Balairung dan Berita Pemerkosaan

Screen Shot 2018-11-08 at 03.26.56

*Untuk teman-teman yang mengecam berita BPPM Balairung UGM tentang kasus pemerkosaan*

Admin twitter AJI Surabaya menyebut berita Balairung sebagai “koplak”, dan, sambil mengutip kode etik jurnalistik, “tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi”. Sementara beberapa komentar lain menyebut bahwa berita Balairung mirip cerita porno stensilan yang “menjadikan duka korban sebagai sumber jualan klik”, “pembaca tidak mau tahu soal cerita bagaimana korban diperkosa”. Balairung juga disebut sebagai “media berotak dangkal” dan “aktivis yang sok heroik”.

Balairung sudah memberikan tanggapan berbagai tuduhan itu dengan sangat baik. Tanggapan itu memperkuat berita tentang pemerkosaan yang merupakan salah satu karya jurnalistik terbaik (tidak hanya pers mahasiswa tetapi juga di media arus utama) yang saya baca tahun ini. Bravo buat Balairung.

Continue reading

Meruntuhkan Mitos Penjajahan 350 Tahun

  • Judul              : Bukan 350 Tahun Dijajah
  • Penulis           : G.J. Resink
  • Penerbit         : Komunitas Bambu
  • Tebal               : xxxiv + 366 halaman
  • Cetakan          : 2012

Historiografi eropasentris dalam sejarah Indonesia ternyata telah melanggengkan mitos yang bertahan lama: “Belanda menjajah Indonesia 350 tahun”. Mitos yang sengaja diciptakan sebab pemerintah kolonial Belanda membutuhkan legitimasi historis politis untuk mempertahankan dan memperluas daerah jajahannya.  Mitos penjajahan ratusan tahun ini seperti hendak mengafirmasi arogansi Gubernur Jenderal BC de Jonge tahun 1936 yang berkata, “kami akan tinggal di sini 300 tahun lagi!”

Kita sama-sama tahu sesumbar itu tidak pernah terbukti. Namun celakanya, mitos yang dibuat oleh sejarawan kolonial tersebut direproduksi rezim penguasa pascakolonial yang tuna sejarah. Terutama di era Orde Baru, sejarah hanya dipahami sebagai perkara waktu dan peristiwa seperti tercantum dalam buku-buku pelajaran maupun teks pidato para pejabat. Tak perlu heran jika masyarakat memahami peristiwa sejarah sebagai teks yang beku dan tak ada relevansinya dengan kondisi kekinian. Continue reading