Buku-Buku yang Saya Baca Tahun 2015

Buku Yang Kubacaa

Seperti tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, buku yang saya beli tahun ini lebih banyak dari buku yang saya baca. Ada banyak buku yang sampai sekarang masih bersih karena belum saya baca sampai selesai. Beberapa masih terbungkus plastik. Bahkan sering saya lupa apakah sudah membeli sebuah buku atau belum ketika jalan-jalan ke toko buku. Yang pasti, tahun ini saya lebih banyak membeli buku-buku lawas di toko buku daring yang begitu banyak di Facebook.

Ada sekitar 80-90 buku yang saya baca tahun 2015. Lebih dari setengah dari jumlah tersebut adalah buku-buku tentang kajian media dan komunikasi. Tentu saja tema yang saya minati, selain karena tuntutan pekerjaan. Tema-tema lain jelas sastra, sepakbola, politik, sejarah, agama, juga biografi. Tapi dari jumlah tersebut tidak saya baca sampai tuntas, ada yang saya baca sampai habis, ada yang saya baca hanya sampai separuh halaman, ada juga yang saya baca secara sekilas karena merasa kecele dengan isi buku. Jadi kalau diperas, ada sekitar 50 buku yang saya baca tuntas. Berarti rata-rata 2 buku per bulan.
Continue reading

Merumuskan Identitas dan Kenikmatan

ariel heryanto

Salah satu alasan kenapa saya suka melakukan perjalanan dengan kereta adalah karena saya jadi punya banyak waktu untuk membaca buku. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya menuntaskan buku baru Ariel Heryanto: Identitas dan Kenikmatan, Politik Budaya Layar Indonesia.

Buku ini berisi tentang bagaimana kelas menengah, terutama di lingkungan perkotaan, merumuskan dan mencari identitasnya di dekade yang menawarkan berbagai kebebasan, sekaligus juga ketakutan. Proses pencarian identitas tersebut bisa dilihat dari representasi dan peran serta kelompok tersebut dalam budaya layar, baik itu televisi, film, dan tak terkecuali media sosial. Dari sana kita juga bisa melihat bagaimana peran teknologi media dalam kontestasi perebutan tafsir mengenai Islam, sentiment anti-Tionghoa, demam K-Pop, termasuk juga selebritisasi politik di Indonesia.
Continue reading

Pasang Surut Pers di Era Orde Baru

  kover buku pers di era orde baru

  • Judul Buku    : Pers di Masa Orde Baru
  • Penulis           : David T.Hill
  • Penerbit          : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Tebal               : xix + 231
  • Cetakan          : Juli 2011

Pembredelan demi pembredelan menyusun sejarah pers di era Orde Baru. Pembredelan pers menunjukkan kontradiksi dalam demokrasi yang selalu digembar-gemborkan oleh Soeharto. Aturan konstitusi digunakan sebagai alat untuk mengekang kebebasan menyampaikan pendapat. Pers yang melakukan kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim dibungkam. David T. Hill mencatatnya.

Seperti dijelaskan oleh Hill dalam buku ini, rezim Orde Baru sejak awal berdirinya telah melakukan pembungkaman sistematis terhadap pers. Pasca gonjang-ganjing politik pada bulan Oktober 1965, 46 dari 163 surat kabar ditutup dengan paksa. Ratusan wartawan yang berafiliasi dengan komunis dan kaum “kiri” dipecat dari keanggotaan di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Mereka bahkan ditangkap dan diinterogasi oleh aparat. Pembersihan besar-besaran terhadap pers dari unsur “kiri” dilakukan oleh pemerintah. Continue reading