul 9.36, sampai di stasiun dan buru-buru menuju platform 5C. Ternyata kereta akan telat 5 menit karena petugas sedang membersihkan rel yang tertimbun salju. Saya mengikuti jejak dua perempuan tadi, mengambil telepon genggam dan merekam salju yang berjatuhan. Ini pengalaman kedua bertemu salju selama empat bulan di Inggris. Yang pertama salju jatuh sepintas lalu saja dan segera hilang. Hari ini jauh lebih tebal.

Di dalam kereta, saya membaca buku George Orwell, The Road to Wiegan Pier. Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi tentang reportase Orwell tentang kondisi kelas pekerja di daerah Lancaster dan Yorkshire sebelum pecah perang dunia 2. Orwell menghabiskan waktu berbulan-bulan di kawasan Inggris bagian utara tersebut. Di bagian kedua, Orwell mengulas panjang lebar tentang sikap politiknya, kelas menengah, dan kenapa ia menjadikan sosialisme sebagai prinsip dalam hidupnya.

Buku ini dimulai dengan cerita tentang keluarga Brookner, pemilik penginapan di mana ia tinggal selama kurang lebih dua bulan untuk reportasenya. Keluarga ini adalah tipikal keluarga kelas pekerja kaya yang memiliki toko dan penginapan yang disewakan bagi buruh atau penambang batubara. Orwell tidak suka dengan pemilik rumah tempatnya menginap itu. Bukan hanya karena fasilitas yang tidak memadai – seperti kamar tidur yang sangat sempit sehingga ia harus tidur dengan posisi kaki menekuk saking sempitnya dan harus berbagai dengan empat orang lainnya – tetapi juga sikap pak dan bu Brookner.

20171229_105349

Kata Orwell, pak Brookner adalah buruh tambang di masa mudanya namun entah kenapa ia tidak punya solidaritas terhadap buruh-buruh yang menyewa di penginapannya. Dan lagi, tampilannya jorok. Sementara bu Brookner, adalah ibu rumah tangga yang tidak bisa berjalan karena sakit. Ia juga mempunyai kebiasaan yang bikin para penghuni penginapannya merasa jijik. Salah satunya, setiap pagi ia menyediakan sarapan berupa roti lapis yang ia iris untuk dibagikan kepada para penghuni. Ketika mengiris roti itu, tangan kirinya akan memegang kue erat-erat sementara tangan kanan yang digunakan untuk memotong. Saking eratnya, bekas tangan akan terlihat di roti yang sudah diiris. Ini yang membuat Orwell jijik.

Orwell bilang bahwa tuan rumahnya hanya ingin mengambil duit tanpa peduli dengan penghuni penginapan mereka. Dan mereka lebih suka jika penghuni penginapannya semakin sedikit meluangkan waktu di rumah. Sementara, beberapa penyewa hanya bekerja paruh waktu yang membuat mereka banyak menghabiskan waktu di rumah. Salah satu penghuni yang berkesan bagi Orwell bernama Joe. Orwell sempat tertipu dengan penampilan Joe yang ia duga berusia 28, namun ternyata usianya sudah 43 tahun.

Ia adalah tipikal pengangguran di Inggris, tidak menikah dan menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan umum. Di perpustakaan, Joe akan menghabiskan seharian untuk membaca koran-koran. Dan begitu pulang ke rumah, ia akan bercerita tentang apa saja yang dibacanya, dari mulai soal astrologi, berita kriminal tentang pembunuhan, sampai debat antara agama dan ilmu pengetahuan. Kadang-kadang Orwell mendengarkan.

Selain menceritakan kehidupan para pekerja tambang, Orwell juga cerita tentang kehidupan loper koran. Menurutnya, pekerjaan loper koran saat itu sangat tidak manusiawi. Para loper koran ini biasanya dipekerjakan oleh koran yang terbit mingguan atau koran yang terbit hari minggu. Tugas mereka tidak mengantarkan koran ke pelanggan. Sebaliknya, tugas mereka adalah mencari pembeli. Setiap hari mereka dibekali peta lengkap dengan nama-nama jalan di mana mereka harus menyebar dan harus mendapatkan 20 pelanggan setiap hari. Dan setiap minggu mereka hanya mendapatkan gaji 2 pound. Itu kalau target minimal 20 pelanggan terpenuhi, kalau tidak mereka akan dipecat.

Kata Orwell, mendapatkan 20 pembeli koran itu adalah pekerjaan yang hampir mustahil. Meskipun bisa dilakukan, tetap saja antara target dan gaji yang mereka dapatkan tidak masuk akal. Sebabnya, mereka ditugaskan di daerah kelas pekerja yang tidak membeli koran secara rutin dan hanya di waktu-waktu tertentu saja.

Cerita tentang kondisi kelas pekerja di Inggris bagian utara semacam itu dikisahkan Orwell di bagian pertama buku ini. Kondisi yang mengenaskan karena hampir sebagian besar kelas pekerja harus bekerja keras namun belum tentu bisa mencukupi kebutuhan minimal dalam hidup mereka. Termasuk dalam hal memiliki rumah. Banyak yang masih harus tinggal di rumah kontrakan dan kondisinya jauh dari layak.

Membaca kisah Orwell ini, saya teringat tentang film dokumenter yang dibikin oleh Channel 4 tentang orang-orang yang tidak punya rumah yang jumlahnya belakangan semakin meningkat di Inggris. Orang-orang yang tidak punya rumah (homeless) yang dimaksud bukan berarti orang yang sama sekali tidak punya rumah dan tinggal di jalanan. Tetapi juga mereka yang punya rumah, minimal kontrakan, namun kondisinya sama sekali tidak layak untuk ditinggali.

Dalam dokumenter tersebut, ada seorang ayah yang tinggal berdua bersama putrinya di dalam rumah yang hanya terdiri satu ruangan kecil untuk tidur dan kamar mandi. Tidak ada dapur dan ruang lain juga tidak ada penghangat ruangan, sesuatu yang bisa sangat fatal apalagi di musim dingin.

Dalam Prime Minister Question, agenda rutin di mana perdana menteri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anggota parlemen, ketua partai buruh Jeremy Corbyn bilang bahwa kenaikan drastis angka orang yang tidak punya rumah sebagai efek dari kebijakan austerity pemerintah partai konservatif dan menyebutnya sebagai “national disgrace”.

Selama kurang lebih empat bulan di Inggris, saya banyak sekali menemui orang-orang yang tidak punya rumah. Di London, Leeds, Liverpool, Manchester, Edinburgh, Glasgow, York. Mereka tidur di pinggir jalan, di kolong jembatan, di taman, di depan supermarket. Ketika di Manchester, dalam waktu kurang dari lima menit saya didatangi dua orang homeless. Mereka menyapa saya ramah, meminta maaf mengganggu waktu saya, dan kemudian memperkenalkan diri dan meminta uang receh. Saya bilang saya tidak bisa membantu mereka.

Pikiran saya melayang-layang. Dari kereta api yang melaju, saya melihat anak-anak yang sedang bermain salju. Wajah-wajah yang penuh sukacita. Di Carlisle, saya turun dan berganti kereta ke Glasgow. Sejam kemudian saya sampai di kota terbesar di Skotlandia itu, kota yang ditutupi salju tebal. Tangan terasa perih kedinginan, dan saya mengambil kaos tangan.

Sementara Orwell, usai menuntaskan reportasenya untuk buku The Road to Wigan Pier, naik kereta untuk kembali ke London. Dan dalam perjalanan, di sebuah perumahan kumuh, kereta melaju pelan. Ia melihat seorang perempuan yang sedang memperbaiki pipa yang mengalirkan kotoran keluar rumah. Kata Orwell, wajahnya terlihat lelah dan kedinginan tapi ia tetap harus bekerja. Itu musim dingin 1936, salju turun pelan.

20171229_170810

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>