Jurnalisme dan Autokritik

Karena-Jurnalisme-Bukan-monopoli-wartawan-depan

*Pengantar buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

MEMBACA tulisan-tulisan Rusdi Mathari tentang media adalah ikhtiar merawat jurnalisme dengan kritik. Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Dalam kondisi tersebut, kritik menjadi hal yang cukup penting.

Kritik menjadi upaya untuk menilai sejauh apa media menjalankan praktik jurnalistiknya. Tidak hanya berkaitan dengan akurasi sebuah berita, lebih dari itu, membaca apa yang tersembunyi di balik berita. Dengan begitu kritik sekaligus menjadi upaya agar media tetap berada di jalur yang tepat dalam menjalankan fungsi imperatifnya di era demokrasi baik sebagai watchdog atau sebagai pilar keempat. Di alam kebebasan pers, ketika media bebas untuk melakukan kritik atas kekuasaan, media juga harus siap dan mau dikritik.

Problemnya, kritik terhadap media di Indonesia adalah sesuatu yang langka. Sulit untuk melihat atau membaca kritik media yang dilakukan dengan serius, konsisten, dan pada tahap selanjutnya: berpengaruh. Ada lapis-lapis problem yang menyebabkan kelangkaan itu terjadi. Beberapa di antaranya:

Continue reading

The media and lessons from the election

20140823_174921 The presidential election is moving closer to a finale now that the Constitutional Court is hearing the challenge of the losing Prabowo Subianto-Hatta Rajasa candidate pair, but there are many things that we can learn from and discuss about the role of the media in this year’s race for the presidency. It is obvious that the mainstream media, both print and television, were biased toward presidential candidates because of the political affiliation of the media owners. We also saw smear campaigns sponsored by publications, such as Obor Rakyat, hide behind journalism; television station offices came under attack by members of a political party in protest of news report that they deemed inaccurate; and the media endorsed a certain candidate pair as shown by The Jakarta Post. The media plays two basic functions during elections. First, it provides basic information about presidential election mechanisms to provide information on the track record of each candidate. That kind of information is considered the basis for citizens to determine their political preferences. Continue reading

Serikat Pekerja Media Adalah Kebutuhan!

(Ketika sedang membuka file di laptop, saya menemukan tulisan yang saya tulis setahun lalu ini setelah diskusi film Di Balik Frekuensi. Saya tayangkan di blog karena masih relevan dengan kondisi hari ini) 

“Saya akan perjuangkan kamu bekerja kembali di Metro TV. That’s my word!” Suara Surya Paloh terdengar keras. Sementara duduk di hadapannya, Luviana yang mengenakan kaos berwarna putih tertegun. Matanya berkaca-kaca. Barangkali juga merasa lega. Kata-kata tersebut seolah menjadi garansi untuk kembali di bekerja di media yang telah memecatnya secara sepihak.

Sebagai catatan, ia sudah hampir sepuluh tahun bekerja di sana. Pertemuan yang berlangsung 5 Juni 2012 tersebut direkam Ucu Agustin dan ditampilkan dalam film Di Balik Frekuensi. Hingga kini, Luviana tidak pernah diterima kembali bekerja di Metro TV. Surya Paloh mengingkari kata-katanya sendiri. Luviana adalah asisten produser di stasiun televisi berlambang burung elang tersebut. Sejak 2011, ia beserta beberapa produser memprotes tentang kesejahteraan karyawan yang dirasa memprihatinkan. Sistem penilaian kerja yang tidak jelas membuat ketiadaan indikator objektif untuk mengevaluasi kinerja seorang karyawan. Penilaian hanya didasari pada suka tidak suka. Standar yang bias semacam ini berakibat pada terhambatnya jenjang karir termasuk penyesuaian gaji karyawan. Continue reading