Si Unyil dan Anak-Anak Orde Baru

mbuh nyil

Saya Sasaki Siraishi dalam bukunya Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik (2001) pernah mengatakan bahwa Orde Baru memerintah negara dengan membayangkan bahwa Indonesia adalah sebuah keluarga besar. Selayaknya sebuah keluarga, di dalamnya ada para anggota seperti “anak”, “bapak”, dan “ibu”. Sementara Suharto sebagai presiden adalah seorang supreme father (bapak tertinggi).

Dalam jalinan keluarga yang dibayangkan itu, harmoni dan keselarasan adalah sebuah keharusan. Karena itu seorang anak, misalnya, tidak boleh membangkang dan harus mengikuti apa yang dikatakan oleh orang tua. Seorang anak harus mengamalkan berbagai nilai-nilai yang dianut oleh sang bapak tertinggi. Bagaimana caranya? Salah satunya, dengan indoktrinasi melalui tayangan serial televisi Si Unyil.

Tayang pertama kali pada 5 April 1981 di TVRI, Si Unyil menunjukkan gambaran bagaimana anak-anak di masa Orde Baru dibayangkan rezim. Serial ini, sebagaimana dijelaskan oleh Philip Kitley dalam Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca (2001) menjadi teladan dan standar bagi anak-anak Indonesia untuk bersikap dan bertindak.

Si Unyil mengudara setiap hari minggu pagi. Latar belakang ceritanya adalah sebuah desa fiktif bernama Suka Maju. Seperti diungkapkan oleh Suyadi, pencipta Si Unyil, latar belakang desa dipilih karena dianggap mencerminkan kondisi mayoritas penduduk di Indonesia. Penghuninya pun beragam seperti Meilani dari Tionghoa, Pak Raden yang mewakili orang Jawa, Bu Bariah dengan logat Madura, Bang Togar dari Medan, dan sebagainya.

Jalan ceritanya memiliki rumus tetap di setiap episode. Di akhir setiap episode, aka nada penutup atau narasi yang menyimpulkan cerita. Hampir dalam setiap ceritanya, yang sering melakukan banyak pelanggaran adalah tokoh orang dewasa. Itu dilakukan untuk mengkondisikan bagi anak-anak agar berpikir dan berperilaku sebaliknya. Misalnya saja, meski Unyil kadang nakal, karena sudah dirancang sebagai model ideal teladan anak-anak, ia tidak pernah melakukan kejahatan seperti mencuri. Yang akan disalahkan adalah teman-temannya yang lain atau orang dewasa seperti Pak Raden atau Pak Ogah.

Hal ini wajar jika mengingat serial Si Unyil memang berisi pesan-pesan paternalistik ala Orde Baru (Kitley, 2001: 117-123). Tokoh-tokoh yang ada di dalamnya tidak diposisikan sebagai individu melakukan sebagai anggota komunitas. Itu sebabnya tokoh Unyil, misalnya, hampir selalu muncul berbarengan dengan dua temannya yang lain yang namanya hampir mirip yaitu Usroh dan Ucrit.

Meski diproduksi oleh Pusat Produksi Perfilman Negara (PPFN), sumber dana produksi Si Unyil tidak hanya berasal dari sana. Sumber dana lainnya adalah TVRI, departemen-departemen pemerintahan, dan Angkatan Bersentara Republik Indonesia. Cerita sebuah episode menyesuaikan kepada siapa yang mendanainya. Ketika didanai ABRI, episode-episodenya berjudul “ABRI Masuk Desa”, “Hidup ABRI”, “ABRI Menang”, “ABRI Kita”, dan sebagainya.

Beberapa tahun setelah tayang, Si Unyil dinilai sukses oleh pemerintah Orde Baru. Ia bahkan sampai dimasukkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Lima Tahun IV 1984-1989. Acara-acara film untuk anak-anak seperti Si Unyil dan Huma akan dilanjutkan dan dimanfaatkan lebih lanjut demi penanaman nilai-nilai P-4 kepada generasi muda (Repelita IV, 1984:519).

Namun dalam perkembangannya, pesan-pesan indoktrinsasi berlangsung semakin vulgar dan sangat menggurui. Seperti diungkapkan Kitley, Si Unyil menjadi proyeksi pembangunan nasional dan semakin jauh dari hiburan anak-anak. Itu justru membuatnya ditinggalkan masyarakat. Si Unyil berhenti tayang pada tahun 1993 di episode 603.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>