Seperti Teman Lama Datang Bercerita

Pramugari Qatar Airways mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Heathrow, London. Saya lega. Setelah 15 jam penerbangan ditambah 3 jam transit di Doha, akhirnya sampai juga di Inggris. Semakin lega karena pramugari memberitahu bahwa cuaca di London saat itu 14 derajat celcius. Tidak jauh berbeda dengan cuaca rumah di malam-pagi hari, jadi saya merasa akan baik-baik saja dengan cuaca yang sebelumnya bikin saya khawatir.

Setelah melalui pintu imigrasi dan menunggu koper yang lumayan lama, Nia, seorang teman baik, sudah menunggu di pintu keluar. Masih di dalam bandara, saya merasa cuaca masih baik-baik saja. Baru kaget ketika turun ke underground terminal 4 Heathrow buat naik kereta. Anginnya kencang sekali. Mendadak saya menggigil, lantas bertanya kepada Nia, “ini ac bandara apa angin di luar?” Pertanyaan yang kemudian saya tahu sendiri jawabannya. London memang dingin, dan saya harus segera menyiapkan diri menghadapinya.

Di dalam kereta, masuk tiga orang yang sepertinya ayah, ibu, dan anak. Mereka membawa beberapa koper. Saya masih bercerita mengenai banyak hal dengan teman saya ketika si perempuan dewasa dari tiga orang tersebut menelpon keras-keras. Yang cowok mendesis kencang, menyuruh si perempuan buat memelankan suara. “Pssssstttttt!!!”. Adegan itu berulang beberapa kali dan bikin penumpang lain termasuk kami sampai menoleh. Si cowok kemudian pindah kursi, menjauh dari perempuan dewasa dan anak kecil yang tadi bersamanya. Melewati tempat duduk kami, ia meminta maaf karena kopernya hampir kena kaki saya.

Melewati kurang lebih sebelas stasiun, kami turun di Turnham Green. Dinginnya sudah mulai menusuk tulang. Itu jam lewat jam 11 malam. Dari stasiun kami berjalan kaki melewati taman Acton Green. Genangan air mewarnai jalanan, roda koper saya beberapa kali melindas air, rumput di taman basah. London barusan hujan. Saya teringat Cormoran Strike, tokoh detektif dalam novel JK Rowling The Cuckoo’s Calling. Saat sedang menyelediki kasus pembunuhan, ia berjalan di dekat taman selepas hujan dalam suasana yang muram. Suasana itu yang saya rasakan ketika melewati taman. Barangkali karena masih belum sadar sudah sampai di London. Di penginapan saya tertidur pulas sampai pagi.

Hari pertama di London, saya bakal sendirian dan belum ada nomor telepon yang bisa dipakai. Karena masih serba terbatas dan teman saya tidak bisa menemani karena ada acara, saya memutuskan berjalan kaki keliling kompleks. Sebelumnya saya sempat googling dulu dan mencatat nama-nama jalan barangkali nanti tersesat.

Tujuan pertama saya adalah ke Southfields Playing Fields yang kalau dari google maps berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari tempat saya menginap. Saya siapkan novel Seorang Laki-Laki yang Keluar dari Rumah Puthut EA yang saya bawa dari rumah. Saya berencana menuntaskannya di taman setelah gagal menuntaskan di penerbangan Jakarta-Doha dan Doha-London. Di penerbangan tersebut saya lebih berminat menghabiskan waktu menonton film. Saya menonton ulang 500 Days of Summer. Berkali-kali ditonton, tetap saja bikin galau. Ah.

Di lapangan Southfields, sudah banyak orang yang berolahraga. Ada yang badminton, tenis meja, basket, mengajak anjing-anjing bermain, ada juga anak-anak yang bermain di taman khusus buat anak di bawah 14 tahun. Hanya tersisa bangku kosong di pertigaan jalan setapak di tepi lapangan. Saya duduk di sana dan mulai membaca. Konsentrasi membaca beberapa kali terpecah. Persis di depan saya, anak-anak perempuan sedang mengumpulkan sisa-sisa rumput taman yang barusan dipotong. Mereka menyusunnya jadi orang-orangan, sebuah keluarga. Setelah selesai dibentuk jadi beberapa orang-orangan, salah seorang di antara anak-anak tersebut mengambil kamera dan memoto rumput-rumput tersebut. “Ini kakeknya, itu cucunya, yang sebelah sana ibunya..” Saya mencuri dengar obrolan anak-anak tersebut.

Saya lanjut membaca kembali dan tiba di halaman 200 novel baru Puthut tersebut:

Banyak orang terganggu dengan rasa waswas dan takut. Bagiku, kedua hal itu justru harus ada di diri seorang manusia. Sebab, keduanya adalah alarm sejati kita untuk mengenali marabahaya. Begitu keduanya lenyap, maka sebagian persenjataan kita untuk bertahan hidup lenyap juga. Bukan hal yang baik.

Ini menjelaskan dengan baik perasaan saya 1-2 tahun belakangan. Ketika berbagai harapan berjalan beriringan terus dengan ketakutan demi ketakutan. Pada akhirnya itu semua harus dihadapi.

Beberapa saat kemudian saya kaget karena ada anak muda yang tiba-tiba duduk di samping saya. Awalnya saya tidak menengok, tapi saya mendengar ia tertawa kencang, dan beberapa saat kemudian menangis sesenggukan dan ngos-ngosan. Sepertinya ia sedang mabuk. Saya rada was-was. Orang ini kemudian bertanya ke saya. “Excuse me, what is the time, what is the time..” Suaranya agak tertahan, serak, dan matanya mendelik. Saya cuma jawab pendek sambil menunjukkan jam tangan. Jam enam pas, mas (yakali saya jawab dalam bahasa Indonesia). Ia kemudian pergi sambil tertawa-tawa, jalan pelan, lantas lari.

Beberapa saat kemudian datang lagi anak kecil, “excuse me, do you see, mm, mmm, around six kids blab la bla.. Saya bingung yang ia maksud yang mana. Secara di taman ada puluhan anak. Saya jawab tidak tahu dan ia kemudian bermain sendirian di ayunan. Sepertinya ia ditinggal teman-temannya. Menyebalkan memang kalau ditinggal teman seperti itu.

Setelah dua jam duduk di lapangan Southfields, saya memasukkan buku ke dalam tas dan berencana ke taman Acton Green yang saya lewati malam sebelumnya. Angin mulai kencang. Betis saya mulai terasa ngilu. Sementara di beberapa bagian tubuh rasanya seperti pecah-pecah. Saya paksa buat tetap jalan dan memaksa agar badan bisa beradaptasi lebih baik. Setelah jalan kaki kurang lebih 4-5 jam, saya pulang. Di rumah, sesekali saya membuka media sosial. Newsfeed penuh dengan takbiran, di sini tidak terasa apa-apa.

Keesokan harinya, Donu, mahasiswa yang sedang kuliah di Imperial College mengajak saya solat id di Masjid An Noor di Acton. Kami naik bis. Donu menjelaskan ke saya cara naik bis dan jurusan-jurusan ke mana saja sambil menyarankan saya mengunduh aplikasi city mapper agar tidak tersesat di London. Di masjid, orang-orang sudah rami. Donu menjelaskan bahwa solat id dibagi kloter-kloter. Dari jam 7 sampai jam 10. Saya menganggukan kepala dan nyeplos, “di sini lebaran gak kerasa ya.” Donu tertawa. Di dalam mesjid, ada satu orang yang sempat berteriak-teriak mengingatkan jamaah buat maju. “Ayo maju, di belakang kasihan masih banyak orang berdiri.”

Setelah solat, kami pulang. Saya membuka hp, beberapa orang, termasuk juga Donu, bertanya soal jetlag. Saya jawab sepertinya saya tidak jetlag karena sudah bisa tidur nyenyak. Dua hari pertama di London seperti seorang teman lama yang datang bercerita. Selain soal dingin, saya tidak merasa asing dan nyaman. Perasaan yang saya harapkan bakal serupa nanti di Leeds, dan tentu saja selama di Inggris..

*Judul tulisan ini terinspirasi dari judul pengantar Andreas Harsono di buku Jurnalisme Sastrawi

20170831_193516

One thought on “Seperti Teman Lama Datang Bercerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>