Surat Untuk Deok-sun

AW

Deok-sun, semoga kamu baik-baik saja bersama Taek. Dunia sedang tidak baik-baik saja dan tidak banyak hal yang bisa kita lakukan selain berbagi harapan dan doa.

Mungkin surat ini mengganggumu, tapi semoga saja tidak. Dan aku Taek tidak akan terganggu. Toh selama puluhan tahun kita bersahabat, aku sama sekali belum pernah mengutarakan perasaanku secara terbuka. Atau, cuma satu kali. Itupun aku mengakalinya dengan berpura-pura karena ditantang Dong-ryong. Yang kamu pahami bisa jadi tetap sama seperti dulu, bahwa aku adalah Jung-hwan yang menyebalkan dan gengsian.

Deok-sun, aku masih mengingat dengan baik bagaimana perasaanku kepadamu itu muncul. Kita –  bersama Taek, Dong-ryong, Sun-woo – berteman sejak kecil, berbagi makanan, mainan, kamar tidur, dan kadang buku-buku pelajaran. Berlima kita tumbuh di lingkungan yang penuh keakraban. Kecil tetapi hangat.

Kamu ingat waktu masing-masing orang tua kita meminta kita mengirim makanan ke rumah satu sama lain? Aku mengantar Kimchi ke rumahmu dan meminta nasi kepada ibumu, ibunya Sun-woo memberikan jeruk ke rumahku, kamu mengantarkan salad sayur ke rumah Dong-ryong, lalu yang paling banyak mendapatkan makanan adalah Taek dan ayahnya. Kita akan merasa kesal dengan polah orang tua kita dan menggumam: kenapa tidak makan bareng saja sekalian?

Kita sendiri menikmati masa-masa pertemanan dengan penuh. Sering nongkrong di warung di pojokan gang, lari-lari sepanjang jalan, penuh tawa. Kadang sesekali juga menangis, dan siapa lagi biang keroknya kalau bukan kamu? Kamu ingat membuat Taek jatuh dan meninggalkan bekas luka di kepalanya? Bekas luka yang tidak bisa hilang sampai sekarang. Kamu sejak kecil tomboi banget.

Tapi dari tingkah polahmu itulah semua orang bisa tertawa lepas. Meski kami sering mengejek wajahmu jelek, tapi tentu saja semua setuju bahwa kamu orang yang baik dan peduli. Kamu orang yang bisa bikin orang tersenyum dan menghiburkan kami semua di saat-saat terburuk.

Dan dari situ, dari kepedulian-kepedulian kecil yang kamu tunjukkan ke teman-temanmu, rasa sayangku tumbuh. Aku jatuh cinta. Kadang aku merasa sedih, sejak dulu aku percaya bahwa jatuh cinta dengan teman sendiri itu tidak baik. Harga yang mesti dibayar terlalu mahal kalau perasaan semacam itu diteruskan.

Karena itu aku berusaha menutupi perasaanku, berharap tidak ada orang yang tahu dan semoga satu hari nanti ada waktu yang tepat. Aku berharap semesta membantuku. Namun perasaan itu menggelinding setiap waktu. Seperti bola salju yang pernah kita bikin bersama, semakin kita gelundungkan ia semakin membesar, lalu biasanya kita susun menjadi manusia salju.

Berulang kali, rasanya aku ingin mengungkapkan perasaanku. Tersiksa sekali menahan perasaan. Berulang kali juga aku memilih diam, berpura-pura kesal dengan tindakan-tindakan konyolmu, yang sebenarnya membuatku perasaanku hangat. Rasanya aku bangga sekali waktu kamu terpilih mewakili sekolahmu untuk membawa plang negara di pembukaan Olimpiade Seoul 1988. Itu event penting dan kamu akan membawa wajah negara kita di seantero dunia.

Rasanya aku ingin memelukmu dan memberikan semangat, tapi apa yang bisa kutunjukkan? Aku malah menertawakanmu ketika kamu berusaha keras latihan di halaman rumah. Menertawakan dandananmu yang menor banget. Aku minta maaf buat itu. Juga buat sikapku yang pura-pura gengsi. Aku tidak tahu bahwa kamu saat itu sengaja berangkat ke sekolah pagi-pagi hanya agar bisa berangkat bareng aku. Seandainya aku tidak gengsian, tentu dengan senang hati aku akan berangkat lebih siang biar kamu tidak mengurangi waktu tidurmu. Bagaimanapun juga aku tahu kamu anak yang doyan tidur, hehe.

Deok-sun, tahukah kamu aku patah hati saat pertama kali tahu bahwa kamu memendam perasaan ke Sun-woo? Mungkin kamu tidak tahu, karena kamu juga tidak pernah bercerita. Aku pertama kali tahu dari kartu posmu ke radio Ssangmun-dong yang tidak terkirim. Kamu menulis surat, menceritakan kamu jatuh cinta dengan temanmu, dan kamu memberikan inisial: SW. Siapa lagi? Dasarnya kamu polos, kartu pos itu tidak terkirim karena kamu tidak menempelkan perangko. Jadi aku menempelkannya, meski perasaanku tidak karuan saat itu.

Semakin tidak karuan ketika kita makan bareng di rumah Taek. Kukira kamu mengingatnya dengan baik. Sun-woo sedang bercerita bahwa ia sudah dua tahun memendam perasaan ke temannya. Dan kamu, wajahmu, berbunga-bunga. Sekonyong-konyong kamu meminta ke Sun-woo untuk mengutarakan perasaannya ketika salju pertama turun. Kamu yakin Sun-woo jatuh cinta kepadamu, dan saat itu aku patah. Di depan semua orang, tentu saja, aku berusaha tersenyum.

Hari-hariku kemudian terasa aneh dan asing. Apa yang harus kulakukan kalau nanti kalian jadian? Apa aku jarang ikut ngumpul saja di rumah Taek dan pura-pura fokus belajar? Kalian berdua sahabatku, aku paham kalau kalian saling mencintai dan memutuskan berpacaran. Aku akan memendam perasaanku. Bagaimanapun, sahabat mesti diletakkan di atas relasi asmara.

Dan tibalah malam itu, salju pertama di musim dingin 1989. Kakakku mengingatkanku bahwa di luar turun salju. Aku spontan membuka jendela kamar. Harap-harap cemas melihatmu. Ternyata Sun-woo yang kelihatan berjalan kaki menuju rumahmu. Perasaanku acakadut, tidak karuan. Besok pagi aku harus memasang muka senyum meski hatiku terluka. Adegan demi adegan berikutnya sungguh sulit kupahami. Tidak lama dari rumahmu, Sun-woo keluar. Beberapa menit kemudian kamu sedikit berlari dan berteriak memanggilnya.

Kamu menangis. Aku memutuskan keluar rumah dan bersembunyi di balik gerbang sambil mendengarkan kamu marah-marah kebingungan dan bertanya kenapa Sun-woo mencintai Bo-ra. Aku kaget. Ternyata Sun-woo tidak jatuh cinta kepada Deok-sun tapi kepada kakaknya! Setelah marah-marah kamu memutuskan kembali ke rumah dan dengan kencang membanting pintu gerbang sampai terkena hidungku yang sedang bersembunyi di belakangnya. Tapi tidak ada rasa sakit. Aku tersenyum. Hatiku hangat.  Salju turun semakin deras.

Deok-sun, aku minta maaf karena saat itu aku justru senang ketika kamu sedang patah hati. Mungkin aku egois, tapi saat itu aku cuma kepikiran kalau aku masih punya kesempatan untuk menyayangimu. Kesempatan yang sayangnya kusia-siakan terus-menerus. Aku tetap gengsi untuk bilang sayang ke kamu. Sampai saat kita sudah lulus, berpisah di persimpangan jalan tujuan, bahkan ketika kita reuni tahunan menyambut pernikahan Sun-woo dan Bo-ra, aku selalu menyia-nyiakan kesempatan.

Dan saat itulah aku patah hati sekali lagi. Sebenarnya aku tahu bahwa Taek sudah mencintaimu sejak lama. Suatu sore, ketika kamu sedang ke kamar mandi, Taek bilang dan mengaku kepada kami bahwa dia suka sama kamu, “sebagai perempuan, bukan sebagai teman.” Aku terpukul. Sialan. Kenapa harus Taek dulu yang bilang. Kalau begini caranya aku terlihat akan menyaingi temanku sendiri kalau aku bilang juga sayang kamu. Waktu berlalu dan kita segera sibuk dengan hidup masing-masing. Aku sungguh-sungguh mengejar cita-citaku menjadi pilot, dan kamu sebagai pramugari. Taek tetap menjadi pemain baduk yang jenius, Dong-ryong membuka warung makan, dan Sun-woo kuliah di kedokteran.

Aku menyesal sudah menyia-yiakan kesempatan sekali lagi. Mestinya, saat kita reuni, sebelum Taek menyusulmu ke bioskop, aku bilang sayang ke kamu. Tapi gengsiku terlalu besar. Aku menahan diri dan terlalu banyak berpikir. Kamu tahu, dari keterlambatanku menyusulmu ke bioskop itu aku merasa mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan.

Deok-sun, takdir ternyata hanya perkara ketepatan waktu. Seandainya aku lebih cepat memutuskan pilihan, tidak overthinking, lampu merah tidak banyak menyala, aku yakin akan berani mengungkapkan perasaan kepadamu, saat itu. Seandainya aku tidak gengsian, bahkan aku bisa jauh lebih dulu bilang sayang. Tapi barangkali seperti itulah cara semesta berjalan.

Aku patah hati. Tapi sekaligus di saat yang bersamaan aku bahagia, dua sahabatku, yang kukenal dengan baik dari kecil, menikah. Tidak ada perasaan yang menggembirakan selain melihat sahabat kita bahagia bersama orang yang menyayangi dan disayanginya. Karena itu aku ikut berbahagia buat kalian.

Aku berharap satu hari nanti setelah pagebluk corona ini selesai dan kita bisa melewatinya, ada kesempatan kita bareng-bareng reunian di Ssangmun-dong. Sekadar menengok masa kecil kita, masa yang membentuk kita hari ini. Semoga.

Sahabatmu,

Jung-hwan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>